Yang Mengoceh, Yang Mengecoh

Yang Mengoceh, Yang Mengecoh1

Secuplik Pengantar

oleh: R. Abdul Azis2

 

 

Bismillah

 

……………………………………

keasingan yang mempesona, segala

tersayang yang telah hilang ——

   penenggelaman

dalam akrab dan lelap

kepanjangan mimpi tanpa derita

dan amuk badai antara insan?

gumam, senyum, dan berjabatan tangan

(Cocktail Party – Toeti Heraty)

 

Syahdan

 

Mula-mula

Suatu ketika, ada kabar kalau seorang kawan menjumpai puisinya di sebuah media massa. Setelah mendengar kabar tersebut, saya sungguh bahagia, sekaligus iri. Sebab suatu kerinduan bagi saya untuk menjumpai puisi sendiri di media massa. Agak baper memang, namun perasaan itu buru-buru saya konversi.

Ya, barangkali sebaik-baiknya konversi kebahagiaan –bagi pekarya- ialah menciptakan karya tandingan. Tapi selain itu, selemah-lemahnya konversi, ialah mengapresiasinya. Maka dari itu, atas dasar kebahagiaan (pun kebanggaan), saya diperkenankan untuk mengapresiasi karya kawan saya tersebut. Dan seakan sudah jadi tradisi ASAS untuk membahas puisi seorang anggota yang dimuat.

Adalah Fajar Kliwon, alias Maskot si penghuni Sekber yang sedang sumringah dalam beberapa waktu ke depan, setelah mendapati puisinya dimuat koran Media Indonesia. Dan @adalahgadul (yang bisa di-follow instagramnya), yang kali ini akan membahas puisinya.

Ada 6 puisi Maskot yang dimuat, namun hanya tiga puisi saja yang coba saya bahas. Mengapa? Sebab alangkah tidak dewasanya Maskot kalau ingin dibahas keenam puisinya.

 

Membaca Epitaf

 

Apa itu “Epitaf?”. Dalam pemahaman kamus, Epitaf merupakan tulisan singkat pada batu nisan untuk mengenang orang yang dikubur; atau pernyataan singkat pada sebuah monumen. Lalu apa itu “Epitaf Pada Waktu?”. Barangkali dalam interpretasi bebas saya, maksudnya catatan (duka) yang ditulis (tertulis) pada waktu. Lantas pada puisi “Epitaf Pada Waktu”, apa yang sebenarnya ingin disampaikan?

Secetek interpretasi saya, aku lirik menuliskan ‘keresahan’ terhadap tanggal kelahiran yang samar dan hampir menyerah. Saya mencoba memasuki puisi ini dengan cara sederhana: deiksis (menentukan kata tunjuk) semisal aku, kamu, di sini, di sana, kini, nanti.

Saya berargumen ‘hampir menyerah’ karena jelang bait terakhir /Setelah jaman makin jauh//Makin samar diri mesti kemana//Orang tak lagi terasa lalu-lalang//Aku sendirian, ingin tiup nyala api/. Namun, agar lebih terperinci, biarlah saya ungkap satu per satu. Oke, pada bait pertama:

 

Di tanggal kelahiran

Beberapa daun tanggal dari ranting

Lantas diri di tiap catatan silam

Nyalakan lilin bukan untukku hari ini

…………………………………

 

Pada larik pertama, kita bisa menengok penggunaan kata depan di yang bersanding dengan tanggal. Tepatkah itu? Dalam penggunaan kata depan (preposisi), di biasanya digunakan untuk menunjukan tempat (posisi) yang utuh. Maka, untuk menyatakan di tanggal, saya kira itu kurang tepat. Barangkali maksudnya Pada tanggal kelahiran. Atau memang ada kesengajaan untuk menunjukkan posisi yang akurat?

Begitu pun dalam larik /..di tiap catatan/. Pemenggalan kata yang terjadi dalam larik di atas tidak menciptakan daya apa-apa. Mengapa? Sebab dalam karakteristik puisi di atas, penggunaan metrum (suku kata) terasa tidak digunakan secara maksimal.

……………………

Hari serasa makam

Nisan berjajar tersurat kisah-kesah

Yang ditulisi darah sendiri

Kususuri dan kubaca semua

…………………..

 

Pada larik pertama (bait kedua), ada ungkapan /Hari serasa makam/. Diksi makam digunakan penyair sebagai ‘simbol’ demi penggunaan metafora (dan sejenisnya). Namun, pada larik-larik berikutnya /Nisan berjajar tersurat kisah-kesah//Yang ditulisi darah sendiri//kususuri dan kubaca semua/. Aku lirik berupaya menampilkan suasana kesaksian yang ‘berani’. Mengapa? Silakan cek kembali ada medan makna makam, nisan, darah dan aku lirik berkata /kususuri dan kubaca semua/. Sungguh adegan seorang pemberani bukan?

