Upaya Membalas Jarjit Radea

Upaya sedang menyelesaikan tulisannya. Cerita pendek dengan perjuangan panjang. Hampir seminggu ia berada dalam kamar indekos sumpek dan sempit. Ia tak pernah sadar dengan kejadian di luar kamar. Gorden kusam dibiarkan menutupi cahaya. Buku-buku berguguran di lantai. Puntung dan abu rokok berserakan. Segelas kopi dingin dan cermin di samping laptop senantiasa menemani.

Tiap rembang petang, pikiran, waktu, tenaga, dan perasaan ia curahkan untuk menulis. Pagi sampai sore ia hanya tidur. Ia rela bolos dari perkuliahan. Bahkan, ia tak menjawab panggilan telepon dan membalas pesan dari kekasihnya. Padahal sehari dalam seminggu itu kekasihnya berulang tahun.

Sebagai penulis muda minim pengalaman, ia selalu menemui hambatan. Ironinya hambatan sering datang dari kebodohan sendiri. Baterai laptopnya sudah rusak. Diperlukan beberapa buku untuk menopang kabel pengisi daya ke laptopnya agar ia bisa menulis. Sering laptopnya tiba-tiba padam karena ia tak sengaja menggeser posisi laptop atau mengambil satu buku penopang. Selain itu, tengah malam kemarin ia tidak menduga ada pemadaman listrik. Saat ia asyik menulis, laptop padam lagi. Parahnya ia juga sering lupa menyimpan failnya. Memang cerpen tak sepenuhnya hilang. Tapi, separuh semangatnya berhasil terbunuh.

Maka tiap malam, cerpennya sering berganti. Baik alur, tokoh, latar, bahkan judul. Sampai akhirnya, ia berjanji pada diri sendiri akan menulis cerpen tentang sejarah berdarah negaranya. Tokohnya seorang istri peranakan Tionghoa. Suaminya tiba-tiba hilang. Puluhan lelaki datang hendak meminang, tapi ia bersetia.

Sebab cerpen tak kunjung rampung, ia sempat terpikir mencoba jalan pintas. Ia berniat untuk membeli minuman keras dan beberapa linting daun kering. Konon, kedua barang haram itu mampu merangsang kenikmatan dalam pening. Imajinasi keluar liar tanpa bisa dibendung. Ia urung membeli barang haram itu setelah teringat pesan ibunya. “Saat hendak melakukan sesuatu ingatlah arti namamu. Jika kau percaya, kau bisa melakukan apa saja. Hasil tidak pernah mengkhianati upaya.”

Malam itu, setelah berjam-jam Upaya menulis, cerpen baru beberapa paragraf. Tiba-tiba, ia terhenti. Ia menerawang langit-langit kamar. Ia galau memikirkan kelanjutan cerpennya. Dengan hati dan pikiran resah seseorang sulit be rpikir jenih. Apalagi tujuan ia menulis cerpen bukan untuk mengeluarkan buah gagasan. Tapi, untuk sebuah pembalasan.

Dua minggu lalu kenyamanan hari-harinya terganggu saat tahu dua cerpen Jarjit Radea terbit di koran. Tak tanggung-tanggung, satu koran lokal dan satu lagi nasional. Ia tak menyangka. Pasalnya, salah satu cerpen adik tingkatnya di kampus itu pernah ia kritik habis-habisan. Ia bahkan menilai cerpen itu tak layak muat.

Parahnya, setelah mendengar kabar itu, dalam kepalanya sering terngiang suara cekikikan persis seperti saat Jarjit menunjukkan koran itu kepadanya. Setiap ia mendengar orang tertawa, bayangan Jarjit senantiasa nyata. Bahkan, ia enggan menemui kekasihnya gara-gara tawa merdu kekasihnya tiba-tiba terdengar seperti cekikikan Jarjit yang sombong.

Jika Upaya sadar, sangat pantas Jarjit sombong padanya. Tanpa sepengetahuan Upaya, Jarjit memendam dendam setiap Upaya mengkritik cerpennya. Bahkan, pernah perasaannya seperti tersayat belati saat melihat Upaya membakar karyanya. Selepas itu ia berjanji jika kelak cerpennya terbit, orang pertama yang ia datangi adalah Upaya.

