Esai Jujur yang Jujur

Jujur yang Jujur[1]
oleh Adhimas Prasetyo[2]

Preambul
Prosa fiksi tidak hanya menyajikan sebuah reportase utuh dari kehidupan, tapi juga terdapat imajinasi dari pengarang yang bersifat pemaknaan ulang terhadap kehidupan. Dalam karya prosa fiksi biasanya dihadirkan sebuah realita kehidupan yang sifatnya bisa saja terjadi dalam kehidupan riil. Tentu apa yang dikatakan Aristoteles bahwa karya sastra merupakan mimesis adalah benar adanya, ia menambahkan peniruan ini bersifat kreatif, tergantung pada kadar pemahaman dan logika pencipta untuk menyajikan ulang realita dalam karyanya.

Selalu terdapat ketegangan antara fakta dan fiksi-imajinatif, khususnya dalam karya prosa. Misal ketika kita membaca Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Tirto Adi Soerjo adalah tokoh nyata dalam sejarah Indonesia, kolonialisme yang ada dalam novel pun memang pernah terjadi. Namun terdapat juga imajinasi Pram untuk menggambarkan pemikiran dan tindak-tanduk Minke atau Tirto Adi Soerjo yang tidak mungkin seluruhnya benar terjadi. Bahkan novel terbaru semisal O karya Eka Kurniawan yang terdapat sentuhan sureal di dalamnya tetap menghadirkan fakta baik berupa fakta sejarah maupun fakta sosial yang lebih sempit lingkupnya.

Kualitas sebuah prosa fiksi selanjutnya ditentukan oleh imajinasi pengarang. Stanley Elkin seorang prosais Amerika mengatakan cerita selalu terbentuk oleh dua unsur, yaitu campuran learned dan inspired. Dalam sebuah cerita yang buruk di mana semua action adalah learned, hasilnya akan menjadi melodrama, dan apanila semuanya inspired, hasilnya akan menjadi chaos, kacau-balau[3].

/1/
Siapa yang tidak mengenal Ada Apa Dengan Cinta? Jika dalam percakapan saya mendengar AADC, yang saya bayangkan adalah Dian Sastro dengan segala keseksiannya. Sulit untuk menampik hal itu. Lalu bagaimana dengan penulis naskah AADC 1, apakah ada yang mengenal Jujur Prananto? Dengan berat hati paper yang saya buat tidak akan membahas film AADC atau Dian Sastro. Jujur Prananto memang dikenal sebagai penulis skenario, beberapa film yang populer adalah Petualangan Sherina (2000) dan AADC 1 (2002).

Mari kita mengenal Jujur lebih dalam. Selain menulis skenario film, Jujur juga banyak menulis cerpen. Salah satu cerpennya yaitu Kado Istimewa memenangkan Cerpen Pilihan Kompas tahun 1992, mengalahkan karya Ahmad Tohari, Putu Wija, Nirwan Dewanto, bahkan cerpen Kado Istimewa mengalahkan karya Jujur sendiri yaitu cerpen berjudul Nurjanah.

Selain meramaikan sastra koran, Jujur juga mengumpulkan cerpennya dalam antologi tunggal berjudul Parmin (2002). Namun telah dikonfirmasi oleh Jujur sendiri bahwa antologi ini tidak lagi dicetak oleh penerbit Kompas, dan Kompas tidak mau memberikan hak penerbitannya kepada penerbit lain. Padahal karya yang terkumpul dalam antologi tersebut sangat penting sebagai khazanah cerpen Indonesia, khususnya bagi penulis cerpen pemula. Di paper ini saya mencoba untuk memaparkan pembacaan saya terhadap dua karya Jujur Prananto dalam antologi Parmin.

/2/
Terdapat 16 cerpen dalam antologi Parmin. Tema yang diangkat dalam antologi ini cukup beragam, namun tema yang hadir didominasi oleh kehidupan urban. Mulai dari hubungan antara bos dan pegawai, majikan dan pesuruh, hubungan antar-keluarga, dan lain-lain. Semua tema itu dibungkus oleh konteks interaksi yang kompleks.

