Menengok Kembali “Perdebatan Sastra Kontekstual”

“perjalanan kesusastraan Indonesia boleh dikata merupakan pembentukan kesadaran berbangsa yang memberi warna tersendiri dalam grand narrative keindonesiaan”.

-Ben Anderson dalam Imagined Communities

Pergerakan Sosial: Kondisi Historis Internasional

Pergerakan sosial selalu membawa corak baru terhadap sebuah kebudayaan, selalu ada warna yang berbeda, tergantung pergerakan apa yang terjadi dan apa yang sedang diperjuangkan oleh suatu kaum, massa, kolektif, atau Negara. Pergerakan tersebut bisa tersebar lintas Negara. Dan sama seperti pergerakan sosial dan budaya, coraknya adalah circa, dia bergerak dan akan kembali lagi (jika perjuangannya belum selesai), jika perjuangannya sudah dianggap tidak relevan lagi maka akan muncul sebuah perubahan baru, atau yang kita kenal sebagai kritik atas kritik.

Contoh corak tersebut bisa dilihat dari Javier Marias dan Enrique-Vila Matas yang mana, Marias adalah seorang madridista, sedangkan Matas adalah Cules sejati. Di sisi konflik Madrid-Barcelona dalam kehidupan sepakbola, terdapat konflik politik yang harus kita ketahui –yang mana membawa kedua penulis tersebut juga bersebrangan dalam pandangan politik, dan dalam pandangan karyanya. Marias dianggap memiliki kualitas karya –kalau di Indonesianya disebut Balai Pustaka, sementara Matas lebih urban dan membawa pandangan kaum miskin kota.

Pergerakan sosial yang ter-internasionalisasi juga bisa kita lihat dari terusan perjuangan seorang Maxim Gorky yang diteruskan gayanya oleh Pram. Singkatnya, dalam sebuah kajian intertekstual (saya lupa lagi referensinya), tokoh Ibunda Gorky kemudian diteruskan semangatnya oleh Nyai Ontosoroh dalam Tetraloginya Pram.

Juga perjuangan Negara Amerika-Portugis Spanis (Latin), yang juga meliputi Mexico juga punya corak sendiri dari pergerakan sosialnya. Secara umum, sastra Amerika Latin juga mengangkat isu pasca-kolonial yang kondisinya mirip-mirip dengan Indonesia. Pergerakan pasca-kolonial itu berbuah Realisme Magis yang diusung Borges, Gabriel Garcia Marquez dan Juan Rulfo. Sedang di sisi lain, di Argentina dan Chile, Cesar Aida dan Pablo Neruda (yang juga turut andil dalam pergerakan sosial) mengembangkan karya sastra yang tidak bercorak Realisme Magis.

Konflik Tsar-Bolshevik menghasilkan banyak karya-karya sastra dengan berbagai modelnya, baik pra atau pasca. Masa pra-Soviet mengahsilkan banyak karya-karya yang berpihak ke Tsar ataupun yang paling diingat adalah karya-karya yang mengangkat isu psikologis seperti Dostoievsky dan beberapa karya Tolstoy.

Situasi Prancis pasca perang dunia II pun menghasilkan corak sastra eksistensialisme dan absurdisme yang digagas banyaknya oleh dua kubu berbeda; Sartre dan Camus. Belum lagi puisi-puisi Prusia pasca mimbar-mimbar terbuka filsafat bergemuruh, dunia disambut dengan melankolinya Rielke, yang kemudian juga berefek seterusnya kepada sastra Jerman dan juga berimbas sampai di Indonesia.

Bukti-bukti ini menunjukan bahwa setiap pergerakan sosial akan membawa imbas kepada karya sastra. Dan yang lebih kerasnya lagi bahwa, karya sastra bisa membawa perubahan dan cara presepsi. Seperti prinsip karya sastra yang kita kenal “karya sastra tidak akan merubah dunia, tapi dia bisa merubah cara pandang kita terhadap dunia”.

Ada sebuah wacana sastra di era-80 sampai 90-an yang hangat membahas ini, Perdebatan Sastra Kontekstual dari Arief Budiman dan Ariel Heryanto. Literatur tersebut mendebat bagaimana politik sastra bekerja pada zaman itu, bagaimana adanya polarisasi sastra oleh redaktur media massa (yang sastra bergolak di sana) dan bagaimana estetikanya bergerak kalau sesuai referensinya sih… kebarat-baratan.

Mengenyampingkan Dulu Barat-Timur, Kiri-Kanan

Ada satu referensi yang keren untuk kita baca terkait sastra dan pergerakan sosial, judulnya Politik Sastra karya Saut Situmorang dan sedikit rangkuman saya terkait sejarah sastra Indonesia pada reboan (waduh teuing reboan keberapa) yang juga membahas politik sastra.

