Menebang Pohon Silsilah: Antologi Kesedihan dari Indra Tranggono

Menebang Pohon Silsilah: Antologi Kesedihan
dari Indra Tranggono

oleh
Dina Wulandari

Salam. Saya berdoa semoga sore ini siapapun yang masih
hidup selalu bahagia.

Sebagai
Pemasalah, saya akan melepaskan
reboan (sore ini) dari bagian hari ini. Biarlah sore menjadi hidupnya sendiri.
Tidak lahir sebagai hari, tapi sebagai sebuah kehidupan sempit yang akan
berakhir sampai maghrib nanti. Seperti halnya cerpen, cerpen merupakan kehidupan
dengan napas pendek yang diciptakan penulis. Cerpen bukan sinetron yang dunianya
seolah-olah tanpa kiamat. Bermusim-musim, tanpa akhir. Kehidupan cerpen cepat
mati dan barangkali tidak ber-reinkarnasi. Tidak ada moksa (kenang kembali reboan minggu lalu).
Jadi, di kehidupan sore yang sempit ini, mari kita berdoa untuk selalu
berbahagia.

Reboan
kali ini, saya akan membahas cerpen dari Indra Tranggono (IT) dalam antologi
cerpennya yang baru diterbitkan berjudul Menebang
Pohon Silsilah
. Saya tidak begitu familiar dengan Indra Tranggono. Entah
karena namanya yang mudah terlupakan atau memang karyanya yang juga mudah
dilupakan pula.

Membaca
kumpulan cerpen Menebang Pohon Silsilah,
kita akan menemukan keserupaan yang unik dari kumpulan cerpen ini. Pertama,
terdapat dua dan lebih fragmen dalam satu cerpen (hanya satu cerpen yang tidak
menggunakan fragmen berbeda). Fragmen yang berfungsi memenggal peristiwa
diantar oleh sosok pencerita yang berbeda, terkadang tokoh aku atau orang
ketiga serba tahu. Cukup unik. Namun, keunikan ini cukup disayangkan. Sebab
kita akan dibuat garuk-garuk kepala karena keteledoran penulis dalam menyajikan
cerita. Seperti dalam cerpen Kulihat
Eyang Menangis
. Dalam fragmen terkakhir cerpen itu, diawali orang ketiga
serba tahu yang bercerita, namun diakhirnya tokoh aku tiba-tiba muncul begitu
saja, padahal yang sedang diceritakan oleh orang ketiga serba tahu tersebut
adalah tokoh aku sendiri.

Kenangan
itu masih basah melekat di benak Gendut. Juga saat ia terpaku di depan Eyang
Putrinya yang sejak tadi tetap diam…
(awal)

Di rumah itu,
kami tak lagi menemukan aroma harum jamu, atau mencium semerbak kisah-kisah…
(akhir)

Di
satu fragmen, tiba-tiba muncul orang ketiga dan tokoh aku sebagai narator. Masalah narator juga muncul dalam
cerpen lain, yakni Mbah Mahdi dan Cerita
Pagi Itu
. Dalam cerpen itu, pembaca seolah-olah menebak siapa yang
bercerita. Orang ketiga serba tahu ataukah tokoh aku. Namun, saya menyebut
narator ialah tokoh aku. Namun sudut pandang tokoh aku ini seolah bersikap
seperti orang ketiga serba tahu. Tokoh aku mengetahui segalanya cerita tentang
Mbah Mahdi yang di cerpennya sendiri tidak dijelaskan bagaimana tokoh aku
mengetahui cerita tersebut. Tokoh aku mengetahui mulai dari perkara kecil Mbah
Mahdi dan isi hati Mbah Mahdi itu sendiri.

… Tapi Mbah
Mahdi tidak tersinggung, apalagi marah. Sejak zaman nabi, orang-orang sesat
selalu percaya diri, bahkan sombong, tapi mereka pasti dikalahkan, begitu dia
membatin. Karena itu, dada Mbah Mahdi selalu mengembang. Mulut dan hatinya tak
henti-henti mengabarkan bahwa kiamat sudah dekat maka bertobatlah.

