Melihat Aan Bekerja dalam “Melihat Api Bekerja”

oleh Nur Al Medina

Saya merasa Aan berhadapan dengan saya
dan dengan seenaknya menyampaikan apa yang terlintas dalam pikirannya,
ia tidak berpura-pura menyusup kata dan kalimat yang dilem dengan kausalitas
ia ‘ngomong’ saja.
-Sapardi Djoko Damono

I. Bentuk dan Teknik dalam “Melihat Api Bekerja”

Membaca tiap sajak dalam kumpulan Melihat Api Bekerja kita seperti didongengkan tentang berbagai hal dan peristiwa yang berloncatan namun padu. Keterpaduan di sini merujuk pada teknik dan bentuk Aan dalam menyajikan suatu gagasan dalam sajaknya. Senada dengan pernyataan Sapardi di awal paper ini, secara keseluruhan terlihat Aan mengadopsi bentuk sajian prosa terhadap sajak-sajaknnya.

Sebagaimana pengertian prosa menurut Toyidin dalam Sastra Indonesia Puisi Prosa, prosa merupakan salah satu genre karya sastra yang disusun dalam bentuk cerita bebas dan tidak terikat oleh rima dan irama, atau sering disebut juga sebagai teks naratif, atau wacana naratif.

Di sini saya hendak mengkaji gagasan dari sajak-sajak Aan ditinjau dari teknik dan bentuk penulisannya. Saya ambil contoh sajak Tentang Sepasang Kekasih yang Melintas Bergandengan Tangan;

Kelak aku seorang asing
bagimu. Wajahku gunung, tidak
tampak puncaknya karena tertutup
kabut—atau pameran tak kaukenal
dalam film-film noir yang dipenuhi
kepulan asap kretek.

Ketika kaucoba menyusun
wajahku, kau seakan-akan
membaca Sylvia Plath pada
pukul tiga pagi. Kau tidak bisa
tidur dan aku satu-satunya
nyawa yang bisa kauhirup sebelum
berangkat ke kantor.

Kelak suatu sore kau berdiri di
depanku. Bumi bergetar sendiri
karena memberat oleh keheningan
yang tidak bisa kita tampung.

Kauingat ketika
mencintaiku segampang
menghiruphembuskan napas. Aku
berhenti merokok karena
tidak tega melihat dadamu
nyeri. Aku mengganti parfum
beraroma ayahmu yang mati oleh
peluru nyasar polisi. Aku lebih rajin
memotong kuku. Aku mengurangi
waktu main Twitter dan game
online yang tidak kautahu namanya.

Ke mana-mana kaugenggam
jariku, kau rasakan jantung kita
berkedut kecil di telapak tanganmu
yang mudah basah. Ketika aku
diam, kau menghitung dalam hati.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam.
Kau tersenyum menyadari jatung
kita adalah penyanyi dan musik
pengiring yang serasi.

Lalu kau tiba-tiba menemukan
kesimpulan. CInta adalah hidangan
di atas meja, pelan-pelan dingin
dan kau tidak lagi lapar.

*

Kelak aku seorang asing bagimu.
Tidak lebih satu wajah entah siapa
tersesat di keramaian karnaval.

Namun, sejak itu, kau tak mampu
menyanyi atau menghitung sesuatu
tanpa merasakan jari-jariku
menggelitik jantungmu.

Aku kembali mengisap kretek
sembari mengenang dadamu yang
sering mendadak minta diantar ke
rumah sakit.

Penulisan sajak di atas tampak tidak terpetak-tepak oleh fragmen. Namun ketika membacanya seolah terbayang adanya segmen ‘adegan-adegan’ dengan alur maju-mundur. Aku lirik seolah mengisahkan perjalanan cintanya dengan objek dalam sajak. Awal larik /Kelak aku seorang asing bagimu. Wajahku gunung, tidak tampak puncaknya karena tertutup kabut—…./ berfungsi sebagai perumpaan aku lirik yang kelak tidak lagi dikenal oleh objek sajak. Setelah menuturkan perumpamaan pada bait awal, ada ‘adegan’ seolah aku lirik bernapak tilas, yang terlihat dalam bait selanjutnya.