Rangkuman saya berisi; pertama, sejarah sastra Indonesia selalu bergerak berdasarkan pergolakan sosial, kedua sastra Indonesia juga bergerak dari pelbagai bacaan dunia yang tidak runut dan mengambil banyak referensi dan ketiga sastra Indonesia bergerak berdasarkan media yang sedang menaungi.

Rangkuman pertama menghasilkan periodisasi sastra sebagai berikut:

  • Pra-Pasca Revolusi 45
  • Pra-Pasca Gerakan 65
  • Pra-Pasca Reformasi 98

Berbeda dengan cara pandang H.B Jassin yang menyebutkan beberapa angaktan, seperti angkatan 45, 66. Atau Ikhtisar Sastra Indonesia-nya Ajip Rosidi. Namun, pemetaan ini didasari oleh bagaimana politik dan sastra sangat terkait –yang mana merupakan salah satu poin dari sastra kontekstual-nya Ariel dan Arief.

Kenapa demikian? Mari kita ulas secara singkat, pra dan pasca tiga revolusi terbesar Indonesia tersebut menciptakan model dan gaya baru dari sastra Indonesia. Sebut saja revolusi 45, pra-nya berawal dari banyaknya karya sastra melayu pasar yang beredar di masyarakat membuat Belanda mengerahkan kontra wacana dengan menghadirkan “sastra melayu tinggi” yang kemudian kita sebut sebagai karya-karya Balai Pustaka yang dinahkodai oleh Marah Rusli, Sutan Takdir Ali Sjahbana.

Selain kontra wacana dari karya melayu pasar, tentunya Belanda mengcounter wacana sastra-sastra progresif oleh pihak Marxis seperti Semaoen dengan “Hikayat Kadiroen” dan juga Mas Marco dengan “Babad Tanah Jawi”. Ini juga tak lepas dari kehadiran media massa, salah satunya yang paling famous adalah “Medan Prijai”nya Tirto Adhi Surjo.

Pergolakan ini menimbulkan satu otoritasi sastra pada zaman tersebut yang didikotomikan menjadi “melayu tinggi” dan “melayu rendah” –yang merupakan strategi feudal Belanda dalam memandang karya sastra progresif. Ada pula istilah “bacaan liar” untuk karya-karya tersebut (Semaoen, Mas Marco). Tak lain tak bukan untuk mederam posisi pergerakan sastra pada masa itu, yang secara kasarnya sih… berhasil. Tetapi kontra wacana tersebut didukung dengan karya dari Multatuli “Max Havellar” yang kemudian membawa perubahan signifikan dengan hadirnya politik etis di Indonesia.

Pasca-nya, kebebalan “Balai Pustaka” dibalas smash oleh Chairil, Idrus (mengangkat cerpen ke permukaan) dan Asrul Sani (berbagai naskah terapan) dengan mengembangkan beberapa karya yang menilik referensi “luar” yang agaknya tak terlalu tersentuh pada zamannya. Chairil misalkan, ia membaca banyak karya puisi Jerman (Rielke) dan Belanda yang masuk ke Indonesia (dengan bahasa aslinya, bukan terjemahan) dan membawa warna baru sastra Indonesia. Di lain sisi, puisi-puisinya juga turut andil dalam pergerakan nasional pada masa itu (1943-1946).

Contoh pandangan yang bertentangan hadir di pra-65. Hadirnya Lekra dengan estetika realisme sosialis dan humanisme universal-nya Manikebu mengiringi pergerakan sastra, sekaligus sosial pada masa itu. Perdebatan panjang Pram-Hamka-Goenawan Mohamad, menjadi corak sastra yang agaknya paling berwarna dalam sejarah sastra Indonesia. Pergolakan sastra ini juga mengiringi bagaimana carut-marutnya kondisi Indonesia pada zaman tersebut, zaman di mana perjuangan adalah perjuangan ideologis.

Munculah gerakan Gestok, PKI dan Lekra dibubarkan, seniman-senimannya dibunuh, karya-karyanya dilenyapkan, bahkan hanya sedikit karya-karya yang dapat diselamatkan. Apa efeknya? Jelas, sastra Indonesia kehilangan salah satu generasi emasnya dalam sejarah. Agaknya sulit juga mencari referensi karya pra-65 dari Lekra, (kecuali Pram yang diterbitkan besar2an sekarang). Namun karya-karya lain semacam Utuy Tatang Sontani, A.S Dharta, Agam Wispi, HR Bandaharo hilang dari peredaran, dan sulit mencari arsip2nya. Yang terbaru ada karya sastrawan perempuan Lekra, diterbitkan oleh Ultimus, yaitu karya “Kejatuhan dan Hati”, “Tandus” karya S. Rukiah. Dan beberapa kerja2 republikasi Ultimus terkait karya2 Lekra yang sudah hilang ini patut diapresiasi.