Keserupaan
yang kedua ialah realitas di dalam cerpen yang irasional, namun begitu menarik.
Seperti dalam cerpen Menebang Pohon
Silsilah
. Tokoh aku yang merupakan manusia merasa kesal dengan ayahnya yang
menjadi seekor serigala dan menghamili perempuan serigala juga. Ayahnya yang
merupakan pejabat pemerintah tiba-tiba menjadi serigala bersama kawanananya. Di
akhirnya,
tokoh aku tiba-tiba berubah menjadi seekor serigala. Sama halnya juga di
cerpen, Garong. Diceritakan tokoh
Ageni dengan bola api yang dapat mengabulkan permintaan apapun. Saat di awal,
saya kira cerpen ini seperti cerita-cerita legenda, akan tetapi muncul facebook, helikopter, hingga hotel.
Kemudian cerpen Perempuan Sunyi Bersama Arwah Burung-Burung yang bercerita arwah-arwah burung
yang bersarang di rambut seekor gadis. Irasional. Namun, jalan ceritanya sungguh
sangat rasional. Akan ada cerpen-cerpen lain dengan realitas menarik yang dapat
kita temukan.

Lalu, keserupaan ketiga adalah kesurupan yang
menjadi fokus bahasan saya. Kumpulan cerpen Menebang
Pohon Silsilah
ini menawarkan kesedihan yang seolah tanpa akhir. Tidak ada
satu cerpen yang bercerita soal kebahagiaan tokoh dalam cerpen. Benar saja,
penulis
pun
mengatakan bahwa ia menulis ceritanya dari sudut pandang korban (korban
pelecehan seksual, kekejaman pemerintah, cinta, ataupun kehidupan itu sendiri).

Sebagai
pembaca, saya cukup simpati dengan kisah sedih yang disodorkan IT dalam
cerpennya. Akan tetapi, saya merasa jenuh dengan kesedihan yang terus-menerus
tersebut. Apalagi jika saya yang menjadi tokohnya. Saya akan bosan dan marah
kepada penulis. Tokoh menjadi manusia bodoh yang tidak punya daya apapun.
Kepasrahan seolah-olah menjadi nilai sejati di dalam cerpennya. Hal tersebut
dibuktikan dengan hampir keseluruhan cerita yang diakhiri oleh penderitaan yang
tanpa akhir—dari awal hingga akhir cerita-. Setiap tokoh dalam cerpen dibuat
tidak berdaya dan dijadikan manusia tanpa potensi untuk bangkit.

Bukan
menjadi masalah menawarkan cerita sedih dalam cerpen, toh  begitulah realita
sebenarnya. Akan tetapi, tidak ada tawaran lain selain kepasrahan yang
disodorkan IT di dalam cerpennya. Seperti dalam cerpen Menebang Pohon Silsilah. Bercerita seorang anak yang menentang
ayahnya karena dianggap sebagai serigala negara dan ingin melepaskan ikatan
silsilah tersebut. Ia menggerakan aksi pemberontakan untuk melawan
pemerintahan. Namun, pada akhirnya, tokoh anak menjadi seekor serigala sama
seperti ayahnya. Dari cerpen tersebut, nilai yang diberikan oleh IT seolah
kejelekan/kerakusan itu merupakan hal yang diturunkan dan kita tidak dapat
menolak bawaan itu. Sifat kotor seolah menjadi takdir yang tidak dapat dielak.

Tentu
hal ini tidak sesuai dengan hakikat manusia itu sendiri. Menurut Psikologi
Positif, manusia bukan makhluk yang tidak berdaya. Manusia memiliki potensi
untuk tumbuh ke arah kebaikan dan mencapai kebahagiaan. Psikologi positif lebih
menekankan apa yang baik atau benar pada seseorang, dibandingkan apa yang salah
atau buruk. Psikologi positif berhubungan dengan penggalian emosi positif
seperti bahagia, kebaikan, humor, cinta, optimis, baik hati (Seligman, 1991).

Dalam
teori ini, peristiwa buruk (kesedihan/kekecewaan/kemarahan dan lain-lain) tetap
menjadi realitas yang tidak dibisa ditanggalkan. Akan tetapi, bagaimana manusia
menyikapi peristiwa buruk tersebut menjadi titik fokus dari psikologi positif.
Salah satu nilai yang lekat dengan aliran ini ialah optimisme.

