Sastra: Variasi dari Kebenaran

Sastra: Variasi dari Kebenaran*

Zulfa Nasrulloh1

Pada suatu sore, di sebuah kedai kopi, seseorang yang tidak bisa saya sebutkan namanya di sini, bercerita tentang fakta mengejutkan. Awalnya ia bercerita bahwa pada malam lebaran kemarin, ia menemukan dua tamu asing. Memang biasa banyak tamu datang ke rumah. Popularitas teman saya ini membuat ia mesti menjamu banyak tamu yang tak sepenuhnya ia kenali. Hingga dua orang asing ini jadi tamu terakhirnya yang pulang terakhir. Sebelum pulang, dua orang ini berkata pada teman saya, apakah ia tidak ingin tahu, siapa mereka dan dari mana asalnya. Dengan sedikit canggung dan merasa aneh, teman saya pun menanyakan hal tersebut pada mereka. Lantas mereka menyerahkan sebuah paspor. Di paspor itu tertulis, Sunda Democratic Empire.

Teman saya saat itu berkata bahwa dua orang ini memiliki paspor dari kerajaan Sunda. Saya tidak paham, apakah yang dimaksud teman saya itu adalah suatu kerajaan Sunda lama atau kerajaan di belahan dunia ini ada yang bernama Sunda. Lantas ia meminta saya mengetik di laman pencari Google lantas memasukan kata kunci Dua Putri Kerajaan Sunda. Alhasil, saya menemukan sebuah berita dari beberapa portal berita daring nasional mengenai dua orang perempuan yang mengaku sebagai putri Kerajaan Sunda di tangkap kepolisian Malaysia2.

Dua putri kerajaan itu bernama Puteri Lamia Roro Winata (21) dan Puteri Fathia Reza (23). Pada 16 Juli 2007 mereka ditangkap oleh petugas imigrasi Brunei dan dialihkan ke Miri di perbatasan Malaysia. Mereka tidak bisa menunjukkan paspor selain paspor Sunda Democratic Empire. Saat ditanya dimana mereka tinggal, mereka menjawab tinggal sebagai eksil di Swiss dan Jerman. Sebab tidak ada kerajaan tersebut dalam wilayah Negara manapun selain kerajaan di Jawa pada zaman dulu, Pemerintah Malaysia pun memenjarakan mereka sebagai pelanggar imigrasi.

Kasus ini pun menyita perhatian publik dunia, semisal beberapa pengacara dari Amerika sebab di negaranya ada juga ditemukan kasus serupa. Para pengacara Amerika itu melihat bahwa kasus ini menyangkut hak asasi manusia yang selalu berhadapan dengan aturan imigrasi yang mengikat. Tidak jelas bagaimana akhir dari kedua putri tersebut. Tidak ada berita lain yang menceritakan nasib akhir mereka. Hanya sebuah berita pada bulan September 2007, mengatakan bahwa mereka tetap ditahan. Berita tentang mereka yang telah beredar di internet selama berbulan-bulan telah diketahui kedua keluarga mereka di Swiss dan pengacara di Indonesia3.

Saya kaget membaca berita yang sepertinya cukup menghebohkan saat itu. Lantas saya masih punya argumen untuk teman saya, jangan-jangan dakwaan pemerintah Malaysia benar bahwa dua perempuan itu merupakan imigran gelap yang membuat paspor palsu dan mengada-ada. Meski dalam hati saya juga masih bertanya-tanya, mereka benar-benar memiliki keluarga di Swiss. Sebagaimana kita tahu, Swiss dapat dikatakan sebagai Negara dengan otoritas yang longgar dan punya penganan khusus terkait hal-hal semacam ini. Artinya, bisa saja paspor itu memang legal dan legalitasnya berada di Swiss. Tapi sekali lagi teman saya ini berani bersumpah bahwa dua tamunya pada lebaran lalu pun menunjukkan paspor yang sama.