Setelah pergerakan 65, munculah kegundahan dalam estetika sastra di Indonesia, fenomena ini mirip dengan kondisi Dostoievsky dan kondisi Prancis pasca perang dunia II. Sastrawan mencari aktualisasi diri dan kebenaran dengan banyaknya bungkaman dan juga rules-rules tertentu yang hadir di masa orde baru. Munculah karya-karya Iwan Simatupang dengan Tegak Lurus dengan Langit, dan Mochtar Lubis Harimau Harimau yang mengangkat bagaimana depresifnya situasi sastra pada zaman itu (selain GM yang juga terus menerbitkan karyanya).

Situasi ini menimbulkan kekayaan juga dalam khazanah sastra Indonesia, bermunculan nama-nama N.H Dini, Danarto, Umar Kayam, Budi Darma, Sutardji C. Bachri, Remy Sylado, Rendra dll. Dan di seni lain pun mengalami banyak sekali eksplorasi, seperti gerakan psychedelic di music 70-80an, dan gerakan hard rock masuk periode 80-an.

Pada periode ini pula lah Ariel Heryanto dan Arief Budiman menggagas Sastra Kontekstual. Di mana posisi sastra saat itu bukan mengedepankan permasalahan fundamen dari bangsa Indonesia. Di lain sisi, Rendra dan Widji Thukul sedang fokus mengurusi puisi pamfletnya.

“Gagasan sastra kontekstual, sebenarnya, tidak bermaksud menggempur eksistensi status quo mereka, melainkan menempatkannya di dalam konteks sebenarnya, yakni bahwa mereka merupakan sastra yang berkembang di kelas menengah kota-kota. Mereka memiliki hak hidup yakni dalam konteks lingkungan pembaca. Yang perlu diluruskan hanyalah pemikiran bahwa hanya sastra merekalah yang boleh dinamakan sastra, di luar itu tak ada sastra.

Gerakan sastra kontekstual memiliki tujuan ingin membuka daerah-daerah kesustraan baru yang selama ini tidak terlihat karena tertutup bayang-bayang sastra kelas menengah kota, dengan doktrin nilai-nilai universalnya. Di isinilah peran dapat dimainkan oleh para redaktur budaya, karena kritik mereka berpengaruh dalam menentukan perkembangan kesusastraan modern di Indonesia. Melalui tangan merekalah karya-karya sastra disebarluaskan. Gagasan ini sekaligus memberikan kesadaran kepada sastrawan muda agar berani menciptakan karya-karya sastra yang didasarkan kenyataan sosial yang mereka alami sehari-hari, dengan bahasa yang mereka pergunakan. Karena hanya dengan cara ini, mereka akan menjadi diri sendiri dalam menghasilkan karya sastra.”

Perdebatan sastra kontekstual seakan menuntut bahwa sastra harus menyuarakan suara-suara terbungkam dari masyarakat masa itu. Tidak adanya ruang berekspresi yang cukup, dan represifitas jelas-jelas terjadi di depan mata menyebabkan teori ini sangatlah berguna dalam membuka peran sastra dalam masyarakat, selain beberapa teori yang lebih dulu menjelaskannya, yang jauh, seperti teori mimetik Aristoteles, yang dekat, semacam pandangan-pandangan Ben Anderson dan Abrams yang menyebutkan bahwa sastra akan terus berdekatan dengan masyarakat dengan segala macam pergulatannya.

Melihat Sastra Kontekstual dengan Kacamata Hari Ini

Tersuarakannya puisi-puisi Rendra dan Widji di setiap aksi massa menunjukan bahwa sastra kontekstual pada tahun 80-90 masih berbekas sampai sampai sekarang. Tapi pertanyaannya adalah, apakah memang benar itu adalah sastra kontekstual yang membekas atau sastra kita hari ini yang tidak berfokus kepada masalah yang demikian? Sehingga karya-karya yang “merakyat” itu tidak terproduksi massal lagi hari ini –tentu di luar Dorothea dan beberapa penyair yang menggunakan pergerakan sebagai arus utamanya.

Dari kacamata saya, justru paradigm sastra kontekstual inilah yang berubah. Sastra kontekstual berprinsip mengangkat masalah-masalah kontekstual dari daerah masing-masing, dari keresahan yang sekarang semakin variatif.

Mengapa semakin variatif? Ini adalah efek dari periodisasi sastra pasca reformasi 98. Sifat karya yang bebas, seperti bebas dari kungkungan lama, membuat gerak sastra kencang bagai ledeng sehabis hujan deras tapi daya tampung pembaca umumnnya sebesar ember kecil untuk pel-an. Maksud saya adalah, di tengah gerakan kapitalistik yang semakin meluas setelah reformasi, daya tampung pembaca sastra juga tidak diampu dengan wacana sastra yang sebombardir era-65.