 

………………….

Belum ada debu dari rambutku

Membuat musim kembali tumpah

Lantas buat bumi hijau, terbuka tuk ditulisi puisi

Belum ada kata-kata bangkitkan kota runtuh

……………………..

 

Pada bait ketiga, bisa dilihat bahwa penggunaan diksi semakin tidak konsisten. Pada larik kedua (bait ketiga), ada diksi membuat, sedang pada larik selanjutnya buat. Kalaulah maksudnya mengejar bunyi aliteasi /b/, barangkali penyair belum cakap memahaminya. Mengapa? Sebab pada prinsipnya, penggunaan bunyi dalam puisi itu mesti memperhitungkan beberapa aspek. Mulai dari suku kata (metrum) dan diksi. Sementara efek yang hendak dicapainya pun belum (tidak) ditemukan. Kalau memang itu gaya ungkap (khas) dari penyair, saya kira itu terlalu dini. Dan alangkah gegabahnya saya, kalau berani mengungkapkan hal itu.

Tengoklah korelasi antara /Belum ada debu dari rambutku/ dan /membuat musim kembali tumpah/. Atau pada keseluruh larik pada bait ketiga. Efek apa itu? Kecerobohan? Atau memag kecetekkan pengetahun pengkaji? Mari kita tengok pemahaman Luxemburg mengenai sintaksis puisi. “Sintaksis yang tidak mengikuti logika, dapat berfungsi sebagai penggambaran proses berpikir (yang memang sering kali berupa gagasan) dan pikiran terputus-putus, yang tidak mengikuti urutan logika.” (Luxemburg, hlm 93)

Dalam wawasan Luxemburg mengenai sintaksis puisi, bisa dikatakan bahwa pada bait tersebut, ada kesemrawutan yang tidak sengaja dilakukan. Mengapa tidak sengaja? Mari kita tengok sedikit sajak berjudul “Si Anak Hilang” karya Sitor Situmorang

……………

Si anak hilang kini kembali

Tak seorang dikenalnya lagi

Berapa kali panen sudah

Apa saja telah terjadi

 

Selain ada kemiripan dengan stuktur pantun, bait di puisi di atas pun sengaja menggunakan konsep enjambemen dan metrum yang ciamik.

Sementara itu, pada puisi “Epitaf Pada Waktu”, penyusunan diksi dalam sebuah larik (sintaksis puisi) itu terjalin begitu rumit. Puisi seolah sedang berceloteh kepada pembaca tentang sebersit ‘keresahan’, dengan penggunaan struktur setiap larik yang ‘jelimet’.

 

Imaji yang Mengecoh

 

Silakan tengok puisi kedua. Saya sengaja menampilkan keseluruhan puisi, karena puisi cenderung pendek.

 

Pohon Kapas

di Taman Kota

 

angin berlari kencang

dan kita berdiri di ini ladang

menatap kapas matang berjatuhan

macam hujan yang lembut

 

aku hampir kamu

melihat jiwa kita

yang pergi

banyak dan sakit.

 

2017

 

Pada pusi “Pohon Kapas di Taman Kota”, kita bisa membayangkan ‘penghayatan’ aku lirik terhadap Pohon Kapas. ‘Penghayatan’ tersebut bisa kita dapatkan pada bait kedua /aku hampir kamu//melihat jiwa kita//yang pergi//banyak dan sakit. Pohon kapas tersebut ‘diumpamakan’ /..jiwa kita//yang pergi//banyak dan sakit/. Namun, sedalam apa penghayatan itu?

Silakan tengok bait pertama. Terdapat sebuah imaji yang dibangun. Sedikitnya ada imaji gerak dan penglihatan. Namun sayangnya, tiada yang istimewa. Mengapa? Karena pendalaman imaji yang dilakukan, masih hal yang wajar. /..berdiri di ini ladang//menatap kapas matang berjatuhan/.  Sementara /macam hujan yang lembut/ itu merupakan upaya personifikasi,

Jika kita perhatikan lebih seksama, ada kelemahan imaji pada /menatap kapas matang berjatuhan//macam hujan yang lembut/. Kapas yang jatuh, diibaratkan hujan yang lembut? Gerimis? Kalau dikaji lebih dalam, apakah masa berat gerimis dan kapas matang yang berjatuhan, itu sebanding? Barangkali saya bisa bilang kalau personifikasi yang dilakukan pun sejatinya kurang berhasil. Mengapa? Fungsi perbandingan tidak langsung (personifikasi) itu biasanya menyuguhkan hal abstrak dan hal konkret, untuk memberikan penekanan kesan.

