Liar! Liar! Liar! : Membaca Dua Puisi M. Arfani Budiman

Oleh R. Abdul Azis2

 

 

….masa silam seperti keranjang pisau

siap memotong bayangan yang melompat di balik cermin”

Kepada Pertemuan –M. Arfani Budiman

 

Bismillah

 

Sungguh berbahagia dan teramat terhormat bagi saya untuk membahas puisi seorang penyair ASAS. Apalagi Minggu (11/12), puisi tersebut baru saja tampil di kolom Pertemuan Kecil Pikiran Rakyat. Kolom yang telah lama, bisa dikatakan, diperebutkan oleh para penyair lainnya. Dan takkan naif rasanya, jikalau kolom tersebut menjadi susah dihuni oleh para penyair ASAS. Padahal, semestinya, kolom tersebut ibarat kamar kedua setelah folder masing-masing.

 

Minggu itu saya menemukan enam puisi yang ditulis dari tiga penyair. Dan dua di antaranya beratasnamakan seorang penyair ASAS yang paling dicintai setiap generasi. Tak lengkap rasanya kalau saya melewatkan kebanggan ini dengan melewatkan siapa gerangan penyair yang dimaksud. Ia adalah M. Arfani Budiman. Sempat menjadi BPP ASAS, telah menerbitkan antologi dan segudang prestasi lainnya. Bukan hanya di Pikiran Rakyat, puisinya telah melanglang buana ke beberapa koran nasional dan lokal. Majalah horison dan koran Jawa Pos pun sempat mencicipi puisinya. Maka suatu kebanggaan bagi saya untuk sedikit mempermasalahkan dua puisi M. Arfani Budiman ini.

 

 

Kepada Pertemuan – M. Arfani Budiman

 

jika saja pertemuan

tak lantas hadir memberi

kesedihan bagi aroma perjalanan

ada ruap luka berdenting di cangkir kopi

setibanya terik matahari membakar kisah

doa-doa di lesatkan menuju punggung langit

ketika masa silam seperti keranjang pisau

siap memotong bayangan yang melompat di balik cermin

 

 

Setelah membacanya berulangkali, demi mendapatkan jiwa dari puisi tersebut, saya merasa ditampar oleh keliaran imaji. Namun apalah asumsi tanpa bukti, maka demi membuktikan asumsi tersetbut, saya melakukan sedikit pembahasan mengenai struktur.

 

Upaya pertama memahami puisi Kepada Pertemuan karya M. Arfani Budiman adalah judul. Seolah tak ada yang istimewa. Namun setelah memaknainya pelan-pelan, saya melihat adanya keunikan permainan subjek yang tidak lumrah dalam Puisi tersebut. Mulanya judul menempatkan diksi ‘Kepada’, sebuah kelas kata yang menunjukkan kata depan; kata depan yang menunjukkan orang. Lantas diksi ‘Pertemuan’, suatu nomina (kata kerja) yang memiliki arti melakukan perbuatan bertemu.

 

Penempatan diksi ‘Pertemuan’ sebagai subjek mengajak saya memaknai lebih dalam akan suatu arti pertemuan itu sendiri. Penyair, dengan sengaja menghidupkan ‘Pertemuan’ sebagai sosok hidup yang bergerak dan memaknai dirinya sendiri. Saya analogikan semisal: seorang manusia (yang anggap saja bernama Dayat) tengah memaknai dirinya dari perjuangan. Siapa dirinya di hadapan perjuangan? Apa yang mesti dilakukannya? Dan bagaimana caranya menghadapi perjuangan?

 

Rumusan berbagai pertanyaan itu akan tercermin dalam sajak terlampir. Bagaimana ‘Pertemuan’ memahami dirinya untuk /..memberi/ /kesedihan bagi aroma perjalanan/ sementara /ruap luka berdenting di cangkir kopi/ /ketika masa silam seperti keranjang pisau/ /siap memotong bayangan yang melompat di balik cermin/. Kira-kira begitu cara saya menginterpretasi puisi terlampir.

