Elegi Ulang Tahun – Waktu – Delirium

Rough Ocean karya Irina Adriana

ELEGI ULANG TAHUN

 

selembar tahun yang gugur

akankah sampai ke pintu rumahmu

batu jiwaku ditelan kolam

 

aku tidak sendirian tidak asing

sebab masih mencintaimu Pratiwi

hidup bersamamu dalam bayang

karena membayangkan adalah memilikimu

sesempurnanya di dunia tafsiran ini

 

aku tidak sekarat karena sepi

sebab orang-orang menyambut Sabtu datang

sebagai perayaan atas kelahiranku

 

hari itu, untuk memeluk erat ibuku

ayahku harus memeluk jeruji dulu

karena malam yang bangkit di dada

menuangkan anggur seketika wajah orang

jadi nasib buruk yang mesti ayah tinju

 

hari itu setiap kelahiran harus ditebus kematian

seorang ibu mati ketika anaknya lahir

ayahnya lompat dari jembatan karena takut bui

seseorang membunuh kemanusiaan

untuk melahirkan jabatan

 

hari itu banyak pernikahan dan cerita bunuh diri

sebuah kota hancur dilanda bencana

dan tidak ada cara untuk selamatkan hidup selain diam

sementara televisi masih memutar acara komedi

 

hari itu aku tolol

penantian menumbuhkan rumput sebahu

di halaman rumahku

lupa aku manusia bukan sajak

tapi, aku mencintaimu Pratiwi untuk paham dunia

 

tak mesti aku sedihkan

selembar tahun yang gugur

tak mesti aku sedihkan

batu jiwaku ditelan kolam

 

dunia menyambut Sabtu datang

dengan suara kacau

telinga dan mataku pecah

luka yang jaman pahat di tubuhku

digarami waktu

 

terasakah perihnya

rasakanlah perihnya di dadamu

hari itu semua merayakan kelahiranku

sedih dan nasib buruk, hadiah terbaik

sebab selalu meminta arti untuk hidupku

aku mencintaimu Pratiwi

 

30 Desember  2018 – 21 Februari 2019

 

Waktu

 

Waktu adalah kayu-kayu basah

Arang adalah masa silam

Hidup adalah api

Cinta adalah tungku

 

Aku hilang api

Setiapkali menemukan tungku

 

2019

 

DELIRIUM

 

menatap cemas musim

bumi basah

tanah diraba waktu

& kekosongan jadi serumpun mimosa

 

karena mataku yang duka

matahari jadi kepala terbakar

bergoyang dimainkan angin di langit

matanya terpejam & bibirnya tak menjelaskan ada

 

kemana gunung dalam dadaku

kenapa hanya ada bongkah batu

& sepenggal-sepenggal puisi tak terbaca

kemana perginya laut, kenapa ia lupa segala

 

bawalah karang-karang & bangkai kapal-kapal

bawalah tulang ikan-ikan yang di sisakan kemarau panjang

kenapa menyerah menjadi rumah kesedihanku

di pesisir dadaku terbentang padang berantakan

 

aku terkapar di tempat ini, di kata ini

aku teriak semata memperjelas sepi

lalu menyentuh mimosa semata memperjelas hadirku

membuat daun-daun pun menutup diri

 

2019

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account