Optimisme
adalah pandangan positif individu terhadap peristiwa yang telah dialaminya baik
kesuksesan maupun kegagalan dan harapan di masa mendatang yang dilihat melalui
gaya penjelasannya. Cara pandang individu akan tercermin dengan bagaimana ia
menjelaskan sesuatu. Untuk memahami optimsime kita amati dulu gambar di bawah
ini. 

Bagaimana
menjelaskan gambar tersebut?

Optimisme
dapat dilihat dengan cara individu menjelaskan sesuatu yang dialaminya. Dalam
cerpen IT, peristiwa yang terjadi ialah peristiwa buruk. Menurut Seligman, saat
mengalami peristiwa buruk (bad event)
individu yang optimis akan memandang kejadian tersebut bersifat sementara,
tidak akan terjadi pada setiap aspek kehidupan, tidak berpengaruh besar
terhadap kehidupan mendatang, dan datang dari keadaan luar dirinya yang tidak
dapat dikontrol. Sedangkan individu yang pesimis akan sebaliknya.

Dalam
cerpen Liang, optimis dan pesismis
tokoh dapat dilihat dari narator menjelaskan bagaimana sikap tokoh Yu Milah
terhadap pendidikan.

Ia mendorong
Wasti untuk tetap sekolah.
Ia
percaya, sekolah bisa menjadi tabungan masa depan… Ia merasa seluruh jerih
payahnya ta
k
muspra, tak sia-sia…
(bentuk optimisme)

Namun, setelah Wasti lulus sekolah, ia dikepung
masalah. Ia menganggap kuliah di perguruan tinggi hanya mimpi…

(bentuk pesismisme)

Menurut
Vinacle, sumber penyebab individu menjadi optimis salah satunya ialah ekonomi
dan keluarga (orang tua). Dalam cerpen tersebut, sikap Yu Milah yang berubah
dikarenakan faktor ekonomi yang menjerat mimpinya untuk membiarkan Wasti
melanjutkan pendidikan. Sebab, Yu Milah yang sudah menyerah dengan pendidikan,
memunculkan sikap Wasti yang memilih ikut menyerah pula. Akhirnya Wasti memilih
menjadi pekerja seks untuk menutupi kebutuhan keluarganya.

Sikap
menyerah Wasti terhadap keadaan dan memilih menjadi pekerja seks memberikan
bentuk pesimisme yang dilatarbelakangi faktor egosentris. Seeorang yang percaya
diri, memiliki motivasi, dan harga diri positif tidak akan mudah menyerah
dengan keadaan. Tidak percaya diri, kurang memiliki motivasi, dan harga diri
yang rendah menuntun Wasti untuk melakukan pekerjaan tersebut.

“Ah, entahlah, Bu. Mungkin
sudah nasib saya.”
(pernyataan Wasti menujukan penghargaan diri yang rendah)

Dan,
di akhir cerpen ini dikisahkan bahwa Yu Milah meringkuk di penjara karena melakukan
kekerasan terhadap tetangga yang terus menggunjing Wasti. Betapa hidup melulu
persoalan ketidakberuntungan. Itulah yang ditawarkan
IT di dalam cerpennya.

Sebenarnya,
bisa saja IT menghadirkan peristiwa buruk (kemiskinan, pekerja seks, dll) di
dalam cerpen namun hal tersebut akan menjadi kejenuhan dengan akhir yang tragis
pula. Tidak ada tawaran semangat, harapan, ketahanan, apalagi kebahagian dalam
cerpen tersebut. Bila memang IT merekam realita seperti itu dan mewujudkan
menjadi cerpen, akan tidak ada beda cerpen dengan reality show (
Jika
Aku
Menjadi
atau Orang
Pinggiran)
yang menawarkan kesedihan.

Dalam
disiplin psikologi, psikologi yang masih berfokus pada penyakit, kerusakan,
kelemahan, dan hal negatif lainnya dipandang sebagai bentuk tradisional yang
tidak dapat memberikan intervensi lebih. Seligman sebagai bapak psikologi
positif menyatakan bahwa psikologi positif dapat dijadikan obat mujarab dalam
merehab penderitaan dan mencapai puncak kebahagiaan.

Cerpen
IT Liang yang menawarkan kesedihan
tak lebih dapat menarik simpati para pembaca namun tidak memberikan semangat
solutif dan harapan bahwa semuanya dapat diperbaiki.  Bayangkan, bila cerpen ini memang dibaca oleh
para korban (yang memang dalam keadaan lemah), dan mempersepsi bahwa dunia
memang akan selalu berakhir tragis.

