Beberapa Puisi Alejandra Pizarnik

debu

kita telah mengucapkan kata-kata,

untuk membangkitkan orang mati,

untuk mulai menyalakan api,

kata-kata yang membuat kita bisa duduk

dan tersenyum.

 

kita telah menciptakan khotbah

tentang burung dan samudera,

khotbah soal air,

dan cinta.

 

saat bintang-bintang berdesahan,

kita terus berlutut

menyembah frasa-frasa,

frasa-frasa yang bagai gelombang,

dan bersayap.

 

kita telah menemukan nama baru

bagi anggur dan gelak tawa,

juga bagi penampilan dan cara mereka

yang mengerikan.

 

aku sendirian sekarang

—seperti seorang kikir mengigau

di atas gunung emasnya—

melempar kata-kata ke udara,

tapi aku sendirian

dan tak bisa bercerita pada kekasihku

tentang kata-kata yang darinya aku ada.

 

 

biru

lenganku menumbuhkan suara

di balik bunga

 

tapi kini

mengapa aku mencarimu, malam,

mengapa aku tidur bersama kematianmu?

 

 

tiada

angin mati dalam lukaku.

malam pun mengemis meminta darahku.

 

 

ketakutan

pada gema kematianku

tersirat ketakutan.

tahukah kamu soal ketakutan?

aku tahu ketakutan saat kuucapkan namaku.

ini sungguh menakutkan,

ketakutan dengan sebuah topi hitam

menyembunyikan tikus dalam darahku,

atau ketakutan dengan bibir kematian,

mereguk gairahku.

pada gema kematianku

masih tersirat ketakutan itu.

 

 

kekurangan

aku tidak tahu soal burung,

tidak juga soal asal-usul api.

tapi aku berpikir kesunyian ini mesti mempunyai sayap-sayapnya sendiri.

 

 

puisi

kau pilih tempat luka

di mana kami ucapkan keheningan kami.

kau buat hidup ini

menjadi upacara yang demikian murni.

 

 

wahyu

malam hari ia ada di sampingmu

kata-kata adalah petunjuk, kunci.

memimpin hasrat untuk mati.

 

semoga tubuhmu selalu

menjadi ruang yang dicintai sang wahyu.

 

 

di hari ulang tahunmu

terimalah wajahku ini—

yang bisu, memelas.

terimalah cinta ini yang kupinta darimu.

terimalah apa yang pada diriku adalah dirimu.

 

 

pecinta

setangkai bunga

tak jauh dari malam hari

tubuh bisuku

terbuka

menerima desakan lembut embun ini

 

 

pengakuan

kau membuat keheningan bunga ungu bergetar dalam lakon sedih angin di hatiku.

kau terbuat dari cerita masa kanak kehidupanku

di mana kapal karam dan ajal

adalah alasan bagi upacara terindah itu.

 

 

Alejandra Pizarnik (1936-1972) adalah salah satu perempuan penyair terbesar Argentina yang lahir dari keluarga imigran Eropa Timur. Sebelum meninggal dalam usia 36 tahun, Pizarnik sempat mengambil studi Sejarah Agama dan Sastra Prancis Mutakhir di Universitas Sorbonne.

Diterjemahkan oleh Zulkifli Songyanan dari Alejandra Pizarnik, Selected Poems, Translated by Cecilia Rossi (Waterloo Press, Agustus, 2010).

 

 

 

 

 

1 Comment
  1. Yopi Setia Umbara 4 tahun ago

    mantiap, mang @zoeoul.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account