Kasus serupa terjadi pada bait ketiga dan diikuti dengan ‘adegan’ mengingat-ingat kembali pada seluruh tiga bait setelahnya. Pada bait ketujuh aku lirik kembali pada larik awal /Kelak aku seorang asing bagimu./. Namun berbeda dengan pola ‘adegan’ mengingat-ingat seperti sebelumnya, pada dua bait terakhir setelahnya aku lirik menceritakan mengenai realita perjalanan cintanya saat ini. Yang mana menjadi sebuah pengabsahan gagasan sajak yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang tidak lagi bersama.

Ada pun sebuah ide lain yang saya temukan dalam sajak Pulang ke Dapur Ibu;

Aku hidup di antara orang-orang yang memilih
melakukan usaha lebih keras untuk menyakiti orang
lain daripada menolong diri sendiri.

Aku ingin pulang ke dapur ibuku, melihatnya
sepanjang hari tidak bicara. Aku ingin menghirup
seluruh kebahagiaannya—yang menebal jadi aroma
yang selalu membuat anak kecil dalam diriku
kelaparan.

Aku ingin hidup dan diam bersama ibuku. Aku akan
menyaksikan ia memetik sayur di kebun kecilnya di
halaman belakang untuk makan malam yang lengang.
Aku ingin membiarkannya tersenyum menatapku
makan tanpa bernafas.

Aku ingin melihat ibuku tetap muda dan mudah
tersenyum. Aku ingin menyimak seluruh kata
yang tidak ia ucapkan. Aku ingin hari-harinya sibuk
menebak siapa yang membuatku tiba-tiba suka
bernyanyi di kamar mandi.

Masih dengan gaya prosais yang sama dengan Tentang Sepasang Kekasih yang Melintas Bergandengan Tangan, hanya saja sajak Pulang ke Dapur Ibu secara keseluruhan disajikan dengan lebih deskriptif. Tema yang diangkat dalam sajak ini adalah kerinduan –kerinduan aku lirik terhadap suatu masa pada kanaknya–.

Pada bait pertama aku lirik memulai dengan pernyataan mengenai kondisinya di masa kini. Sedangkan bait setelahnya hingga akhir, berisikan deskripsi kerinduan-kerinduan aku lirik yang dikemas dengan berbagai imaji.

Contohnya pada larik pertama di bait kedua, /Aku ingin pulang ke dapur ibuku, melihatnya sepanjang hari tidak bicara./. Kata-kata /aku ingin/ memberi tafsiran akan sesuatu yang diidamkan, dan dalam gagasan sajak ini kata-kata tersebut merujuk pada kerinduan. Masih dalam larik yang sama, terdapat imaji visual dalam diksi /melihatnya/ yang agaknya Aan gunakan sebagai pembuka dalam sebuah teknik kepenulisan.

Kerinduan aku lirik terus terasa dengan selalu dimunculkannnya /aku ingin/ pada larik pertama di awal bait ketiga maupun keempat. Dan setelahnya selalu muncul pula deskripsi mengenai suatu situasi yang dikemas dengan imaji lain –selain imaji visual yang dicontohkan di atas–.

II. Estetika “ke-Prosa-an” Sajak-sajak Aan

Banyak cara dan eksperimen yang dapat dilakukan seorang penyair dalam menemukan atau menciptakan gaya kepenulisannya. Salah satu yang kerap dilakukan adalah dengan mengapresiasi dan mengkaji bentuk-bentuk kepenulisan para penyair terdahulu. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Aan terlihat tampak memiliki gaya prosais dalam sajak-sajaknya. Namun dengan keunikan bentuk sajak tersebut, tidak berarti kita bisa menyimpulkan bahwa Aan benar-benar menciptakan atau memelopori bentuk prosa dalam kepenulisan sajak.