Dalam wawasan Luxemburg, dikatakan bahwa “Fungsi penting majas ialah bahwa ada dua ranah makna, dua kerangka acuan yang secara logis tak ada atau hampir tak ada kaitannya, dihubungkan satu sama lain sehingga tercipta makna yang baru, yang tak terduga” (Luxemburg, hlm 94)

Kata kuncinya, adalah “makna baru yang tak terduga”. Apakah dalam sajak di atas terdapat makna baru yang tak terduga. Mungkin iya, tapi cenderung tidak. Maksudnya, membayangkan sesuatu hal jatuh, tersibak angin itu kerap kali diupayakan serupa hujan. Apakah tidak ada imaji lain “yang tak terduga”?

Karena dalam wawasan cetek, saya selalu berpegang bahwa ‘Imajinasi’ itu menjembatani eksistensi fakta sosial. Lantas, masuk ke dalam kerangka pemahaman subjek (pengarang atau pembaca) sehingga menimbulkan makna yang jamak.

Namun, kalau dalam segi imaji itu terkesan kurang istimewa, justru saya mendapati adanya penggunaan bunyi ng yang dominan. Lihat diksi kencang, ladang, dan matang. Penggunaan bunyi ini cukup efektif, karena paduan diksi yang tersuguhkan pun cukup lembut. Maksudnya, tidak ada ‘ledakkan’ diksi seperti yang terjadi pada puisi pertama. Puisi di atas cenderung tenang dan teratur.

Tapi, kita perhatikan lagi baik-baik. Koherensi antara judul dan isi, bisa dikatakan cukup berdekatan. Hanya saja, korelasi antarbait, seakan terlalu terburu-buru. Mengapa demikian? Sebab, pada bait kedua, deiksis kamu, tiba-tiba muncul sebagai perantara ‘penghayatan’ yang mula-mula dibangun. Diksi kita pun menjadi ambigu, ketika aku hampir kamu atau secara tidak langsung interpretasinya: aku hampir menjadi dirimu (sifat). Lantas dipadankan dengan melihat jiwa kita. Apabila jiwa kita yang dimaksud adalah bayangan dari kapas (‘matang’ ‘berjatuhan’), maka diksi melihat itu tidak relevan. Barangkali padanannya ialah membayangkan.

Ocehan-Ocehan

Apakah sajak itu ruang? Waktu? Atau makhluk khayali yang ngos-ngosan dikejar kenangan? Barangkali ya, barangkali bukan. Pertanyaan itu seakan menunjukan bahwa sajak kehilangan identitasnya. Lalu tengoklah puisi “Inikah Sajak?”

Deiksis ini bisa dimaknai sebagai hal yang dekat. Lantas diksi sajak, menjadi objek yang dicari eksistensinya. Karena judul puisi tersebut, berupa pertanyaan, (yang nantinya diulangin beberapa kali dalam bait-baitnya). Silakan lihat bait pertama:

 

Inikah sajak?

Di mana kau menempati rumah

Bersama sanak keluarga

Ketika bulan dan bintang-bintang berkilauan

Di wajah kolam yang bergelombang

…………

 

Deiksis ini, secara tidak langsung ditunjukan sebagai peristiwa. Karena unsur larik yang membangun, menggambarkan suasana kau yang menempati rumah bersama sanak keluarga. Bisa jadi, aku lirik yang lesap (dan hanya menampilkan kau sebagai deiksis selanjutnya) mempertanyakan arti sebuah sajak itu, apakah hanya hal-hal ‘yang romantis’, ‘yang hangat’ saja? Sebab, kolerasi antardiksi yang diemban pun menunjukan kesan ‘hangat’ atau ‘romantis’. Sila lihat rumah, sanak keluarga, bulan dan bintang-bintang berkilauan, dan kolam.

 

………………………….

Menuntut puji dan penyerahan diri

Lantas matamu rela bertahun-tahun

Mengupas rahasia yang tak mungkin terungkap

Orang-orang yang meninggalkan sajak

………………………………

 

Namun pada bait selanjutnya, kita bisa melihat kekacauan (lagi) yang teremban. Kolerasi antara bait satu dan bait dua cukup berjarak. Barangkali itu yang hendak disuguhkan, tapi mari kita cek kembali.

/Inikah sajak?/ Di mana kau menempati rumah/ /Bersama sanak keluarga/ /Ketika bulan dan bintang-bintang berkilauan/ /Di wajah kolam yang bergelombang/ /menuntut puji dan penyerahan diri/ /Lantas matamu rela bertahun-tahun/ /Mengupas rahasia yang tak mungkin terungkap/ /Orang-orang yang meninggalkan sajak/.

Ada yang ganjil dari gaya bait pertama dan kedua.

