Sajak-Sajak Mengenang Bencana Palu dan Donggala

***

Fajar Kliwon (Mohamad Fajar Ramadan)*

SAJAK

Saat maut menunggangi kuda putih dari arah laut yang surut
Hatiku menyanyikan namaMu dan aku berdiri sebagai manusia
Sebab tak pernah ada yang runtuh atau hilang ditelan bumi
Selagi nasib adalah rumah dan pikiran adalah jalan yang mesti ditempuh

Saat maut menunggangi kuda
Dan menyeretku di daratan, aku diam sebagai bahasa
Menghanyutkan rumah, membasahi dada yang berduka
Kehancuran ini adalah aku yang mesti kau peluk

Semua hanya tentang tafsir
Maka nyanyikanlah diriku!

15/10/2018 23.43

 

SETELAH BENCANA

I
Di sini Tuhan menanggalkan tubuhku.
Dari bukit kegelapan, bulan dan matahari
menolak datang. Tak ada hari, tak ada waktu
Sementara kampung halaman berulang runtuh
Lalu kembali utuh dalam kepalaku.
Wajah istri dan anak-anakku
Menjauh-mendekat seumpama air lautan
Aku ini di mana. Ketika aku berteriak
Tak suara anginpun kudengar.
Gusti, kini aku berdiri sebagai adam atau apa
Gusti, apa seharusnya ini pesta

II
Hari itu, di bibir pantai. Kita sepakat pisah
Sebab cinta tak mampu jinakkan lapar-liar di perut kita,
Hatiku patah dan mencipta gelombang di lautan
Anak-anak tak tahu apa-apa, kecuali istana
Yang mereka bangun dari pasir waktu itu hancur
Ah senyumnya yang tipis. Ah mereka pergi, hilang.
Dan kini ketika aku terjaga, mereka datang kembali
Tak pergi-pergi. Gusti, kenapa setelah mati
Kenapa cintaku yang gelandangan
Terus jadi hantu. Gusti, kenapa duka terus berulang.

15/10/2018 23:23

lahir di Bandung 30 Desember 2018. Aktif bergiat di Sekber Institute, ASAS UPI. Masih lajang dan bingung menentukan pilihan. Suka menulis puisi dan suka mengamati dosen muda yang cantik. Beberapa puisi dimuat di Media Indonesia, Malang Post, Tatkala.co.id, dan Kibul.in. Pekerjaan sehari-hari hanya mengurusi puisi sendiri. Saya kurang ganteng, tapi sombong karena kekurang gantengannya.

***

Aulia Ramaddin*

Sayap-Sayap Kecil

/1/
adzan maghrib baru selesai
menyuruh anak-anak pulang dari
jalan-jalan lengang. dan burung-burung
gagak paham, bahwa itu adalah sirene
yang mengarahkan mereka ke sarangnya.

sebelum semua menjadi sunyi,
burung-burung terbang ke arah matahari tenggelam,
diikuti teriakan-teriakan pasrah dan doa orang-orang,

bumi mengajak semua yang di atasnya
untuk bergoyang.

lalu air laut pergi menjauh
seakan tidak tertarik dengan
keramaian yang dibuat-buat oleh lempengan tanah.

tapi selang berapa saat, air laut
kembali dengan angkuhnya.
ia datang sambil membawa riuhnya
suara dari isak tangis manusia.
lalu jatuh.

/2/
air bah menggerayangi rumah-rumah,
jalan-jalan, pekarangan, dan kemudian
mulai menyetubuhimu.

kau mengulurkan tangan dan meminta pertolongan
sedang yang menyambut uluran tanganmu
adalah malaikat yang diutus Tuhan
seraya berkata,
“di sini kurang baik. raihlah.
akan kuperlihatkan keindahan kepadamu.”

lantas kau meraih tangannya dan tidak sadar
bahwa di punggungmu telah tumbuh sayap-sayap kecil.

2018

* lahir di Jakarta pada bulan Desember. Sedang berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sekarang sedang bergiat di ASAS UPI. Masih mencoba membuat puisi yang layak.

