Tentang ASAS

Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) merupakan sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan Civitas Akademika Unversitas Pendidikan Indonesia (UPI). Lalu biasa disebut dengan ASAS UPI atau ASAS saja. ASAS digagas dan didirikan secara resmi oleh Wan Anwar, Doddy A. Fawzy, dan Deden Abdul Azis pada 12 Desember 1991. Pada awalnya ASAS bernama ASAS Zenith, nama Zenith berasal dari sebuah nama bidang teater di Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMJ Diksatrasia), dulu masih IKIP Bandung.

Merasa butuh ruang gerak dan logistik yang lebih untuk mengembangkan dan menggerakkan sastra di IKIP Bandung Tiga Serangkai (Wan Anwar, Doddy A. Fawzy, dan Deden Abdul Azis) membuat langkah strategis dengan mengajukan Zenith sebagai UKM sastra di tingkatan universitas. Kemudian UKM tersebut diberi nama ASAS Zenith. Namun pada perkembangannya nama Zenith di belakang ASAS tidak diimbuhkan lagi.

Pada awal berdirinya, ASAS hanya berkutat pada Tiga Serangkai tersebut, mulai dari ketua sampai anggota. Dalam setiap kegiatan siapa yang punya gagasan dia yang berhak membubuhkan tandatangan sebagai ketua untuk mengajukan anggaran biaya kepada pihak universitas. Kenakalan-kenakalan khas mahasiswa memang kerap kali mereka lakukan. Tapi, tentunya untuk hal yang baik-baik saja dan untuk kepentingan mengembangkan organisasi.

ASAS dihuni kebanyakan oleh mahasiswa UPI dan beberapa mahasiswa dari luar UPI juga peminat sastra di sekitar Bandung yang tidak menyandang status sebagai mahasiswa. Jadi intinya, siapa yang mau bergabung dengan ASAS asal suka sastra, ayo aja. Karena walau secara de jure ASAS merupakan UKM di UPI, namun sebagai komunitas sastra ASAS juga bisa dikatakan fleksibel. ASAS lebih luwes sehingga tidak menutup kemungkinan bagi siapa saja yang mau bergabung.

Selama ini banyak anak muda yang berdatangan ke ASAS untuk ikut bergabung terutama karena ketertarikan mereka terhadap dunia sastra. Dan kedatangan mereka dimungkinkan karena karya-karya anggota ASAS seringkali muncul di media massa lokal mau pun nasional sehingga menarik perhatian orang di luar kampus UPI. Uniknya, keanggotaan ASAS berlaku seumur hidup.

Sebagai UKM juga komunitas sastra fokus kegiatan ASAS adalah bersastra. Maksudnya, ASAS mengkhususkan diri sebagai sebuah komunitas yang bergerak dalam bidang sastra, baik dari kepenulisan mau pun dalam bentuk apresiasi yang lain, seperti ekspresi (baca puisi, dramatisasi, musikalisasi, dll.). Namun demikian ASAS tidak menutup kesempatan bagi anggota yang ingin menulis hal lain di luar sastra, misalnya menulis artikel tentang persoalan pendidikan, sosial-politik atau bahkan olahraga. Karena pada dasarnya ASAS memberikan fasilitas kepada anggota untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang tulis menulis. Akan tetapi prioritas utama adalah menulis sastra.

Selain mengembangkan kemampuan menulis ASAS juga selalu mengadakan kegiatan diskusi rutin setiap satu kali dalam seminggu yang biasanya diadakan hari Rabu. Oleh karena itu forum diskusi itu pun diberi nama “Diskusi Reboan”. Dalam Diskusi Reboan, anggota ASAS mendiskusikan mengenai berbagai hal tentang sastra, mulai dari dasar ilmu sastra sampai isu-isu sastra kontemporer. Selain itu juga seringkali diadakan “sidang karya”. Dalam sidang karya ini forum diskusi menilai kualitas karya anggota yang diajukan kepada forum. Dan tentu saja sering terjadi “pembantaian” karya pada sidang karya ini. Maka tak jarang setelah sidang karya, anggota yang dibantai karyanya kemudian lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas karyanya, tapi tak sedikit pula ada yang enggan mengajukan lagi karya untuk disidang karena takut dibantai forum.

Dari sekian banyak kegiatan yang dilaksanakan oleh ASAS diselenggarakan di dalam dan di luar kampus UPI. Untuk acara yang sifatnya besar biasanya diadakan di Gedung Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM) UPI. Namun sehari-hari ASAS berkegiatan di Gedung Pentagon Lantai III UPI, termasuk Diskusi Reboan. Menariknya, ruang sekretariat ASAS di Gedung Pentagon tersebut awalnya merupakan kamar mandi mahasiswa yang sudah lama tidak dipakai. Atas inisiatif Tiana “Romo” Juliansyah (Ketua ASAS periode 1999/2000) kamar mandi itu dipugar dan dijadikan sekretariat ASAS. Di ruangan yang tidak lebih dari 3X4 m2 itulah kemudian anggota ASAS terus mengasah kemampuan dalam bersastra.

