Puisi Fajar Kliwon

 

Hari Yang Membosankan di Rumah

Kubuka pagi dengan rokok samsu dan kopi toraja
Memandang ke halaman
Seseorang yang mirip diriku berjalan
Menyusuri jalanan kumuh tuk mengambil tong kosong

Biasanya, sebelum langit kencing di kampungku
Ia menabuh tong itu
Berharap ada daun-daun jambu yang jatuh
Oleh dengung yang ia ciptakan

Akupun berangkat ke belakang rumah
Di tempat biasa ibu menjemur pakaianku
Seseorang yang mirip denganku menjemur kenangannya
Yang ia cuci meski tak sedikitpun nasib buruk di sana

Aku betah di belakang rumah membuka siang
Bulir air dari kenangan jatuh sebagai butir emas
Aroma yang sampai kepadaku adalah harum kembang terakhir
Yang akhirnya ia petik dan ditancapkan ke taman ingatannya

Membuka malam aku duduk di kamar sendirian
Kulihat ruang dan waktu menyekat-nyekat kebahagian
Di tempat ini kadang kutulis puisi atau terbangkan doa
Seperti selarik yang entah akan kau sebut apa ini:

Tuhan, kenapa kami selalu kalah oleh masa lalu
2017

 

Surat Astahyang kepada Shinta

Untuk apa kau kirim kata-kata manis ini
Berikanlah aku lidah seperti kata riwayatmu
Yang menggenang di benak ini

1/ Prakata

Setelah kenal sajak
Segalanya tiada arti lagi
Tubuhku ini rumah
Bagi tiap malapetaka
Juga tempat perasaan-perasaan suci
Menuliskan kata-katanya sendiri

Kubaca semesta di matamu
Lagi dan lagi
Dan kutemukan diriku
Benda kecil yang karam
Di palung ingatanmu
Di mana semua mata tertutup padaku

Biasanya, ketika waktu membuka malam
Penyair-penyair lain yang karam di matamu
Menempa lidahnya dengan kata
Untuk kecamuk di bumi
Untuk maut supaya cepat-cepat bekerja
Hingga bumi dipeluk tuhan rasa takut

Sebab itu, kucabut mawar
Dari dada-dada pecinta
Yang terpaksa tak berdamai
Dan kelak kutuntaskan riwayat
Demi tuhan rasa cintaku kepadamu
Dan KepadaMu

2/ Upacara

Kutuntaskan riwayatku untukmu, Shinta
Sebab kau tahu lidah penyair
Lahir dari maut yang rindu seseorang
Sejarah-sejarahnya yang panjang
Melahirkan sungai yang tak putus
Mengalirkan darah

Pedang dari lidahku
Tak melulu peperangan, Shinta
Tapi pecahan sajak
Yang kelak kutanam di tiap hati manusia
Maka kumulai upacara untukmu
Bukan untuk harum mawar bibirmu

Segala hal di bumi yang kau cintai
Adalah kecintaanku yang tak pernah sampai
Udara pekat miasma di tempat kami berdiri
Hanya setitik nasib buruk yang tercatat
Bersama pengagumku kugenggam pedang
Yang kami asah dengan sajak kami yang batu

Selirih angin yang rontokkan jiwa-jiwa pecinta
Adalah buah dari ketakjuban kami padamu yang asap
Lepaslah seluruh bencana dari matamu
Sebab telah kusiapkan tubuh kami untuknya
Kami jilat tajam pedang
Putuskan lidah, aih, gembira yang tak biasa

Kukunjungi rumahmu dengan sekeranjang lidah
Daun-daun di sekitar berhenti bergetar
Waktu sejenak terhenti
Bila nanti darah kami lubangi jalan-jalan
Itulah arti kecintaanku pada segala bencanamu

Kuhadiahi sebait ini yang entah apa:
Ini lidah kami
Tuntaskan riwayat dengan lidahmu
Sebab setelah kenal sajak serta kau, Shinta
Segalanya tiada arti lagi
Mungkin lusa, mawar mengharum di tiap ruang tubuhmu
Dan kami tidak tahu apalagi yang mesti kami benci

2017

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2016

or

Log in with your credentials

Forgot your details?