Di Kedai Kopi

Di Kedai Kopi

“mau pesan apa, tuan?”
tanya seorang pelayan wanita kepadaku.

“secangkir hati berisikan luka kemarin sore.”

“baiklah, ingin ditambahkan cumbu, mungkin?”

“tidak perlu, sudah usai.”

“baiklah. mohon ditunggu, tuan.”

sebelas menit lewat satu detik,
pelayan itu kembali menghampiriku
sambil membawa cangkir dan piring yang dipenuhi kesedihanku itu.

dengan memori yang berlarian di otak kecilku, aku diam. heran.
kuminum nyeri dan kepedihan di cangkir itu,
lantas keheningan berpecahan
ketika sebaris pertanyaan keluar sebelum sempat aku menyadarinya.

“kenapa pakai cinta?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

“ini dibuat dari biji-biji luka yang dipanggang
oleh panasnya kata-kata. walau terkesan memilukan,
jika ditakar dengan benar, maka aroma dan rasa cinta
akan terus terasa.” jawabnya.

aku diam, lagi-lagi.
bukan karena penjelasannya barusan,
tapi caranya tersenyum setelah menjelaskan itu
seakan memahami bahwa pesananku ini adalah yang terakhir
sebelum puisi-puisiku kubawa bunuh diri.

kemudian aku palingkan wajah
ke secarik kertas yang entah kenapa dari tadi kubawa
lalu mulai menuliskan
:
mau pesan apa, tuan?

 

2018-2019

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account