Membaca cerpen Jujur Prananto, saya dihadapkan dengan sebuah realitas yang lugu, paradoks, dan dekat. Kebanyakan cerpen-cerpen Jujur ditulis dengan gaya realis. Subagio Sastro Wardoyo mengatakan kadar realisme dalam cerpen sebanding dengan penghayatan dari pengarang terhadap lingkungan masyarakatnya[4]. Realisme inilah yang menjadi kekuatan dari beberapa cerpen Jujur Prananto.

Latar belakang sosial yang terpapar dalam karya menjadi titik pijak untuk menguatkan kadar  realisme dalam cerita. Jujur menghadirkan kenyataan sosial berupa nama daerah, hubungan pekerjaan, dan interaksi sosial. Menurut Doyle Paul Jhonson, kenyataan sosial meliputi tingkat individual, antarpribadi, struktur sosial, dan budaya. Kesemua tingkatan ini saling mempengaruhi satu sama lain[5].

Semisal dalam cerpen berjudul Ibu Senang Duduk Depan Warung. Cerpen ini bercerita tentang Asih yang telah berkeluarga dan memiliki tiga anak. Asih tinggal dengan keluarganya di Bekasi, jauh dari kampung halamannya yaitu Malang. Suatu ketika ia mendapatkan kabar bahwa ibunya ingin pergi dari rumahnya di Malang sebab terjadi percekcokan dengan Bapaknya yang memiliki kekasih baru. Seketika Asih mengajak Ibu untuk tinggal bersamanya di Bekasi. Namun setelah Ibu tinggal bersamanya, muncullah masalah baru, yaitu warung sate yang dimiliki Asih menjadi sepi lantaran Ibu membuat para pelanggannya pergi dengan kebiasaan Ibu duduk depan warung. Asih merasa kebingungan, antara menegur Ibu atau membiarkan usahanya bangkrut. Akhirnya Ibu mengetahui permasalahan itu sebelum Asih dan suaminya menegur, beberapa hari kemudian Ibu meninggal, dan menyisakan penyesalan bagi Asih.

Dengan eksplisit terdapat nama sebuah daerah yaitu sebagai berikut.

“Tapi tetap sering-seringlah menengok ibu. Surabaya-Malang kan dekat. Jangan sampai ibu merasa makin kesepian.” (Ibu Senang Duduk Depan Warung)

Kepindahan ibu ke Bekasi, di luar dugaan, berjalan begitu lancar, sebab ibu biasanya sangat berkeras menolak hal-hal yang menurutnya bertentangan dengan prinsip “tidak ingin merepotkan anak sendiri”. Barangkali beliau sudah demikian bulat bertekad untuk tinggal sejauh-jauhnya dari bapak. (Ibu Senang Duduk Depan Warung)

Harapan Asih untuk mengajak ibu untuk tinggal bersamanya merupakan hasil dari norma sosial yang menggerakkan empati Asih untuk menjaga Ibu. Harapan Asih yang ingin menjaga interaksi antar-pribadi dengan Ibu ternyata bertentangan dengan interaksi antar-pribadi dan struktur sosial lain. Semisal anak-anak Asih yang kecewa dengan kehadiran Ibu, dan juga pelanggan yang tak lagi mendatangi warung sate Asih.

Permasalahan ini terlihat sepele, namun Asih memiliki pertimbangan subjektif bahwa melarang Ibu duduk depan warung akan menyakiti hati Ibu, hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Ibu telah renta dan memiliki riwayat penyakit yang cukup kompleks, belum lagi ditambah kenyataan bahwa perselingkuhan Bapak yang menelantarkan Ibu.

Ternyata empati Asih terhadap Ibu juga bertentangan terhadap kebutuhan material Asih. Sesuai dengan pernyataan Marx bahwa pergulatan utama dan pertama manusia adalah pergulatan untuk memenuhi kebutuhan materialnya[6].