Kemudian teman saya ini bertanya lagi pada saya, apakah saya pernah mendengar cerita tentang harta karun Soekarno? Saya pernah mendengarnya dari sebuah film berjudul Kala (2007) karya Joko Anwar. Film itu bercerita bahwa dulu, saat Indonesia merdeka, Raja-raja Nusantara mengumpulkan harta mereka dan memberikannya pada Soekarno untuk modal membangun Negara. Hanya di dalam film itu diceritakan bahwa harta itu dikubur di suatu tempat dan hanya seorang terpilih yang bisa menemukan harta tersebut. Beberapa majalah mistis semisal majalah Posmo juga pernah saya baca membahas perihal itu dengan sangat serius.

Mendengar paparan tersebut, teman saya meminta saya mencari kata kunci White Spiritual Boy atau Spiritual Wonder Boy. Ketika saya cari di Google di internet. Kata kunci yang dimaksud adalah terkait fakta bahwa di World Bank terdapat dua akun tersebut yang menyimpan uang banyak sekali. Lantas teman saya ini bilang bahwa itulah harta karun Soekarno alias uang raja-raja yang dititipkan pada Soekarno. Di internet dua akun ini belum ada yang bisa menguak siapa pemiliknya, dan wacana meluas pada beragam pengakuan orang Indonesia terkait harta ini. Teman saya bilang, Megawati pun pernah datang ke Swiss dan mengaku sebagai anak Soekarno untuk mengambil uang tersebut. Tetapi ditolak, sebab pihak bank menyatakan bahwa sudah banyak sekali orang datang dan mengaku sebagai anak Soekarno untuk mengambil uang itu. Fakta lain terkait sulitnya orang mengambil harta itu karena jika uang itu diambil, maka akan terjadi krisis sebab inflasi.

Saya belum percaya. Tetapi saya tidak menyangsikan bahwa teman saya ini bukan hanya dekat dengan pemerintahan di segala level tingkatan, ia juga aktif di banyak komunitas, publik figur, dan seorang akademisi. Ia memang nyentrik dan bisa saja bicara bohong. Tetapi dari posisinya itu, bisa saja hal tersebut benar. Setidaknya, jika pun ia sedang beropini, segala argumennya sejauh ini dilengkapi dengan data dan fakta yang cukup jelas.

Banyak pula cerita lain tentangnya dari teman saya yang lain. Semisal ia memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang dikeluarkan oleh Persatuan Bangsa Bangsa dan sering berpergian ke luar negeri tanpa mekanisme umum. Setahu saya ia memang sering ke berbagai museum sejarah di luar Negeri. Ia banyak meneliti dan menelusuri khazanah dan artefak sejarah Indonesia yang ada di luar negeri. Ia pun memiliki banyak barang antik dan pusaka yang katanya didapatnya secara gaib. Selain karena ia keturunan ningrat dan terlibat dalam aktivisme Kasundaan, aktivitasnya ini juga akhirnya menempatkannya sebagai budayawan yang cukup di dengar oleh pemerintah.

***

Kisah pengalaman aneh saya di atas, mengingatkan saya pada batas antara peristiwa dan bahasa yang merekamnya sebagai kisah. Sejarah sejatinya adalah masalalu yang direkam oleh bahasa itu. Ia terjadi dan bahasa telah merekamnya. Dalam perekaman peristiwa melalui medium bahasa ini kemudian ragam tafsir terbuka. Hingga misalnya muncul banyak pengakuan kebenaran tentang peristiwa tersebut. Dominasi dari pengakuan itu yang kemudian menentukan arah dari sejarah. Sering kita dengar “Sejarah adalah kisah para pemenang”. Pemenang di sana adalah sekelompok orang yang punya peluang, kekuatan data, dan kuasa politis untuk melegitimasi sebuah peristiwa sebagai suatu kebenaran.

