Surat Kepada Hujan

SURAT KEPADA HUJAN

Hari ini kenapa kamu deras sekali. Ini su terjadi berulangkali. Penyair mana yang meminjammu lagi sebagai metafor murahan dari kesedihan? Seorang melankolis kesepian mana? Tidakkah itu ialah hinaan yang lebih rendah bahkan dari spitenk rumahku? Baiklah, aku benar-benar minta maaf atas empati yang terlalu ekstrim ini. Aku hanya ingin berterima kasih sederas-derasnya padamu atas beberapa perihal ini.

Aku berterima kasih karena hari ini aku lebih sensitif dan cekatan lagi. Aku berlari dengan antusiasme yang tinggi pada pakaian-pakaianku yang basah. Memang masih basah karena baru empat jam digantung di bawah matahari. Aku lari kepada mereka. Aku berlari seperti berlari kepada ayah dan ibuku saat belajar lari pertama kali. Seperti berlari kepada kekasihku saat orang-orang dewasa tak pernah sungguh-sungguh mengerti kenapa cinta dan monyet harus disatukan untuk mengolok-olok perasaan yang spontan. Seperti berlari ke sekolah karena melihat jam mulai menjauh dari angka tujuh. Ya, tentu, kamu mungkin punya penyepertian yang lebih indah dari ini. Tapi dengarlah ini, untuk yang terakhir kali:

Aku berlari pada pakaian-pakaianku yang masih basah dan kehilangan matahari lagi. Segera kudekap mereka ke kamar dan kugantung di kastop dengan tenang. Aku melenguh panjang sekali setelah itu. Sambil menghisap udara pagi yang segar, tiba-tiba jiwaku tertegun dan bergetar saat teringat lagi ke saat-saat itu. Saat-saat sepasang tangan ini gigih mencucinya tadi pagi. Ingin sekali kucopot dua tangan ini dari diriku untuk beberapa waktu. Menidurkan mereka di kasur dan meletakkan ciuman-ciuman padanya seperti untuk terakhir kali. Sebelum mereka bermimpi. Bermimpi tentang matahari.

2019

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account