 

Namun tak elok rasanya kalau hanya membicarakan interpretasi dasar dengan tangan kosong, tanpa teori. Maka, dengan perangkat sederhana, saya akan berusaha mencari teknik yang tepat untuk mendapatkan makna. Prosodi, ilmu tentang persajakan. Perangkat umum untuk diketahui seorang penyair.

 

Mulanya, saya melihat ada kekuatan imajinasi dari penyair pada larik pertama hingga larik ketiga: /jika saja pertemuan/ /tak lantas hadir memberi/ /kesedihan bagi aroma perjalanan/. Hal yang menarik perhatian saya adalah adanya diksi /kesedihan/ dan /aroma perjalanan/. Dalam bayangan saya, diksi tersebut bergerak seperti manusia. Seolah /pertemuan/ ingin memberi /kesedihan/ bagi sosok lain, yakni /aroma perjalanan/.

 

Lantas saya teringat sebuah sajak Rendra yang berjudul Terpisah. Yang saya kira, beberapa imajinya cukup mirip dengan sajak Kepada Pertemuan. Berikut saya kutip utuh:

 

TerpisahW. S. Rendra

 

Racun lagu duka merambat di kelengangan malam kota.

Lampu jalanan dipingsankan hujan.

Berbaring rumah-rumah wajahmu di temboknya.

Kesepian seperti sepatu besi.

Menekur semua menekur dikhianati bulan.

 

Engkau bulan lelap tidur di hatiku.

Oleh sepi diriku dirampas jalan raya.

Semua didindingi kelam dan kedinginan.

Maut atau ribamu di ujung jalan itu.

Dipenangi air adalah racun duka adalah wajahmu.

 

 

Pada puisi milik Rendra terlampir, saya menemukan banyaknya imaji yang cukup liar. Semisal pada larik /Berbaring rumah-rumah wajahmu di temboknya/ dan /Oleh sepi diriku dirampas jalan raya./ atau /Semua didindingi kelam dan kedinginan/. Bagaimana setiap kata benda saling berpaling menjadi subjek.

 

Dengan sengaja saya menyandingkan puisi M. Arfani Budiman dengan salah satu puisi W.S Rendra, sebagai upaya untuk memperlihatkan bagaimana ‘keliaran puisi’ dengan mempergunakan teknik subjeknya. Dan memang diperlukan kekuatan imajinasi seorang pembaca untuk mengikuti setiap imaji pada sajak terlampir.

 

Agar tidak melulu mengenai keliaran imaji, saya juga melihat keberanian penyair M. Arfani Budiman ini dalam bereksperimen struktur bahasa. Kalau saya, pernah mendapatkan pelajaran jika dan maka. Semisal, jika saya lapar, maka saya harus makan atau jika saya lelah maka saya akan istirahat. Hal itu tak berlaku dalam puisi Kepada Pertemuan. Diksi /jika/ yang semestinya didampingi oleh diksi /maka/ urung saya dapatkan. Lantas seolah-olah, pola struktur tiap larik tidak memiliki tujuan yang jelas. Sebab sedikitnya penggunaan konjungsi, padahal jenis puisi tersebut hanya menggunakan satu bait.

 

Pada larik pertama, saya dapat mengerti adanya jalinan antar larik yang dipisahkan oleh enjabemen atau pemenggalan. Sehingga struktur kalimat yang tepat bisa menjadi /jika saja pertemuan tak lantas hadir memberi kesedihan bagi aroma perjalanan/, maka bla-bla-bla. Namun yang selanjutnya terjadi, adalah adanya penjejalan: /ada ruap luka berdenting di cangkir kopi/ apa yang terjadi? Saya kehilangan arah dalam memaknai puisi. Terjadi lompatan yang tiba-tiba terjadi. Kasar. Tanpa konjungsi yang jelas, atau penciptaan bait baru.