Akan
tetapi, dari sekian cerpen dalam antologi ini, cerpen Menunggu Telinga Tumbuh memberikan tawaran lain di balik kesedihan
korban. Berkisah seorang guru bernama Drajat yang disangka PKI dan kemudian mengalami
kekejaman, yakni dilemparkan hidup-hidup ke
dalam luweng bersama orang-orang lainnya.
Selama ini, Bu Drajat merahasikan kisah pedih itu dari anak-anaknya. Ia membuat
makam tipuan untuk menutupi kisah tersebut dari anak-anaknya. Berpuluh tahun Bu
Darajat harus menanggung kepedihan itu, hingga saat ia mulai menceritakan kisah
tersebut kepada anaknya, anaknya (Herjuno) berinsiatif untuk mendatangi kantor
komnas HAM untuk meminta hak keadilan yang selama ini tidak didapatkannya.

Ia berharap,
negara berani untuk punya telinga, hingga sedikit ramah terhadap nasib orang
semacam ibunya dan keluarganya, yang sepanjang hidup harus menanggung ‘dosa
sejarah’

Sebagai
pembaca, saya merasa cerpen tersebut membawa spirit lain, spirit solutif dari
penderitaan para korban. Spirit perjuangan hadir di dalam cerpen tersebut dan tidak
membuat manusia menjadi tak berdaya terus-menerus. Dunia memang kejam. Namun,
manusia memiliki potensi untuk melawan kekejaman itu. 

Sebagai
individu yang terlibat dalam dunia tulis-menulis, menjadi pilihan untuk
menghadirkan nilai-nilai perjuangan (semangat, harapan, ketahanan, dll) dalam
sebuah cerpen dan bukan hanya menampakan keadaan buruk yang seolah-olah sejati.
Saya yakin, fungsi karya sasrta bukan hanya sebagai perekam peristiwa, tapi lebih dari
itu menawarkan hal-hal yang dapat menggerakan manusia untuk beranjak mencapai
kebahagiaan. ***

Individu
yang optimis diibaratkan seperti gelas yang penuh, sedangkan individu yang
pesimis sebagai gelas kosong yang tidak memiliki apa-apa di
dalamnya.
Orang pesimis kurang memiliki kepastian untuk memandang masa depan dan selalu
hidup di
dalam
ketidakpastian dan merasa hidup tidak berguna.

Sesungguhnya,
berbagai kekuatan yang dimiliki setiap orang dalam dirinya menjadi senjata
utama dalam terapi (Seligman)

Agustus,
2017

————————————

NOTULENSI
REBOAN

Tanggal 9 Agustus 2017

 

Diskusi dimulai dengan
pertanyaan dari Ilham Miftahuddin. Dalam pendekatan kajian psikologi sastra,
menurutnya psikologi itu dapat dilihat dari tiga objek yang berbeda. Pertama,
kajian psikologi sastra yang mengkaji psikologi pengarang dalam membuat sebuah
karya. Pendekatan ini tentu harus dilakukan dengan menanyakan, atau
mengobservasi, atau dari kajian pustaka terkait kehidupan pengarang itu
sendiri. Kedua, kajian psikologi sastra menekankan pada kajian karyanya. Dalam
karya, psikologi yang dikaji biasanya psikologi tokoh. Pendekatan ketiga,
adalah kajian psikologi pembaca sebuah karya sastra. Di antara tiga pendekatan
itu, menurut Ilham, Dina cenderung menekankan pada psikologi pembacanya, yaitu
dengan melihat apa dampak karya itu bagi pembaca, apakah membuat termotivasi
secara positif, atau malah pesimistis.