Maka, ia kemudian berjuang lebih berdarah-darah dan lebih cerdas dibanding Upaya. Ia selalu menguasai tulisannya. Dituliskannya hal-hal yang dekat dengan dirinnya. Ia kerap memakai bagian terbaik dari harinya. Selain itu, ia sering mendikuskikan karyanya dengan banyak orang termasuk Upaya.

Di tengah pikiran yang entah ada di mana, Upaya melihat pantulan wajahnya di cermin. Gaya menempatkan cermin saat menulis ia dapat dari kekagumannya pada seorang penulis berdarah Minang. Lantas ia menatap wajahnya yang bulat. Dibenarkannya posisi kacamata yang juga bulat. Dirapikannya rambut gondrong lalu mengelus berewoknya yang cukup lebat. Sejurus kemudian ia teringat paras Jarjit Radea.

“Bahkan, dilihat dari segi wajah, aku lebih pantas jadi penulis.”

Upaya menyalakan rokok lalu bangkit dari duduknya. Ia mengambil selembar koran dari balik celana dalamnya. Pada lembar koran itu, terdapat cerpen Jarjit Radea. Sejak ia menulis cerpen, lembar koran itu tersimpan di balik celana dalamnya. Maka wajar koran itu sedikit pesing. Meski begitu ia tetap membaca cerpen itu dengan cepat sambil mondar-mandir. Sesekali langkahnya terhenti. Ia mengisap rokok dan abunya jatuh begitu saja ke lantai. Saat ia sampai di akhir cerpen itu, ia menyelipkan lagi lembar koran itu di celana dalamnya.

“Cerpen buruk seperti itu bisa dimuat,” jelasnya dengan nada kesal lalu melempar puntung rokok ke sembarang arah.

Kata beberapa penulis hebat, menulis harus dalam keadaan nyaman. Pikiran dan hati mesti tenang. Jika sebuah tulisan sulit diselesaikan, tinggalkan. Menulislah lagi. Jangan habiskan tenaga dalam ketakpastian. Tapi, Upaya tidak peduli dan tetap yakin mampu menyelesaikan cerpennya.

Sejak remaja ia hampir bisa menyelesaikan segala masalahnya. Hidup dari keluarga serba cukup kadang membuatnya berleha-leha meski sering dituntut untuk ikut arah dan keinginan orang tua. Apalagi ayahnya. Dulu, ia ingin masuk SMA agar bisa dekat dengan cinta monyetnya. Tapi, ayahnya malah mendaftarkan ia ke SMK. Ia pun menerima dan sesuai namanya berupaya untuk menyelesaikan sekolah. Selama empat tahun, ia berupaya tekun mempelajari mesin bubut.

Setelah lulus, ia ingin langsung bekerja. Tapi, ayahnya ingin ia berkuliah, “Coba dulu ke negeri.”

Ia pun akhirnya mendaftar. Ia asal-asalan memilih universitas serta jurusannya. Karena tak ingin, ia berupaya menyelesaikan tes itu seenaknya. Tak disangka ia lolos dan masuk di jurusan sastra. Saat tahu anaknya masuk universitas negeri, orang tuanya senang dan langsung membayar puluhan juta biaya pendaftaran.

Seorang anak tak akan sanggup mengusik kesenangan orang tuanya, begitu pula dengan Upaya. Ia akhirnya kuliah di jurusan sastra meski tidak tahu mesti melakukan apa. Tapi, ia tetap berupaya seperti namanya dan sebisa mungkin tidak membuat uang orang tuanya menjadi sia-sia.

Salah satu cara berkuliah di jurusan sastra adalah menulis. Ia pun berjuang untuk bisa menulis. Perjuangannya selama hampir dua tahun berbuah manis. Cerpennya terbit. Tapi, karena ia berasal dari keluarga serba cukup, baginya prestasi itu telah cukup. Pikirnya, cukup dengan itu ia sudah penulis. Pikirnya lagi, pengetahuan tentang sastra yang itu-itu saja, ia sudah cukup jadi seorang sastrawan. Maka saat penulis seusianya menelurkan banyak karya, Upaya adalah kekecualian.