Cerpen selanjutnya berjudul Parmin, cerpen ini bercerita tentang kecurigaan sebuah keluarga terhadap tukang kebunnya. Parmin adalah seorang tukang kebun yang serba bisa diandalkan di sebuah keluarga, hal ini membuat Parmin menjadi orang kepercayaan keluarga itu. Namun pandangan keluarga itu mulai berbalik saat diadakan sebuah pesta ulang tahun. Gerak-gerik Parmin berubah mencurigakan, sontak keluarga itu mengira Parmin sedang merencanakan sesuatu namun belum bisa berbuat apa-apa karena tidak adanya bukti. Kecurigaan itu terus dipupuk dengan Parmin yang beberapa hari tidak datang untuk bekerja dan cerita dari tetangga yang rumahnya pernah kebobolan, pelakunya justru orang yang bekerja di rumah itu. Dibuatlah rencana untuk menjebak Parmin yaitu dengan mengadakan lagi sebuah pesta. Benar saja setelah pesta itu Parmin terburu-buru pulang. Himan, anak dari keluarga itu bergegas mengejar Parmin. Namun yang ia dapatkan adalah Parmin yang memberikan sekantung eskrim kepada anak-anaknya. Kegelisahan Parmin justru disebabkan takut eskrim yang ia bawa mencair.

Kecurigaan itu timbul dari kenyataan kelas sosial yang berbeda. Bagaimanapun juga Parmin hanyalah orang di luar keluarga, yang sewaktu-waktu bisa berbuat jahat. Keluarga tersebut merasa terancam secara material dengan gelagat Parmin yang mencurigakan. Begitu juga Parmin yang tidak berani meminta eskrim secara langsung. Perbedaan kelas sosial ini menjadi tembok yang memisahkan tujuan dari keluarga dan juga Parmin. Keluarga sebagai pemilik alat produksi dan Parmin bergantung pada keluarga itu.

Emile Durkheim menyebutkan dalam kenyataan sosial terdapat sebuah kebersamaan yang disebutnya sebagai solidaritas sosial. Terdapat dua jenis solidaritas sosial, yaitu solidaritas mekanik dan organik. Solidaritas mekanik bersifat tegas dan pembagian posisi sosial yang jelas, sedangkan solidaritas organik terbangun karena adanya pembagian kerja yang semakin rumit dan kompleks. Solidaritas organik membentuk posisi saling tergantung yang tinggi namun berimbang dengan tingkat kepercayaan yang rendah[7].

Dalam cerpen Parmin, yang terjadi adalah solidaritas organik. Keluarga dan Parmin berada dalam posisi ketergantungan, keluarga itu memerlukan keterampilan Parmin untuk merawat materialnya, sedangkan Parmin membutuhkan lahan kerja. Ketidaksalingpercayaan digambarkan bahwa Parmin tidak bisa meminta eskrim sisa pesta dan keluarga yang tidak bisa bertanya secara tegas alasan Parmin terburu-buru.

Selain gejala sosial di atas, dibubuhkan gambaran detail dalam cerpen ini. Gambaran ini mencoba untuk meningkatkan empati pembaca dan menegaskan latar belakang sosial Parmin.

Gelas itulah yang tepat. Sebab es krim itu tinggal berupa cairan putih yang tidak jauh berbeda dengan air susu, menetes deras ke lantai. Oleh sang ibu ditadah ke gelas yang dipegang erat oleh masing-masing anak. Serentak semua diam. Semua tegang menanti bagian. Cuma kedengaran si bungsu berulang menyedot ingus. Lalu selesailah pembagian itu, masing-masing sepertiga gelas lebih sedikit. Tangan-tangan mungil itu mulai memasukan sendok kecil ke dalam gelas. (Parmin)

Latar belakang sosial sangat dibutuhkan sebagai penguat semesta yang terjadi dalam cerpen. Selain gambaran detail, dibutuhkan juga pemahaman sosial untuk membangun cerita yang dekat dengan pembaca.

/3/

Di atas saya mencoba menjelaskan gejala sosial di dalam cerpen, gejala ini menjelaskan kedekatan semesta cerpen dengan realita. Kisah Ibu Senang Duduk Depan Warung memang merupakan fiksi, namun gejala-gejalanya bisa saja terjadi di sekitar kita, atau mungkin kita pernah mengalaminya sendiri, begitu juga kisah Parmin.

