Bob Dylan. Karya Musik untuk Akademi Swedia.

Bob Dylan. Karya Musik untuk Akademi Swedia.

Oleh: Nur Al Medina

“Bila anda penggemar ‘musik’, lihat pengertiannya dalam kamus.

Kemudian ‘sastra’. Bandingkan perbedaan keduanya. Wah!”

-Irvine Welsh, penulis novel Trainspotting.


Semisal dalam perhelatan Oscar, bagaimana kira-kira reaksi Leonardo DiCaprio ketika diumumkan bahwa Herbert von Karajan, sang konduktor legendarislah yang memenangkan anugerah bergengsi tersebut? Dengan pertimbangan telah berhasil mengasosiasikan keabstrakan musik-musik simfonik ke dalam gerak tubuh dan mimik wajah. Atau andai kata AMI Awards memenangkan JKT48 atas Elfa’s Singer, Jamaica Cafe, dan nomine-nomine lainnya untuk Kategori Karya Produksi Grup Vokal Terbaik. Karena dianggap memberi warna baru dalam performansi lirical dance dengan konsistensi berkostum ala-ala Jepang yang dirasa lebih mengglobal.

13 Oktober 2016 lalu Akademi Swedia menobatkan Bob Dylan sebagai pemenang nobel kategori sastra. “Menciptakan ekspresi puitis baru dalam tradisi musik Amerika”, begitu yang dikemukakan Akademi Swedia tersebut. Bob Dylan, yang terlahir sebagai Robert Allen Zimmermanadalah seorang penyayi dan penulis lagu asal Amerika. Genre musik yang kerap ia sajikan di antaranya pop dan country. Ia merupakan salah satu dari sekian musisi fenomenal yang sangat berpengaruh. Penyanyi dengan suara berkarakter ini juga sering menjadi sorotan ketika menyodorkan lagu-lagu bernapaskan kritik sosial.

Porsi Dylan dalam mempengaruhi dunia musik, khususnya Amerika, sangatlah besar dan mencakup berbagai aspek. Sebagai seorang musisi ia merupakan pemantik dari perkembangan genre-genre musik pada tahun 1960-an. Diawali dengan terobosannya memadukan campuran folk dengan bentuk musik pop Amerika. Kemudian sebagai seorang penyanyi, ia mendobrak paradigma pada waktu itu bahwa seorang penyanyi harus memiliki suara konvensional yang baik ketika melangsungkan konser. Popularitas serta lagu-lagunya yang banyak digandrungi bahkan membuat dihapuskannya aturan pembatasan lagu berdurasi tiga menit di radio Amerika.

Perihal Nobel, tampak ada hal lain yang disoroti Akademi Swedia pada karya-karya Dylan. Penghargaan Nobel merupakan penghargaan paripurna bagi mereka yang berjasa besar terhadap dunia. Dan salah satu kategorinya adalah sastra. Akademi Swedia tentu memiliki kriteria khusus untuk penerima penghargaan. Nobel Kategori Sastra. Kemudian, elemen musik yang terdekat dengan sastra? Jawabannya sudah tentu lirik. Maka dalam hal ini jelas Akademi Swedia memiliki kecenderungan (sekaligus telah memantau) bahwa lirik-lirik lagu Dylan adalah karya sastra.

Lirik-lirik lagu Dylan terasa puitis? Bisa jadi. Namun bila menyinggung pernyataan Irvine Welsh pada prolog di atas, apakah kita bisa begitu saja mencerai-beraikan berbagai elemen dalam suatu karya seni, dan mengafirmasi salah satunya sebagai sebuah karya seni yang berbeda? Bila pun waktu telah ‘meluaskan’ makna sastra bagi Akademi Swedia, tetaplah suatu keharusan untuk memperhatikan ‘porsi’ pemenang dalam andilnya di bidang sastra.

Sebelum saya menjelaskan posisi lirik lagu Dylan terhadap sastra, khususnya puisi, berikut saya sertakan salah satu lirik lagu ia yang dianggap ‘puitis’.

