2 Puisi di Indopos, 6 Februari 2016

DI JALAN KOLONEL MASTURI, CIMAHI

1/

Aku pun tiba

saat siluet Burangrang-Tangkubanparahu

tampak jelas sekaligus samar

memenuhi mataku.

 

Hujan belum reda

tapi para pengendara

terus bergegas ke utara.

 

Jalan lempang berlubang

tergenang coklat cileuncang.

 

Sebuah terminal kecil

menggigil.

Antara papan petunjuk arah

tebaran plastik sampah

ingatanku padamu

ikut basah.

 

2/

Tak jauh dari alun-alun kota

pernahkah kau sadari

aku berjalan

sesangsai ini:

sendiri

menyusuri trotoar

gamang

keluar masuk gang

sempoyongan

ditempa hujan

gemetar

melihat lampu dinyalakan

berdebar

mendengar azan magrib

deru kendaraan

memenuhi langit

kehampaan.

 

Apa yang sebenarnya kutuju

jika segala ruang adalah alamatmu.

 

3/

Deretan pertokoan terus memanjang

saban hari.

Di dindingnya yang kasar, berguratan

garis nasibku sendiri.

 

Aku melewati semuanya, pelan

seperti melewati bagian paling menggetarkan

dari perihnya kenyataan.

 

4/

Aku melihat jalanan tapi aku tak melihat jalanan.

Aku bicara padamu tapi aku tak bicara padamu.

 

Hatiku senyap sekaligus gaduh.

Harapanku lenyap sekaligus tergenggam penuh.

 

Adakah makna pulang atau kembali

bagi mereka yang tak pernah benar-benar pergi.

 

5/

Sampai di seberang Pasar Atas

tepat di samping gereja

dan grosir beras;

 

kenapa angin, lengan malam yang lengas

terasa terus mengulurkan rasa gemas?

 

Terasa

terus

mengulurkan

rasa

gemas.

 

2015.

 

DI KEDAI 24 JAM

Di kedai 24 jam aku duduk berhadapan dengan kekosongan.

Jalan di seberang sungguh lengang

meski 1-2 kendaraan sesekali terlihat berlintasan.

 

Ini jam 2 pagi

konon, waktu yang tepat buat menulis puisi.

 

4 bangku kayu—dingin—tak tersentuh
embun pikiranku.

Gelas-gelas kosong—mendongak—ingin menampung

ampas hitam impianku.

 

Tapi layar televisi terus mewartakan berita-berita mengerikan.

Baris-baris puisi bakal gemetar menafsirkan segala yang tak terbayangkan.

 

Sehabis tuntas rasa lapar, kusaksikan tiang-tiang listrik

pembatas jalan, parit sempit depan gedung tinggi kehitaman

mengabur—diurapi napas lembut kekosongan.

 

Lalu derik jangkrik dan angin dan daun-daun berdesauan.

Lalu asap mengepul bikin mata makin merah kelelahan.

 

Di kedai 24 jam aku percaya bahwa saat waktu berjalan dilingkupi

pesona-pesona kecil menggetarkan—takdir dan puisi

digariskan lewat kesedihan-kesedihan ganjil tak terkatakan.

 

2015.

 

3 Comments
  1. Idham Hamdani 3 tahun ago

    Asyik! Saya suka saya suka!

  2. Author
    Zulkifli Songyanan 3 tahun ago

    Hatur nuhun parantos nganjang, Kang @idhamhamdani 😀

  3. ujianto sadewa 2 tahun ago

    mantap zul puisimu

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account