Dua cerpen Jujur Prananto di atas terdapat alur yang sederhana. Begitupun konflik yang dibangun bukanlah konflik antartokoh yang bersifat fisik, namun konflik timbul dari prasangka-prasangka antartokoh. Tentu saja prasangka ini lahir dari interaksi sosial, baik tingkat individu hingga budaya.

Pembangunan tokoh yang hadir dalam cerpen jujur tidak kontras, semua memiliki pertimbangan subjektif yang logis berdasarkan kebutuhan tokohnya. Dalam cerpen Parmin, keluarga itu tidak serta merta menuduh Parmin mencuri, karena mereka masih memiliki pertimbangan logis bahwa Parmin banyak membantu mereka.

Lebih tidak enak lagi kalau orang itu adalah Parmin. Tukang kebun yang rajin dan tak banyak cakap itu. Yang kerjanya cekatan, dengan wajah senantiasa memancarkan kesabaran. (Parmin)

Jujur tidak berusaha menghadirkan kejutan yang kuat di akhir cerita, terutama dalam cerpen Ibu Senang Duduk Depan Warung. Dari awal tokoh Ibu dihadirkan dengan posisi yang menderita, permasalahan dengan Bapak hingga penyakit-penyakitnya. Kematian tokoh Ibu tidak menjadi sesuatu yang mengejutkan.

Namun hal ini bukanlah yang diistilahkan oleh Elkin sebagai melodrama, akhir cerita dapat diduga. Dua cerpen di atas memiliki gagasan kuat tentang permasalahan interaksi sosial, terdapat kekaosan yang diredam dengan penutup cerita yang tidak dibuat-buat. Meminjam istilah Subagio terhadap cerpen Kado Istimewa karya Jujur Prananto, “kekecewaan akan tiadanya kejutan itu telah diimbangi oleh kemahiran bercerita yang lincah dan hidup”[8].

Budi Darma menjelaskan bahwa beberapa kelemahan cerpen-cerpen indonesia adalah kurangnya daya abstraksi para pengarang. Kurangnya daya abstraksi menyebabkan cerpen hanya menjadi pengalaman harfiah pengarangnya. Selain itu kurangnya daya abstraksi dan kemampuan untuk menjabarkan abstraksi ke dalam bentuk cerita terlihat juga pada kelemahan penyusunan alur. Inilah yang menyebabkan kecenderungan untuk mengakhiri cerpen nampak dipaksa-paksa[9].

Maka menulis cerpen adalah juga membaca lingkungan baik secara mikro maupun makro, menangkap gejala-gejala sosial, dan mengabstraksikannya dalam sebuah cerita. Dalam taraf ini Jujur berlaku jujur sebagai pengamat sosial dan mengabstraksikannya ke dalam cerpen.

[1] Esai ini disampaikan saat Reboan 8 Maret 2017
[2] Penulis ganteng yang sedang merakit skripsi, anggota aktif Komune Vespoet.
[3] Mengutip Stanley Elkin dalam Budi Darma pada kumpulan esai Solilokui halaman 48.
[4] Mengutip pengantar dari Subagio Sastro Wardoyo pada buku Kado Istimewa: Cerpen pilihan Kompas 1992 halaman xii.
[5] Menyari pendapat Jhonson dalam Faruk pada buku Pengantar Sosiologi Sastra halaman 21-22.
[6] Marx dalam Faruk pada buku Pengantar Sosiologi Sastra halaman 25.
[7] Menyari pendapat Emile Durkhelm dalam Faruk pada buku Pengantar Sosiologi Sastra halaman 28-29.
[8] Mengutip pengantar dari Subagio Sastro Wardoyo pada buku Kado Istimewa: Cerpen pilihan Kompas 1992 halaman xvi.
[9] Menyari pendapat Budi Darma pada kumpulan esai Solilokui halaman 24.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2016

or

Log in with your credentials

Forgot your details?