Puisi-puisi Fajar Kliwon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Ruang Tamu

-ibu

Seperti biasa tengah hari

Kau sering ceracau

Ingin jelmakan tiap benda di ruang

Menjadi pintu, aku dengarkanmu ibu

 

Inikah ruang ke masa lalu

Cinta lagi, tak ada hal lain

Ingin nikmati tahun-tahun

Milik waktu yang kita runtuhkan

Lalu kita bangun kembali:

Sebuah bukit

Rumah kayu di puncak

Rak kayu dengan potret kita

Anak-anak dan miniatur binatang

 

Aku ingin mengajakmu

Melihat bagaimana cinta

Melerai badai

Mengurai dingin

Menafsir hal-hal nihil

Jadi sebuah kebanggaan

 

Tapi, semua sudah tak miliki pintu

Samar bagaimana rupa cintaku

Ruang tak lagi miliki pintu

Benarkah semua ilusi?

Kuubah semua jadi pintu

Orang keluar-masuk

Entah ke ruang mana, samar

Kita sama diam

Kau ingin muda

Aku ingin tua

 

Di ruang sama kita buat

Semua benda jadi pintu

Ah, hari karnaval itu

Kita tertawa, nasib masih sama

 

2018

 

Epitaf Pada Waktu

 

Di tanggal kelahiran

Beberapa daun tanggal dari ranting

Lantas diri di tiap catatan silam

Nyalakan lilin bukan untukku hari ini

 

Hari serasa makam

Nisan berjajar tersurat kisah-kesah

Yang ditulisi darah sendiri

Kususuri dan kubaca semua

 

Belum ada debu dari rambutku

Membuat musim kembali tumpah

Lantas buat bumi hijau, terbuka tuk ditulisi puisi

Belum ada kata-kata bangkitkan kota runtuh

 

Tuhan siapa mesti bahagia hari ini?

Selalu di tanggal kelahiran

Kulihat diri pada wajah kolam

Samar kini harus apa

 

Setelah jaman makin jauh

Makin samar diri mesti kemana

Orang tak lagi terasa lalu-lalang

Aku sendirian, ingin tiup nyala api

 

Di dada

2018

Nocturno

 

Lagi, kukelilingi kota

Saat malam tak kunjung

Menina-bobokan diriku

Malam laiknya aku menunggu

 

Di pertigaan, sunyi seperti

Arit digenggam penyamun

Yang kuhadapi, yang keliru

Sebab aku tak punya apa-apa

 

Kukatakan padanya

Apa arti jiwaku

Di mana awan kelabu

Lalu-lalang tak bertujuan

 

Kukatakan padanya

Malam datang bak pasukan berkuda

Menuntut bayang-bayang dari diriku

Kujelaskan semuanya padanya

 

Kukelilingi kota

Membayangkan ia ada di sisiku

Sekaligus bertanya ia sedang mengatakan apa kali ini

Ia sedang bersama siapa di jam ini

Ia sedang di negara krisiskah seperti negeriku

Ia sedang diburu penyamunkah sepertiku

Apakah ia sedang membayangkan aku macam aku detik ini

 

Di hadapan penyamun yang menggenggam sunyi

Kukatakan bunuhlah diriku ya penyamun

Sebab duniaku telah samar seperti malam ini

Entah ia atau dunia yang telah jauh dariku

 

Aku tak bisa tidur, tuhan

Aku tak bisa tidur, Dara

2018

Pohon Kapas di Taman Kota

 

angin berlari kencang

dan kita berdiri di ini ladang

menatap kapas matang berjatuhan

macam hujan yang lembut

 

aku hampir kamu

melihat jiwa kita

yang pergi

banyak dan sakit.

 

2017

 

Kerudung

 

antara bintang dan bulan

yang membiru. sama-sama kami lihat

doa-doa terbang serupa layang

lepas dari genggam, lalu kami tak punya apa-apa.

 

malam masih terbang mengitari

bangkai-bangkai bocah gamis

sementara matahari anjing

berebut air dari mulut mereka.

 

hari itu, di sekitar puing panti

bocah-bocah cari mukanya sendiri

kutanya pada mereka

sudahkah kalian temukan mukaku?

 

rayagung yang limbung

adakah satu ledak bom lagi

untuk hari yang fitri ini

alam masih berpadu, bernyanyi

 

tentang taman kota dan langit cemerlang

disorot matahari kuning tembaga

bunga-bunga mekar pada dada

yang sekarat, kesedihan yang sekarat.

 

hey, orang dewasa apakah hobimu mengacau

di negeri sekecil tubuh kami

bila begitu bunuh saja aku

bunuh nasibmu yang mungkin melekat padaku.

 

sebelum itu, tunjukkan di mana kerudung kami

kerudung kami. selembar kain

di mana dunia yang hijau

menggeraikan rambutnya seperti

 

orang-orang tua kami sebelum keranda

ingin kupakai kerudung sebelum keranda.

2017

 

Inikah Sajak?

 

Inikah sajak?

Di mana kau menempati rumah

Bersama sanak keluarga

Ketika bulan dan bintang-bintang berkilauan

Di wajah kolam yang bergelombang

Menuntut puji dan penyerahan diri

Lantas matamu rela bertahun-tahun

Mengupas rahasia yang tak mungkin terungkap

Orang-orang yang meninggalkan sajak

 

Inikah sajak?

Di mana kau bisa berpesta

Bersama hal yang menurutmu sia-sia

Malam anggur, pagi vodka, bergoyang bersama

 

Inikah sajak?

Waktu yang tak pernah samar

Mengantarmu ke harapan-harapan

Atau membuatmu manusia kembali

2018

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account