Blowin’ in the Wind (1962)

How many roads must a man walk down
Before you call him a man?
Yes, ’n’ how many seas must a white dove sail
Before she sleeps in the sand?
Yes, ’n’ how many times must the cannonballs fly
Before they’re forever banned?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind
The answer is blowin’ in the wind

How many years can a mountain exist
Before it’s washed to the sea?
Yes, ’n’ how many years can some people exist
Before they’re allowed to be free?
Yes, ’n’ how many times can a man turn his head
Pretending he just doesn’t see?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind
The answer is blowin’ in the wind

How many times must a man look up
Before he can see the sky?
Yes, ’n’ how many ears must one man have
Before he can hear people cry?
Yes, ’n’ how many deaths will it take till he knows
That too many people have died?
The answer, my friend, is blowin’ in the wind
The answer is blowin’ in the wind

Setelah memaknai sendiri dan mencari berbagai referensi. Isi Blowin’ in the Wind adalah kerinduan akan perdamaian. Secara umum lagu ini berisikan berbagai penggambaran keinginan tersadarkannya manusia akan jahatnya perang. Intinya kerinduan untuk terciptanya perdamaian. Menyinggung “ekspresi puitis”, melihat susunan baris antar liriknya kita akan menemukan rima yang baik dan bisa saja sastrawi. Karena pada dasarnya puitis merupakan suatu kata sifat yang artinya mengandung unsur sastrawi dan dapat ditemukan dalam karya seni apa pun. Tapi apakah lirik-lirik yang ia tulis selama ini memang puisi yang lahir dari ‘kesunyian’? Seperti perkataannya dalam sebuah wawancara di San Fransisco; “Oh, saya merasa lebih sebagai ‘sesosok’ lagu dan tari, tahu?”.

Bob Dylan (baca; lirik lagu) dan Puisi.

Bila menengok ke sejarah kebudayaan Yunani Kuno kita akan menemukan pertalian antara musik dan puisi. Puisi-puisi yang hadir pada zaman Yunani Kuno sering disajikan dengan iringan instrumen petik yang dikenal dengan lyre. Dari konsep sajian dan lyre tersebut lah terbentuk istilah lirik seperti yang kita pahami sekarang. Ratusan abad setelahnya pun banyak komponis berbagai periode yang melakukan hal serupa. Sebut saja Franz Schubert komponis periode Romantik (1800-1910) asal Jerman yang menciptakan banyak karya lieder.

Lieder adalah puisi-puisi era Romantik yang kemudian dimusikalisasikan dengan estetika musik pada eranya. Yang mana biasanya tersaji dalam bentuk musik simfonik. Peran Schubert dalam lieder benar-benar hanya sebagai komposer. Sebelum digubah, lirik-liriknya telah lebih dulu ditulis sebagai puisi. Sebut saja Der Tod und das Mädchen yang awalnya puisi karya seorang penyair Jerman, Matthias Claudius.  Kemudian puisi Der Doppelgänger karya penyair Jerman lainnya,  Heinrich Heine, yang juga digubah ke dalam lirik lieder.

Ada kesamaan antara karya-karya epik Yunani Kuno maupun lieder dari segi sastra; lirik yang dilantunkan merupakan puisi yang digubah secara fungsi. Penggarapan musiknya pun masih sangat berpegang pada pakem estetika masing-masing era. Lirik yang memang puisi, dan iringan yang  memenuhi ‘standardisasi’ sebagai musik. Dengan kata lain kualitas elemen lirik maupun musiknya dapat dipertanggungjawabkan secara bidang keilmuan masing-masing.

Lirik-lirik lagu Dylan dan kemenangannya dalam Nobel Kategori Sastra 2016 telah jauh dari budaya kedisiplinan pakem seni seperti masa-masa epik Yunani Kuno maupun lieder. Kembali lagi, tentu lirik lagu lah yang diperhatikan Akademi Swedia dalam karya-karya Dylan, satu aspek musik yang mengandung ‘bahasa’ secara harfiah. Kita lihat sedikit pengertian bahasa dalam KBBI; sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Dari sana pun dapat kita pahami bahwa lambang bunyi yang terkandung dalam bahasa lebih mengacu kepada sebuah semiotika verbal untuk berkomunikasi. Berbeda jauh dengan pemaknaan bunyi auditif dalam konstruksi musik. Maka yang menjadi pertanyaan besar adalah, landasan apa yang menjadi ‘kunci’ kemenangan Dylan dan batasan antar genre seni yang dipegang Akademi Swedia? “The answer is blowin’ in the wind…”.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2016

or

Log in with your credentials

Forgot your details?