Pertama, larik menuntut puji dan penyerahan diri terhadap apa? Keluarga? Atau bulan dan bintang-bintang? Kedua, diksi lantas menunjukan peristiwa lain (yang berjarak) dengan larik sebelumnya. Ketiga, diksi sajak yang awalnya dipertanyakan eksistensinya, malah ditampilkan kembali pada orang-orang yang meninggalkan sajak. Apa maksudnya?!

Tiga keganjilan itu membuat pembacaan puisi menjadi rumit. Karena, sudah judulnya mempertanyakan sajak, bait kedua pun seakan menjadi rahasia yang tak mungkin terungkap.

……………….

Inikah Sajak?

Di mana kau bisa berpesta

Bersma hal yang menurutmu sia-sia

Malam anggur, pagi vodka, bergoyang bersama

………………..

 

Ada paradoks dalam bait teratas. Tengok larik kedua dan ketiga /Di mana kau bisa berpesta dan /Bersma hal yang menurutmu sia-sia/. Selain terdapat typo, pada diksi Bersma, ada kesan betapa terburu-buru pada bait tersebut. Mengapa? Sebab secara logika, penggunaan diksi di mana seringkali menunjukkan tempat. Namun, upaya dalam puisi tersebut, bukan hendak menunjukkan tempat, melainkan suasana pesta. Selain itu, ada keabstrakan hal yang menurutmu sia-sia. Apa yang dimaksud sia-sia? Kalau memang penjelasan kesia-siaan itu pada larik selanjutnya /Malam anggur, pagi vodka, bergoyang bersama/ berarti ada diksi pesta akan menjadi suasana yang ‘sekadar saja’.

Upaya menampilkan kesan paradoks ini menjadi sangat berisiko, apabila diksi kurang tepat ditempatkan. Diksi pesta, hal yang menurutmu sia-sia, dan malam anggur, pagi vodka menjadi hanya sekadar berdesakan. Namun, apabila sekadar dinikmati, larik di atas masih bisa dinikmati seadanya.

………………

Inikah sajak?

Waktu yang tak pernah samar

Mengantarmu ke harapan-harapan

Atau membuatmu manusia kembali

 

Lagi-lagi ada keganjilan yang terjadi. Entah itu kurang tepatnya penggunaan diksi atau memang pemasangan simbol yang terlalu rumit. Contohnya, pada diksi samar. Samar, dalam Kamus memiliki dua arti pertama: tidak kelihatan nyata, atau kabur. Kedua: khawatir, waswas (itupun dalam bahasa Jawa). Keambiguan itu ditempatkan pada posisi yang menjebak pembaca. Karena, pada dasarnya, kalau toh pemaknaannya menjadi /waktu yang tak pernah khawatir/, silakan saja gunakan diksi ‘khawatir’. Namun apabila samar yang dimaksud adalah terlihat tidak nyata, atau kabur. Maka, diksi samar kurang cocok.

Begitu pun pada diksi membuatmu pada /Atau membuatmu manusia kembali/. Apabila pada larik sebelumnya disampaikan bahwa /Mengantarmu ke harapan-harapan/ maka diksi membuatmu menjadi sedemikian ganjil. Mengapa? Apakah logika waktu akan membuatmu manusia kembali. Oke mari kita singkirkan dulu kerumitan ini.

Interpretasi dalam bait terakhir ini merupakan pertanyaan eksistensi sajak yang (bisa) Mengantarmu (menjadi) manusia kembali. Ya, diksi manusia bisa dijadi hanya diambil sifatnya saja: insan. Karena apa? karena pada mulanya, sajak telah kehilangan eksistensinya (dipertanyakan), lantas ada upaya penginsanan yang dilakukan. Namun, lagi-lagi keterkaitan antara diksi waktu dan membuatmu, seakan berjarak. Apalagi ditekankan dengan diksi kembali yang seolah-olah, ‘pernah menjadi insan’.

Semisal Penutup

Setelah membaca tiga puisi di atas, saya mendapati berbagai gaya tutur yang mengecoh. Ya, Ada bentuk penyimpangan yang khas semisal  pergantian kategori gramatikal satu hal dengan hal lain. Entah itu menjadi kelebihan atau kekurangan. Namun hemat saya, ada baiknya ‘ocehan-ocehan’ dalam gaya turun yang ‘jelimet’ itu bisa dikurangi. Ataupun kalau toh memang gayanya demikian, hendaknya lebih cermat lagi dalam menempatkan diksi dan pemilihan imaji.

Barangkali hanya sekian secuplik pengantar yang bisa saya sampaikan, sisanya mari kita berdiskusi.

 

Bandung, 2018

 

1 disampaikan dalam Reboan ASAS UPI, 28 Februari 2018.

2 Anggota ASAS, tinggal di Bandung. Penulis Partikelir.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account