Upaya kembali duduk lalu menggerakan badannya ke depan dan ke belakang. Kepalanya mangut-mangut. Masih ia pikirkan kelanjutan cerpennya. Di tengah keheningan malam, tiba-tiba ia mendengar suara.

“Berhentilah, anak muda. Jangan memaksakan dan mementingkan kehendak sendiri.”

Ia terkesiap. Ia memeriksa sekeliling kamar. Tak ada siapa-siapa. Sedari tadi hanya ada dirinya sendiri dan cerpen yang belum rampung. Suara itu terdengar jelas datang tepat dari dekat.

“Jangan menulis hal yang tak kau kuasai dan tak kau sukai. Aku tidak ingin hidup seperti ini.”

Suara itu terdengar seperti suara seorang wanita tua. Ia menyadari, tapi ia pikir halusinasi. Sama seperti saat ia tiba-tiba mendengar suara cengengesan Jarjit Radea. Ia lalu mengucek wajah. Diseruputnya kopi dingin lalu menyalakan sebatang rokok kretek.

Selepas beberapa isapan, dicobanya kembali mengingat cerpen itu. Tiba-tiba ia terpikir mengubah lagi cerpennya. Ia ingin bagian awal lebih menarik. Ia juga berniat mengganti beberapa nama tokoh.

Saat ia hendak kembali menulis, di bagian kosong fail cerpennya huruf-huruf muncul sendiri membentuk kalimat.

“Cukup. Jangan seenaknya memperlakukan orang tua.”

Membaca kalimat itu, ia terkejut. Ia menampar pipinya. Sakit. Ia menampar lagi berkali-kali. Tetap sakit. Ia yakin tak sedang berhalusinasi. Terlebih saat ia melihat huruf-huruf itu muncul lagi. Kali ini kalimat lebih panjang.

“Aku mohon hentikan. Aku tidak keberatan suamiku hilang. Tapi, kau membuatku menolak lelaki kaya dan tampan. Aku tidak bisa mengalami nasib seperti ini. Untuk sekarang, lebih baik cerita ini tak selesai dan lanjutkan hidupmu.”

Matanya merah membaca itu. Debar jantungnya kini mengencang. Jelas ia tak akan berhenti. Jika ia berhenti, perjuangan jadi sia-sia dan ia tak bisa membalas Jarjit Radea.

“Kau pasti tokoh perempuan tua dalam cerita. Dengar, kau tidak tahu pentingnya karya ini. Kau hanya tokoh rekaan. Aku berhak membuatmu lebih baik,” ketiknya.

Selesai menulis itu, huruf-huruf muncul lagi.

“Tuhan saja tidak langsung membuat manusia lebih baik.”

Ia diam. Ia mengingat kapan terakhir ia mengingat Tuhan.

“Heh, perempuan tua. Cukup. Jangan menulis dan menasihatiku lagi. Aku akan melanjutkan cerita ini.”

“Akuilah bahwa kau amatir. Hentikan dan lanjutkan jika sudah mahir.”

“Kau hanya fiksi. Kau tidak bisa melakukan apapun.”

“Kalau kau tetap memaksa, aku juga akan memaksamu berhenti.”

Kesal, ia hapus percakapan itu. Saat bersiap menulis cerpen, lampu kamar padam. Begitu pula laptop. Ia ingat belum sempat menyimpan fail cerpen itu. Ia tertawa. Begitu nyaring. Dalam gelap, ia mendengar tawanya mirip suara cengengesan Jarjit Radea.[]

 

Cerpen M. Aden Ma’ruf* (pernah dimuat di Tribun Jabar, 22 April 2018)

*Penulis lahir dan tinggal di Bandung. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) dan Buruan.co. Sesekali berjualan buku di toco.buruan.co.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account