Peristiwa hadir terus menerus. Masa lalu terus terjadi. Individu dan kelompok mencipta peristiwa yang artinya juga mencipta masa lalu. Sejarah adalah masa lalu yang mesti diingat sebab menjadi penanda penting bagi keberlangsungan suatu entitas sosial. Sejarah biasanya makin kuat dengan hadirnya data fisik atau data primer yang jelas bisa ditinjau materinya. Ada pula data non fisik yang tersimpan sebagai memori kolektif dan biasanya ini menjadi data sekunder yang mendukung data fisik.

Dari paparan di atas kita bisa memberi sedikit celah pada nalar kita. Pertama, ada sejarah pemenang dan tentu ada variasi sejarah lain dari mereka yang kalah. Ada banyak peristiwa sejarah yang tidak diangkat ke permukaan, sebab kurangnya data fisik atau data primer, dan hanya dihadir dari misalnya data sekunder atau memori segelintir orang. Artinya bisa saja variasi sejarah itu dianggap kebenaran. Sebagaimana teman saya mampu menunjukkan suatu alur sejarah yang lain.

Bisa saja benar, bahwa Sunda Democratic Empire atau Kerajaan Demoktatik Sunda itu masih ada. Atau raja-raja Nusantara telah menyerahkan uang pada Soekarno dan kemudian harta itu disimpan di Bank Dunia untuk kepentingan umat manusia. Kemudian Indonesia berjalan dengan suatu narasi sejarah. Dan di belakang itu semua, Soekarno merahasiakan beberapa entitas kesukuan atau berlangsungnya beberapa kerajaan dalam suatu kesepakatan tertentu. Meski variasi opini ini lemah, variasi ini tetap bisa anggap sebagai sebuah variasi yang menawar lagi variasi sejarah yang ajeg. Variasi semacam ini yang kadang menggali lagi kebenaran dari variasi sejarah para pemenang tersebut.

Sebagaimana kita tahu, sejarah tentang G 30 S PKI, pada masa Orde Baru memiliki suatu versi yang kemudian kita tahu sekarang berlainan dengan yang sebenarnya. Narasi sejarah yang sebenarnya diucapkan oleh para pelaku sejarah yang kini sudah sedikit jumlahnya. Data dan fakta primer dari sejarah itu banyak yang hilang. Hingga kita justru banyak mendengar kebenaran dari korban-korban seperti misalnya pada film dokumenter The Act of Killing (2012) karya Joshua Oppenheimer. Kita diajak melihat sejarah melalui persaksian manusia, cerita manusia. Meski film itu berada pada kuasa opini kamera, tetapi kita bisa melihat dan mendengar sendiri pengakuan korban dari keganasan Orde Baru yang menimpanya ketika penumpasan komunis di Indonesia.

Sastra sebagai manifestasi realitas dalam kuasa bahasa punya peluang untuk merekam peristiwa sejarah. Terutama memori kolektif atau data sekunder yang sejarah kadang tak begitu yakin pada variasi sejarah tersebut. Sastra melalui dunia reka dalam medium bahasanya, mampu menggali sisi-sisi lain dari kaku dan keringnya sejarah. Ia menjadi media terekamnya ingatan kolektif publik dari masa lalu yang telah terjadi dalam entitas sosial tertentu. Misalnya betapa penting peran naskah Kidung Sunda yang ditemukan di Bali. Meski kemudian diketahui sebagai karya syair seorang pujangga (sastra), tetapi dari sana kita bisa melihat fakta lain dari sejarah Perang Bubat secara lebih dalam.