ASAS juga sering berkolaborasi dengan komunitas-komunitas atau UKM-UKM lain di dalam dan di luar kampus UPI dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan. Mulai dari seminar sastra, workshop penulisan sastra untuk siswa SMP/SMA, juga acara kesenian di berbagai daerah terutama Jawa Barat. Baik sebagai panitia atau sebagai pengisi acara. Selain itu, tentu saja merayakan sastra salahsatu caranya dengan mempublikasikan karya di media massa.

Dalam setiap masa ASAS selalu memunculkan beberapa nama yang cukup dikenal dalam pergaulan sastra nasional. Dari awal berdiri tentu dimulai dengan Tiga Serangkai tersebut, yang kini juga telah menjadi sastrawan yang cukup diperhitungkan. Kemudian muncul Lukman A Sya yang dikenal dengan puisi sufistiknya (juga pernah menjadi ketua ASAS periode tahun 1997/1998). lalu disusul yang kontemporer ada Rudy Ramdani, Widzar Al Ghifary, Dian Hartati, Fina Sato, Dian Hardiana, Jafar Fakhrurozi, Lugiena De, Heri Maja Kelana, Faisal Syahreza, Edwar Maulana, Langgeng Prima Anggradinata, dll. yang tengah menyusun jalan sastra. Apakah kemudian mereka jadi sastrawan atau tidak, itu bergantung pada pilihan masing-masing akhirnya. Namun mereka yang disebut terakhir itu, hari ini sedang bersemangat berkarya mencari bentuk estetika yang otentik bersama ASAS.

Seperti menurut Lukman A Sya pada suatu obrolan malam hari di Pentagon, “Hati-hati gesekan dari luar itu berbahaya, puisi (karya) harus lahir dari dalam diri.” Kurang lebih begitu, ia mengatakan kepada saya ketika berbicara tentang beberapa anggota ASAS yang bergantian karyanya dimuat di media massa. Maka, oleh karena itu ASAS sebagai ruang bagi anggota pada akhirnya mengenai konsistensi berkarya kembali pada diri masing-masing. Karena seperti telah diketahui bersama bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan kreatif yang sangat invidual, dan komunitas adalah tempat berbagi. Dan tidak heran bila kemudian banyak pula anggota ASAS yang pada awalnya semangat berkarya sastra namun karena kebutuhan hidup akhirnya memilih profesi yang lain.

Sesuai dengan motto ASAS “Lahir Untuk Bergulir”, maka ASAS menitikberatkan perhatiannya pada dunia kesusastraan. Dengan ikut memerhatikan isu-isu kontemporer dalam dunia kesusastraan dalam dan luar negeri ASAS mencoba untuk terus membumikan sastra. Pada faktanya, harus kita akui bahwa sastra di Indonesia tidak mendapat perhatian terlalu besar dari masyarakat luas. Meski demikian ASAS tidak pernah putus asa untuk terus merayakan sastra.

Apa yang menyebabkan rendahnya perhatian masyarakat di Indonesia terhadap dunia sastra dikarenakan oleh rendahnya minat baca masyarakat. Dan hal ini disebabkan oleh budaya literasi yang juga cukup rendah. Selain faktor budaya lisan yang telah mengakar, hari ini bangsa ini pun dihadapkan dengan berbagai kemajuan di bidang teknologi, terutama televisi yang telah menyedot perhatian masyarakat. Sehingga masyarakat seakan tergagap dengan modernitas.

Dalam hal meningkatkan minat baca, ASAS memulainya terhadap anggota sendiri. Harapannya mereka dapat menularkan itu di lingkungan masing-masing. Selain itu, dengan ikut mempublikasikan karya di media masa lokal dan nasional, merupakan salahsatu usaha mengingkatkan minat baca tersebut. Sementara untuk kalangan lebih luas lagi pemerintah yang memiliki kebijakkan dan keleluasaan diharapkan lebih intens memerhatikan salahsatu masalah yang tidak kalah penting dari peningkatan kesejahteraan.

*Yopi Setia Umbara, Ketua ASAS UPI Periode 2006/2007
Catatan ini pernah diterbitkan di Media Indonesia pada tahun 2007 dan telah disunting/ditambah beberapa data

Logo ASAS

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2016

or

Log in with your credentials

Forgot your details?