***

Jundun Yade Alfarid*

DARI PERI PALU DAN DONGGALA

Di televisi, tersiar orang tidur berlumur lumpur
Harta dan benda terkubur
Sementara bayi menangis di atap rumah
Dan seorang Ibu sibuk mencari susunya sendiri.
Koran kabarkan penderitaan; kios hanya sisakan
Kelaparan, pada tubuh basah oleh air mata–habis semua.

Kekasihku, banyaklah minta doa dan ampunan
Jangan biarkan dirimu putus asa oleh waktu yang berat.
Percayalah, sungguh kematian begitu bersahabat
Bukan untuk orang tua pula tubuh perkasa.

Di ini bumi, kita tak bisa berbuat apa-apa
Tanpa siapa-siapa.
_______“Apabila bumi digoncangkan
_______dengan goncangan yang sangat dahsyat”

Tiba saatnya kita basuh wajah kota dari zina dan perjudian.
Di alam barzakh, banyak arwah menangisi dirinya
‘Sujud dan patuhlah pada Sang Empunya Maha’
Jangan biarkan negeri ini marak oleh syirik dan perdukunan
Atau biarkan pemimpin yang tak tahu arti adil dan kemanusiaan.
Tentu tak menginginkan tanah yang telah menimbun Sodom dan Gomora.

2018

* lahir di Garut, 4 mei 1998. Saat ini aktif bergiat di Hima Satrasia sebagai Ketua Umum, ASAS UPI, dan UKSK UPI. Di samping itu, ialah seorang ’petani tulip–untuk karya puisi, cerpen, dan esai’ yang kini mengartikan semua bunga-bunga yang ditemuinya ialah ilusi

***

Rafqi Sadikin*

Penjernihan

I
sekiranya turun beban langit
ke setiap garis wajahmu
mengalir membasuh
kebakaran hutan
di hijau hari-harimu

jangan lari dulu
biarkan terus mengalir sampai ke tubuhmu

bukankah sebuah keberuntungan
menjadi saksi pertama
ketika langit sedang memecah kebuntuan?

II
ceracau burung hinggap diatas nisan
rumahku atau rumahmu adalah nisan itu
perjalanan sudah sampai
tinggal satu perjalanan lagi

namamu yang dulu tak kucari
sekarang tercatat di langit
kini tak perlu risau
bayar-bayaran
lagi

sebuah perjalanan yang panjang
rasanya tak berkesudahan
sebuah perjalanan memang sudah diciptakan
berakhir dengan
selamat jalan

2018.

* lahir di Bandung 16 Juli 1999. Saat ini aktif di Hima Satrasia FPBS UPI, UKSK UPI dan ASAS UPI. Akhir-akhir ini lebih fokus dalam kepenulisan esai sastra

***

Rio Tirtayasa*

Surat Kepada Tuhan

Tuhan, ketika matahari runtuh
Kau pun meruntuhkan batin kami
sebab tanah yang kami pijak menari
anggun meretakkan tubuh jalan

Tuhan, atas perintahMu
air suci yang tak mau menerima mayit
justru menyeret kami magrib itu

Tuhan, di tempat lain rumah Kau tenggelamkan
sebab Kau melunakkan hati tanah yang keras
hingga ia hangat dipeluk longsoran

Kami tak mengerti, Tuhan
ada yang bilang itu azab untuk kami
padahal doa dan syukur kami sembahkan
ada juga yang bilang sebab Kau cinta kami
dan Kau ingin kami cepat kembali padaMu

Kini kota Palu tak sekeras namanya
kota ini menjadi pilu, Tuhan
wajah suram memenuhi tiap kata
dan pandangan seram di mana-mana

Tuhan, berikan harapan pada kami lagi
Sebab Kau maha pengasih lagi penyayang

* Mahasiwa Bahasa dan Sastra Indonesia yang sibuk menjalani hari-hari dengan berpikir untuk menulis. Lahir di Jakarta pada saat hujan air dan cahaya pagi. Beraktivitas di bidang kepenulisan di ASAS UPI dan UPM UPI.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account