Selanjutnya, Fasha Rouf
menambahkan, paper yang ditulis oleh Dina cenderung ada cacat secara teoritis.
Pertama, benar apa yang dikatakan Ilham, dampak pembaca akan lebih bisa
dirasakan ketika Dina melakukan studi sebagai pembaca, tapi tentu di luar
dirinya. Studi itu misalkan dapat dilakukan dengan survey kuantitatif kepada
orang-orang yang tengah membacanya, atau dengan studi eksperimen dengan
memberikan kumpulan cerpen IT dan kumpulan cerpen yang lain dengan dilihat
orang-orang tersebut menjadi termotivasi atau tidak. Kedua, Dina cenderung
melakukan simplifakasi hanya karena untuk mengikuti asumsi dari teori.
Simflikasi itu berupa, pernyataan bahwa cerpen-cerpen IT cenderung membuat
pembaca malah tidak termotivasi, tenggelam dalam kemuraman. Padahal, menurut
Dina, sebuah cerpen yang baik itu sebaiknya memotivasi pembaca agar dapat
melakukan hal-hal yang positif. Akan tetapi, Fasha punya tanggapan lain, justru
di sanalah kerja sebuah karya sastra, untuk menghindari hitam dan putih, apakah
ia termovitasi hidupnya atau tidak. Sastra seharusnya menghadirkan motif-motif
dari sudut pandang lain, yang dapat mengurai bagaimana psikologis seseorang itu
dapat dipengaruhi oleh sesuatu, dan dapat bekerja dalam suatu proses.
Karenanya, menurut Fasha seharusnya teori yang digunakan tidak dari
positivistik, justru mengkaji dari psikologi humanistik, dan menyesuiakan
dengan kondisi psikologis yang ada di cerpen tersebut. Misalkan, sebuah kondisi
di cerpen Liang karya Indra Tranggono:

“Tapi itu penting, nduk. Biar para
tetangga tahu kalau kita juga mampu. Bayangkan nduk. Mereka pasti melongo.
Melihat ada mobil datang ngantar kiriman kulkas. Yaah… tapi.. kardusnya gede
ya. Kira-kira cukup nggak ya pintu kita ini”

Kutipan itu menurut
Fasha dapat cukup menggambarkan bagaimana kompleksitas psikologis dalam sebuah
karya sastra.

Dina menjawab dengan
pandangan yang lain. Menurutnya, sebuah karya cerita pendek itu hanya satu
episode yang sangat singkat, karenanya tidak akan mungkin mampu menguraikan
bagaimana motif tokoh bekerja. Fasha tetap pada pendiriannya, yang dimaksud
olehnya adalah bahwa karya sastra itu kan menghindari justifikasi,
menggambarkan kehidupan secara uraian motif, alur, karenanya seorang
pengkajinya sangat rentan jika melakukan justifikasi.

Diskusi berlangsung ke
pertanyaan lain, dari Rauf, ia bingung dengan gaya bertutur atau segi bahasa
yang digunakan oleh IT dalam cerpennya. Misalkan adanya penggunaan kata “bulu
serigala” dalam cerpennya Menebang Pohon
Silsilah
. Rauf mempertanyakan apakah itu bulu sebagai sebuah metafor, atau
sebuah legenda yang memang sudah ada. Menurut Dina, memang kelamahannya adalah
pemberitan metafor dari IT cenderung tidak didukung oleh konteksnya.

Diskusi berlanjut
kepada hal yang cukup penting, mengapa cerpen Indra Tranggono menjadi cerpen
yang dibahas oleh Dina Wulandari. Secara jujur dan objektif, Dina mengemukakan
bahwa dia sebenarnya bertanya-tanya, mengapa Indra Tranggono dalam sepuluh
tahun terakhir cerpennya selalu masuk  ke
dalam cerpen terbaik Kompas di tiap tahunnya. Akan tetapi, dari 15 cerpen dalam
buku tersebut, Dina merasa cerpen IT itu masih biasa-biasa saja. Kemudian,
Fasha bertanya, lalu apa harapan dari cerita pendek IT? Dina menjawabnya dengan
endorse yang ada di buku, sebuah endorse dari Putu Fajar Arcana. Endorse itu memang tidak berlaku, karena
menurut beberapa orang yang hadir, cerpen IT yang dilampirkan dalam paper Dina,
berjudul “Liang” kondisinya kurang layak untuk dimuat di Kompas dan itu menjadi
pertanyaan besar, apakah ini menjadi salah satu bagian kecacatan Kompas?

Diskusi ditutup dengan
kesepakatan bahwa IT dapat dikaji dan dikritisi agar penulis ASAS mampu
berkarya dengan lebih baik dan mencoba menjebol gawang redaktur media nasional.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2016

or

Log in with your credentials

Forgot your details?