BELAJAR MEMBUAT PUISI

 

BELAJAR MEMBUAT PUISI

mari simak pelan-pelan beberapa pengakuan

 

saya tidak bisa memberi penjelasan untuk mengkhianati majas

ibarat personifikasi paradoks: nyaring bunyinya tidak jelas berkokok

tidak ada alasan dari batin untuk dicurahkan

nyamuk mengelilingi dua kuping

ngngngngngngngngngngngngngng

intuisi intuisi intuisi

mbeling mbeling mbeling

 

saya sedang berada di dapur waktu itu

ada beberapa bumbu makanan serta peralatan rumah tangga

tiba-tiba satu gelas pecah menyikut tangan saya

kepingan kaca berserekan di lantai

saya mengambil yang paling tajam

satu sachet kecap menjadi tinta

saya mulai menulis puisi di kamar mandi

 

aku membayangkan kata-kataku terjebak di berkas peninggalan rumah sakit jiwa, tersesat dan merasakan tegang berkesinambungan

ada bau kamar mayat di dalam makna

aku takut jumpscare

aku melihat semua perumpamaan terbang jauh

hingga jatuh satu mantra menjadi keluh secara penuh

keluh kesah kasih keluh kesah kasih kasih keluh kesah keluh kesah kasih

 

matamu biru langit dari laut yang tak berhenti kupandang

nafasmu melodi ombak yang menghanyutkan karang

matimu menghidupi hukum alam sebagai inang

daun yang berpisah dengan tangkai mati dalam dekapan akar

rasa sakit itu masih cinta

di karnaval banyak tawa namun malam menggenggam kelam

apa daya manusia sepertiku membaca maksud angin

jendela tak pernah kubuka selain menjadi pembatas

hahaha ku menandakan sunyi dari bait para pujangga

 

hening dan sepi kuludahi hingga tak ada lagi kata sesunyi

sadarku adalah tak mencari, tapi bertemu di tepi

memecah pening hingga semua yang segar tak penting

yang penting tak benar aku membuat bait-bait sakit

 

yang mati adalah realita

yang tersisa adalah citra

pasalnya tak terpikirkan bahwa itu rincian

bunga-bunga berantakan di taman

tapi kenapa bapak mengatur rambut dengan pomade sedemikian meded

 

katanya aku hanya mengatakan omong kosong tidak jelas

apakah benar, tentu benar

aku hanya membuat puisi pak hakim

dan tak sadar ternyata tertulis

 

Ruang inap, 2019.

 

*puisi ini ditulis oleh Decky Ibrahim Medani tanpa memahami definisi semantik untuk menjadi pemantik. Alangkah terima kasih kepada semua yang telah membaca atau menelaah apa yang salah. Manusia selalu luput akan masalah sedangkan menyerah bukan jawaban, PEDULI SETAN.

TERIMA KASIH SEKALI LAGI MUNGKIN DUA KALI karena telah meluangkan waktu untuk membaca curahan hati seseorang yang mulai menyukai sebuah karangan dengan tegang.

 

P.S. ILY!!

AKHIR KATA, TERSERAH!!

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account