Padahal gerakan-gerakan pra-reformasi boleh dibilang sangat variatif, munculnya Afrizalian, gaya-gaya lepas semacam Ahmad Nurullah, dan defamiliarisasi F. Rahardi juga turut mewarnai wacana tahun tersebut. Namun yang muncul setelahnya ada arus baru yang kita kenal sebagai ispolit dan beberapa lit-lit lainnya yang beredar pada pembaca umum.

Sastra kontekstual yang pada mulanya menyasar “sastra-sastra pergerakan” menjadi lingkup yang lebih spesifik yang kita kenal kemudian sebagai “lokalitas”. Hal ini menyebabkan beberapa hal,

  1. Sastra yang bergerak terus melanjutkan fenomena-fenomena pra-reformasi dan bacaan luar yang semakin massif. Mona Silvyana, Ratih Kumala.
  2. Sastra pergerakan terpolarisasi menjadi karya-karya pra-reformasi yang berkonteks pada pergerakan melawan orde baru: Widji, Rendra.
  3. Sastra yang mengangkat lokalitas kental dalam karya-karyanya dan menjadi core dalam corak sastra: Mahfud Ikhwan, Azhari Aiyub, Gunawan Maryanto.
  4. Sastra-sastra Koran yang bergerak mencipta beberapa letupan wacana, baik yang lokal maupun yang universal.

Beberapa karya keren juga hadir memberi rona baru yang bisa saja disebut sastra kontekstual: Eka Kurniawan adalah aktor utamanya. Mengangkat wacana magis dalam Cantik Itu Luka (yang dia sendiri sebenarnya tidak akui sebagai magis) dan beberapa permasalahan urban dan manusia Indonesia hari ini yang masih dalam lingkup Logika Mistika kalau kata Madilog.

Selain sastra-sastra yang kita kenal (dari list di atas) juga hadir kali ini, dewasa ini, yang paling update adalah sastra berbasis internet. Walau sudah ada sejak 2004 dengan cybersastra, namun kali ini tak kalah banyak media-media berbasis online yang menyediakan rubrik khusus sastra.

Alasan merebaknya rubrik sastra online ini juga didasari dari banyaknya kekecewaan dari pekarya dan pembaca dengan sastra Koran yang pada awal-awal pasca-reformasi menjadi arus utama yang menentukan bahwa “dia penyair, dia cerpenis” atau bukan.

Dengan landasan ini, pendapat Ariel dan Arief bisa disebut berhasil dalam garis besar, semua orang adalah sastrawan, media bisa diproduksi dan menciptakan lingkungannya sendiri, dan tinggal masalah isu yang dibawakan, apakah kontekstual atau tidak.

Inilah anomalinya, paradoksnya. Di tengah gemuruh media online yang menyediakan rubrik sastra, puisi-puisi yang bergemuruh di aksi massa tetaplah puisi Rendra, puisi Widji (walaupun tidak menutup kemungkinan penyair lain muncul). Prosa yang diagungkan dalam pergerakan masih Pram. Apakah ini hasil dari massifnya media sehingga tak ada “otoritas sastra” sehingga karya-karya pergerakan ala pamphlet tidak lagi muncul (meski tetap diproduksi oleh penulis-penulis yang biasanya kita temukan di facebook)? Sebab dalam Perdebatan Sastra Kontekstual, “otoritas sastra” yang dipermasalahkan adalah sikapnya, bukan kehadirannya.

Atau ini pertanda bahwa akan ada pergeseran sastra arus besar yang juga membawa wacana “sastra kontekstual” dalam medium “lokalitas” yang biasa kita temukan di Kusala Sastra Khatulistiwa? Ataukah jangan2 “lokalitas” yang dikomentari oleh GM kemarin (Sastra Indonesia, Lokalitas dan persebarannya di wajah internasional yang diaktualisasikan dengan berbagai festival dunia: penerjemahan) itu benar-benar harus dilaksanakan? Lalu di mana sastra kontekstual berdiri sekarang?

Sedangkan di gejolak politik hari ini gerakan sastra seakan foreshadowing dengan karya-karya masa lalunya. Menilik perdebatan ini, ada baiknya kita membuat lanjutan dari Perdebatan Sastra Kontekstual yang sesuai dengan masa hari ini. Tidak menutup kemungkinan masa sekarang adalah masa di mana akan terjadi revolusi dan tentu aka nada pergolakan sastra yang akan menaunginya.

 

Referensi

Ariel Heryanto, Arief Budiman: Perdebatan Sastra Kontekstual

H.B Jassin: Angkatan 45, Angkatan 65

Ajip Rosidi: Ikhtisar Sastra Indonesia

Saut Situmorang: Politik Sastra

Goenawan Mohamad: Esai facebook “Sastra Indonesia hari ini”

Wijaya Herlambang: Kekerasan Budaya Pasca-65

 

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account