Dalam hal ini, saya menemukan adanya gaya kepenulisan serupa yang sebelumnya telah dilakukan oleh penyair Sapardi Djoko Damono seperti contohnya dalam sajak Bola Lampu;

Sebuah bola lampu menyala tergantung dalam kamar. Lelaki itu
menyusun jair-jarinya dan bayang-bayanganny nampak
bergerak di dinding; “Itu kijang,” katanya. “Hore!” teriak
anak-anaknya, “sekarang harimau!”
“Itu harimau.” Hore! “itu gajah, itu babi hutan, itu kera …”

Sebuah bola lampu ingin memejamkan dirinya. Ia merasa berada
di tengah hutan. Ia bising mendengar hingar-bingar
kawanan binatang buas itu. Ia tiba-tiba merasa asing
dan tak diperhatikan.

Cara sajak ini berbicara serupa naratifnya dengan yang dilakukan Aan. Membaca sajak Sapardi di atas kita akan pula memiliki kesan sedang didongengkan cerita tinimbang dideklamasikan sebuah sajak. Kita lihat satu contoh lagi sajak Sapardi lainnya yang berjudul Percakapan dalam Kamar;

Puntung rokok dan kursi bercakap tentang seorang yang tiba-tiba
menghela nafas panjang lalu berdiri.
Bunga plastik dan lukisan dinding bercakap tentang seorang
yang berdiri seperti bertahan terhadap sesuatu yang akan
menghancurkannya.
Jam dinding dan penanggalan bercakap tentang seorang yang
mendadak membuka pintu lalu cepat-cepat pergi tanpa me-
nutupkannya kembali.
Topeng yang tergantung di dinding itu, yang mirip wajah pem-
buatnya, tak berani mengucapkan sepatah kata pun; ia
merasa bayangan orang itu masih bergerak dari dinding ke
dinding; ia semakin mirip pembuatnya karena sedang
menahan kata-kata.

Sajak Percakapan dalam Kamar pun sama-sama memilik nafas prosa dengan dua sajak Aan yang sebelumnya telah dikaji. Hanya saja bila Aan lebih banyak memilih berbagai imaji deskriptif dalam teknik kepenulisannya, dalam hal ini Sapardi terlihat cenderung menggunakan majas personifikasi di samping penuturan sajaknya yang juga deskriptif.

Majas-majas personifikasi yang digunakan Sapardi menjadi kekuatan tersendiri dalam sajak-sajaknya. Kesan yang ditimbulkan ketika benda-benda sebagai subjek dimasukan perilaku  manusia, membuat gaya naratif dalam sajak-sajak Sapardi terasa lebih hidup. Sedangkan kekuatan sajak-sajak Aan lebih kepada loncatan-loncatan peristiwanya yang bebas dan liar. Yang secara tidak langsung menunjukan adanya kedalaman eksplorasi dari sang penyair.

Oleh karenanya saya berasumsi bahwa proses Aan dalam mencari estetika kepenulisannya juga dengan cara mengapresiasi dan mengkaji berbagai bentuk penyair-penyair sebelumnya. Besar kemungkinan, Aan pun terpangaruhi oleh gaya bersajak Sapardi atau pun penyair prosais lainnya.

Selain mengapresiasi berbagai estetika penyair terdahulunya, juga besar kemungkinan Aan pun bereksperimen dan mengembangkan gaya prosaisnya agar tidak terkesan menjiplak. Di samping berapresiasi tentunya penting bagi seorang penyair untuk mendalami kehidupannya sebagai usaha menemukan otentisitas maupun melatih kepekaan dalam berkarya. Seperti Saini KM pernah menyinggung mengenai proses ini dalam Puisi dan Beberapa Permasalahannya, seorang penyair haruslah memperhatikan pentingnya kesejatian pengalaman sendiri demi menghindari terjadinya epigonisme.
Catatan:
Makalah ini disampaikan pada Reboan ASAS tanggal 12 Agustus 2015.
Penulis adalah anggota ASAS mahasiswa Departemen Pendidikan Musik UPI.

0 Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account