Darah Muda: Problematik Pendidikan

Darah Muda: Problematik Pendidikan1

oleh Rivaldi Pamungkas2

 

Identitas Buku

Judul                            : Darah Muda

Penulis                        : Dwi Cipta

Tahun terbit               : 2018

Penerbit                      : Literasi Press

Dimensi Buku            : 13 x 19 cm

Tebal                            : x + 386 halaman

ISBN                             : 978-602-72918-3-6

Akhir-akhir ini, saya sedang bergelut dengan masalah-masalah yang muncul dalam dunia pendidikan. Bukan hanya tentang peraturan pemerintah yang cukup menjadi polemik di kalangan mahasiswa, bahkan sampai pada ranah pelaksanaan seperti metode mengajar guru maupun dosen yang tidak mengalami perubahan signifikan setiap tahunnya alias selalu menempatkan murid sebagai objek, bukan subjek.

Kasus perundungan juga tak pernah lepas dari pendidikan, baik di sekolah dasar maupun perguruan tinggi. Hal ini disebabkan oleh pencarian jati diri yang tidak mampu diwadahi oleh instansi pendidikan hingga berakibat pada haus eksistensi. Masih banyak problem tentang pendidikan di Indonesia. Ini menjadi pekerjaan rumah negara tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu berjalan.

Sastra sebagai cerminan kehidupan sosial juga merekam permasalahan pendidikan di Indonesia. Novel Darah Muda (Literasi Press, Januari 2018) karya Dwi Cipta salah satunya. Novel dengan 18 bab ini menggambarkan tentang permasalahan pendidikan.

Novel Darah Muda karya Dwi Cipta bercerita tentang tokoh aku yang terjebak dalam lika-liku pendidikan. Alih-Alih menikmati masa sekolah, tokoh aku justru mengalami kekecewaan. Berikut saya paparkan beberapa masalah yang dialami tokoh aku di dunia pendidikan.

  1. Perundungan

Perundungan atau lebih dikenal dengan bullying merupakan tindakan gangguan fisik ataupun nonfisik (ujaran atau ejekan) terhadap seseorang. Tokoh aku mengalami perundungan ini. Parahnya lagi, tindakan tersebut ia dapat tanpa alasan jelas.

Ketika guru itu tengah berbicara, seorang anak lelaki bermuka kecil dan tiga temannya mulai mendorong-dorongku dari belakang dan samping. Semula aku diam saja menghadapi ulah mereka. Namun tangan mereka semakin sering mendorongku secara tiba-tiba dari belakang….

Bukan hanya menendang kursi, ia juga mulai mengucapkan kata-kata makian padaku. Yang mengherankan, anak-anak lain seperti terpengaruh oleh ulahnya.

Kutipan di atas merupakan proses perundungan yang dialami tokoh aku pada hari pertama. Hari kedua, tokoh aku mengalami gangguan fisik karena memilih untuk melawan. Namun, perlawanannya dibalas dengan pukulan. Tokoh aku akhirnya membulatkan tekad untuk tidak kembali ke sekolah dan memilih menghabiskan waktu selama dua tahun di aliran sungai, mengamati alam sekitar.

  1. Formalitas Mengajar

Terkadang, saya mendapati guru yang sekadar mengajar hanya untuk menuntaskan kewajiban saja, tanpa ada metode atau treatment terhadap siswa yang memiliki pemikiran lain atau potensi lain. Novel ini pula menghadirkan bagaimana guru mengajar. Selepas membaca buku tentang siswa yang bisa lompat kelas, tokoh aku bertanya pada tokoh guru bernama Warno, apakah dirinya bisa melompat kelas seperti di buku.

“Bagaimana kau bisa lompat kelas? Di sekolah mana pun tidak ada siswa yang bisa lompat kelas. Sudah duduk saja dan tidak usah bepikir macam-macam.

“Buku kok dipercayai. Tidak ada lompat kelas-kelasan. Yang suka lompat hanya katak. Kau mau jadi katak?”

Kata-kata tersebut bagi saya merupakan bagian dari formalitas. Guru Warno hanya mengikuti aturan sekolah dan membandingkan dengan sekolah lain. Seharusnya guru mampu melihat, jika tokoh aku mampu,  kenapa tidak untuk melompat kelas.

  1. Kepatuhan Lebih Utama dari Kecerdasan

Tokoh aku tidak percaya bahwa hasil ujian sekolah dasar akhir menempatkan dirinya di bawah Utomo. Utomo tak pernah masuk hitungan paling pintar di kelas, namun karena ia patuh terhadap guru dan selalu berpakaian rapi, ia selalu mendapatkan perhatian lebih. Tokoh aku pun percaya bahwa pengawas memberikan sontekan pada Utomo—teman-teman yang lain pun berpikiran sama—. Hal ini membuat tokoh aku merasa aneh. Pengawas yang seharusnya melarang siswa untuk menyontek, justru malah memberikan sontekan.

  1. Guru Lebih Pintar daripada Murid

Tokoh aku mendapatkan hasil rapor yang mengejutkan. Tokoh aku mendapatkan ranking lima, ketika dirinya yakin akan mendapatkan ranking  satu. Hal ini diyakini oleh tokoh aku karena ia selalu menjawab pertanyaan wali kelasnya dan meminta memeriksa di buku, apakah jawabannya benar. Setelah itu, guru (wali kelas) marah dan tak mau mengajar lagi. Tokoh aku akhirnya bersikap akan berpura-pura untuk memercayai ucapan gurunya.

Beberapa masalah yang saya sebutkan di atas membuat tokoh aku lebih memercayai buku, daripada apa yang diajarkan di sekolah ataupun kuliah. Baginya, instansi pendidikan hanya menghasilkan robot yang harus patuh dan bekerja sesuai mekanisme. Mengejar nilai bukan pemahaman. Mungkin hal ini pula yang membuat tokoh aku tidak melanjutkan masa kuliahnya.

Bagi saya, kekurangan novel ini adalah kesadaran tokoh aku dalam menilai sistem pendidikan yang dialaminya. Ia tidak melawan dan menuntut hak dirinya sebagai mahasiswa. Tokoh aku memilih untuk membuktikan diri dengan mengikuti segala macam bentuk pendidikan. Ia membaca buku karena baginya hanya buku yang mampu meningkatkan gairah imajinasinya agar muncul. Tidak salah, namun bagi saya, seseorang yang sadar seharusnya mampu bergerak bersama massa untuk menciptakan perubahan agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan bagi mahasiswa lainnya, bukan malah membiarkannya.

Selain soal menuntut, kekurangan dari novel ini adalah tokoh aku tidak mempunyai nama, selain panggilan kirik yang disematkan padanya semasa kecil. Seperti Minke, dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, nama tokoh bisa dijadikan sebagai status sosial tokoh tersebut dan bisa memperkuat alur cerita.

Di luar kekurangan tadi, novel ini bisa menjadi bahan renungan bagi para akademis dan aktivis pendidikan untuk menciptakan pendidikan lebih baik dengan mengetahui masalah-masalah yang hadir dalam novel. Selain membahas problematik pendidikan, novel ini juga menceritakan tentang cinta, mitos, dan konflik keluarga serta sekelumit jalan demi menjadi seorang penulis.

 

1 pernah dimuat di rubrik Resensi buruan.co,  27 Maret 2018.

2 aktif bergiat sebagai anggota ASAS UPI dan pernah menjadi ketua UKSK UPI tahun 2016-2017, tinggal di Bandung. Lahir di Sukabumi, 26 Juli 1995.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account