 

Namun setelah mencari kesejajaran arti, barangkali, diksi /jika saja../ yang dimaksud adalah /seandinya saja/. Kalau pun benar begitu, mungkin parafrase-nya kira-kira akan menjadi

 

/seandainya saja/ ‘pertemuan’ tak lantas hadir memberi kesedihan bagi aroma perjalanan

/padahal masih/ ada ruap luka berdenting di cangkir kopi, setibanya terik matahari membakar kisah

/lantas/ doa-doa di lesatkan menuju punggung langit ketika masa silam seperti keranjang pisau /yang/ siap memotong bayangan yang melompat di balik cermin

 

Dengan segala berbagai kemungkinan interpretasi, saya yakini bahwa penyair sengaja memangkas konjungsi sebagai jembatan antar larik 3 dan 4, yang bisa saja dihubungkan oleh /padahal masih/. Pula pada larik 5 dan 6 yang dapat saja dihubungkan dengan diksi /lantas/. Dan kalau pun begitu, entah mengapa saya mendapatkan satu pemaknaan filosofis baru dari ‘Pertemuan’.

 

Puisi seakan-akan memang ditujukan secara demikian. Maksudnya, terpenggal dan tak utuh. Sebuah atau mungkin  seorang ‘pertemuan’ yang tak pernah utuh. Semacam ada keganjilan dengan menempatkan “hal tak selesai” dari sebuah atau seorang ‘pertemuan’. Dan dengan lihai penyair hanya menggunakan teknik enjabemen atau pemenggalan.

Namun dari keberhasilan tersebut, saya agak kecewa dengan penempatan diksi /di lesatkan/ yang penulisannya terpisah. Padahal diksi tersebut semestinya disatukan. Terkait licentia poetica, saya kira akan terlalu terburu-buru untuk mendebatkan itu. Sebab, puisi tersebut memiliki diksi yang cukup rapi dalam penyusunan bahasa. Maksudnya, tidak ditemukan eksperimen diksi misalnya, diksi /doadoa/ yang kaidah penulisan laazimnya adalah /doa-doa/.

 

Penyair yang kita cintai ini sangat sadar untuk enggan mempermainkan bunyi secara kentara. Ia malah berkreasi dengan berbagai metafora, yang membikin imaji semakin liar. Selain itu, dalam premis saya sebelumnya, bahwa penyair bereksperimen struktur bahasa adalah pada puisi selanjutnya.

 

Gerimis Luka – M. Arfani Budiman

 

pada hari jumat agung

seluruh hamba-hamba

mengumpulkan doa menjadi

serpihan hujan sehingga

bumi begitu terluka menerima

rintik kesedihan yang mengalir

dari matamu matahari terbelah

pecah diwajahmu riak-riak cahaya

membentuk lingkaran waktu

sehingga aku masih mampu

membaca takdir pada telapak tangamu

meniupkan ruh pada retakan kata-kata

 

 

Pada puisi kedua yang berjudul Gerimis Luka, saya langsung dihadapkan dengan judul metaforis. Lagi-lagi, diperlukan imajinasi yang liar untuk memaknai sebuah judul. Seperti apa gerimis luka? Entahlah. Namun entah mengapa, saya, mendapat kesan puitis saat membacanya berkali-kali.

 

Lalu, jauh sebelumnya, saya sempat membaca beberapa puisi dari penyair ternama. Ialah Subagio Sastrowadojo. Dan entah mengapa kali ini saya menemukan teknik struktur puisi yang cukup mirip antara puisi Gerimis Luka dan Lahir Sajak. Puisi yang penuh ambiguitas. Arbitrer (manasuka). Seolah strukturnya dipaksakan oleh arti yang ingin disampaikan. Saya akan membandingkan gejala stuktur yang hampir mirip dari puisi M. Arfani dan Subagio.

 

Berikut sajak Subagio Sastrowadojo, saya lampirkan secara utuh:

 

 

 

 

 

Lahir Sajak – Subagio Sastrowardojo

 

Malam yang hamil oleh batinku

Mencampakkan anak sembilan bulan

Ke lantai bumi. Anak haram tanpa ibu

membawa dosa pertama

di keningnya. Tangisnya akan memberitakan

kelaparan dan rinduku, sakit

dan matiku. Ciumlah tanah

yang menerbitkan derita. Dia

adalah nyawamu.