Potensi lain dari sastra melalui kerja bahasa, ialah merekam suatu peristiwa dalam dimensi makna yang terbuka. Misalnya cerita tentang seorang raja yang kencing di hutan dan seekor babi meminum kencingnya hingga hamil. Babi itu kemudian melahirkan seorang anak perempuan bernama Dayang Sumbi. Cerita itu merupakan legenda. Tetapi ada semacam percikan pada kita apakah benar, seorang raja jaman dahulu begitu sakti sehingga air kencing yang diminum oleh hewan bisa membuat hewan hamil. Atau babi tersebut sebenarnya hanya ungkapan kebencian dan status sosial masyarakat saat itu di mata seorang raja. Raja itu sebenarnya menyetubuhi seorang perempuan dari golongan rakyat dank arena aib tersebut, maka ia disebut sebagai babi. Kehadiran babi sebagai metafor tersebut telah mampu membuka nalar kita sebagai pendengar kisah. Potensi ini dapat digunakan untuk menuliskan sejarah, sehingga peristiwa masa lalu dapat secara terbuka diterima publik dan memicu pandangan-pandangan baru yang merekonstruksi kesadaran hari ini.

Sejarah dan Sastra sama-sama memuat cerita atau kisah. Keduanya menawarkan kebenaran dengan menyandarkan argumennya pada berbagai fakta entah itu fisik (materi) atau non fisik (memori kolektif). Sastra bisa sebagai penggugat, penelusur, bahkan penguat secara lebih dalam narasi sejarah yang ada. Ia bahkan bisa mencipta alur sejarah yang baru dan merekam banyak data sekunder atau data dari memori kolektif masyarakat. Tentunya dengan suatu logika peristiwa dan cerita yang bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga khazanah pemikiran dan kemungkinan logis kita semakin luas.

Saya kira masih banyak cerita-cerita lisan masyarakat, keyakinan-keyakinan terbatas, yang berceceran dan belum terdokumentasikan dalam karya sastra. Sementara menandai masa lalu sebagai sejarah adalah juga bagaimana kita menyiapkan diri kita hari ini dan masa depan. Peristiwa-peristiwa di atas yang bisa jadi adalah kebohongan, mesti kita rangkai dalam suatu logika kisah yang itu erat kaitannya dengan urgensi dari hal itu.

Urgensi sejarah atau kisah menjadi hal utama terkait keberlangsungan alur sejarah. Semisal uang milik akun White Spiritual Boy, yang jika terbukti merupakan harta kekayaan Indonesia, maka tatanan kekuasaan dunia akan beralih. Begitupun jika misalnya dua perempuan yang mengaku sebagai putri dari Sunda Democratic Empire memang benar adanya, maka sebetulnya ada sejarah dari bangsa ini yang sembunyikan dan diamankan oleh kaum terbatas saja. Ini tentu bisa memicu menurunnya kepercayaan publik pada pemerintah dan sebagainya.

Sastra bisa menjadi kemungkinan pertama, logika pertama, yang menawar kebenaran lama dengan kebenaran baru. Bahkan sastra dapat menengahi dua variasi sejarah itu dan membawanya pada suatu urgensi lain terkait kemanusiaan. Semisal, siapapun dua perempuan yang dipenjara oleh pemerintah Malaysia itu, ia tetap manusia. Karenanya, meski dengan kebohongan atau kebenaran yang telah ia lakukan, ia tetap berhak untuk hidup dan bebas dengan atau tanpa memiliki Negara sekalipun.
 
Bandung, 14 November 2018

 

1 Pegiat dan pemerhati sastra
2 https://www.google.com/amp/m.merdeka.com/amp/peristiwa/imigrasi-malaysia-tangkap-dua-perempuan-dengan-paspor-pemerintahan-sunda-gnypxce.html
3 https://www.thestar.com.my/news/community/2007/09/17/trial-of-sunda-princesses-attracts-american-lawyers/

 

Esai ini pernah dipublikasikan pada saat acara “Diskusi Sastra: Sastra dan Sejarah” yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat di Hotel Horison Bandung, 15 November 2018. Kemudian diterbitkan di Zine ASAS UPI, Waswasulkarim.

 


Zulfa Nasrulloh adalah seorang penulis dan pengamat biduan.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account