 

(dalam antologi Daerah Perbatasan)

 

Bila kita lihat secara seksama, adanya kemiripan gaya dari pemenggalan baris. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau puisi Gerimis Luka lebih mengedepankan ke-chaos-an gaya. Itu yang saya maksud dengan eksperimen struktur. Pemenggalan antar setiap larik yang dapat dikatakan memperluas interpretasi. Mari kita lihat larik

……

bumi begitu terluka menerima

rintik kesedihan yang mengalir

dari matamu matahari terbelah

pecah diwajahmu riak-riak cahaya

membentuk lingkaran waktu

…..

 

Larik tersebut bisa jadi bermaksud:

  1. Bumi begitu terluka menerima rintik kesedihan yang mengalir dari matamu.
  2. Bumi begitu terluka menerima rintik kesedihan yang mengalir. dan Dari matamu matahari terbelah
  3. Bumi begitu terluka menerima rintik kesedihan yang mengalir dan Dari matamu, matahari terbelah pecah diwajahmu
  4. Bumi begitu terluka menerima rintik kesedihan yang mengalir dan Dari matamu matahari terbelah lantas Diwajahmu riak-riak cahaya riak-riak cahaya membentuk lingkaran waktu

 

Dalam puisi tersebut, terkenas enjabemen dipenggal secara “ngawur”. Namun selain chaos, yang terjadi adalah banyak kemungkinan interpretasi. Dan jelas saja, resikonya keterbataan saat dibacakan. Kalau saya parafrasekan, kira-kira menjadi:

 

/Pada hari jumat agung/ /seluruh hamba-hamba/ /mengumpulkan doa

menjadi/  /serpihan hujan

sehingga/ /bumi begitu terluka

menerima/ /rintik kesedihan yang mengalir/

/dari matamu matahari terbelah /pecah

diwajahmu riak-riak cahaya/  /membentuk lingkaran waktu

/sehingga aku masih mampu /membaca takdir pada telapak tangamu

dan /meniupkan ruh pada retakan kata-kata/

 

 

Selain adanya kemiripan gaya dengan puisi Lahir Sajak milik Subagio, puisi Gerimis Luka pun lebih mengedepankan imaji visual dan menekankan emosi mengenai luka dan gerimis itu sendiri. Seakan judul tersebut menjadi pusar milik puisi. Maka seliar-liarnya imaji, akan tetap bersinggungan dengan gerimis dan luka. Dan mengedepankan suasana batin. Sementara dalam Lahir Sajak, sinergi judul dan isi akan dimaknai secara lain. Judul: Sajak, akan dimaknai sebagai hal lain, bukan sajak yang diartikan secara kamus.

 

Yang menarik perhatian dari jenis-jenis puisi seperti itu adalah teknik. Bagaimana pembaca seakan dituntun untuk membaca kata, bukan kalimat. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah keutuhan kalimat. Dalam hal ini saya menyebutnya kalimat, sebab pada dasarnya puisi Gerimis Luka memiliki semangat kalimat. Buktinya, terdapat konjungsi yang berfungsi untuk dibaca secara tersambung.

 

Namun seperti puisi yang pertama, puisi Gerimis Luka pun tidak terlalu peduli dengan permainan bunyi. Dan terdapat kecenderungan kekeliruan penulisan pada diksi /diwajahmu/ yang masih disatukan, padahal penempatan di- untuk bersanding dengan wajah semestinya terpisah.

 

Setelah berliaran dengan dua puisi M. Arfani Budiman tersebut, saya masih melihat adanya kelemahan dari setiap puisi. Hal yang sebetulnya dapat dihindari. Hal yang sebetulnya kecil. Bagaimana menurutmu?

 

Desember 2016

 

Alhamdulilah.

 

 

Catatan:

Paper ini disampaikan pada diskusi reboan ASAS 14 Desember 2016.

Penulis merupakan anggota ASAS UPI.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2016

or

Log in with your credentials

Forgot your details?