Novel 8 Pusaran

(Awalan dan Bagian 1) karya Zulfa Nasrulloh

Awalan

Ini adalah kisah tentang penghuni kosan nomor 8 yang tak satupun orang di sana berani menyebut namanya. Kosan itu terletak di kampung kumuh sebelah timur sebuah kampus negeri. Kampus yang dulunya sekolah tinggi pendidikan di utara kota Bandung. Besar kemungkinan karena kampus tersebut punya masalah serius dengan sistem belajar dan kelola pendidikan sehingga tokoh yang kuceritakan ini, punya persoalan yang tidak main-main sebagai manusia. Ia seperti makhluk mutan yang berbahaya sekaligus punya pesona. Ada harapan yang gelap, berlian berwarna hitam yang terbenam di kelam jiwanya. Tapi tak ada yang berani menyelam untuk menemukan berlian itu. Tak ada yang mau bergaul lagi dengannya. Jiwa yang mati, begitulah orang-orang menyamarkan namanya.

Namun jika kalian bertemu dengannya di sekitaran kampus itu, pada sore atau malam hari, ia akan terlihat seperti lelaki biasa. Berjalan-jalan dan duduk-duduk di halaman gedung perkuliahan. Semua orang akan mudah terkecoh dengan sikapnya yang tak menunjukkan apapun selain kemurungan. Tubuhnya cukup tinggi dan tidak terlalu gemuk, sangat lumrah bagi orang seumurannya. Lelaki berumur mungkin 25 tahun dengan selera humor yang rendah. Kulitnya sawo matang dan berambut ikal, mungkin itu yang paling mencolok darinya. Selain juga langkah kakinya yang selalu cepat di tengah orang-orang sekarang yang begitu lambat dan malas berjalan. Satu lagi, ia biasa menundukkan kepala dan tidak suka menatap mata lawan saat bicara.

Telah lama ia lulus dari kampus pendidikan itu dan tetap memilih tinggal sambil sesekali berkarya. Beberapa satpam mengenalnya sebagai aktifis paling berontak pada masanya. Mungkin hal itu masih terasa saat kalian tak sengaja bersitatap dengan sorot matanya. Mata merah berkantung yang kejam itu tertanam di wajah sawo matang yang pucat.

Seorang satpam yang sering bercerita panjang lebar kepadaku tentangnya adalah Pak Mus. Satpam itu pengagum sekaligus sahabat lama tokoh kita ini. Namun terakhir kutahu, mereka bertengkar hebat. Pertengkaran itu membuat tokoh kita tak pernah lagi terlihat. Berbulan-bulan lenyap dari peredaran. Aku sempat meluangkan waktu mencarinya ke seluruh tempat di kampus. Kantin, taman Partere, Gedung Lama, Parkiran, dan Hutan Botani, tempat-tempat itu biasanya meringkus tubuh kurusnya tiap siang, sore, dan larut malam. Tapi saat itu, sosok ringkihnya tak ada di sana.

Hingga saya bertemu dengan Pak Mus lagi setelah sekian lama. Kisah panjang lebar ini saya catat dari ceritanya yang sempat terpotong-potong dalam beberapa pertemuan. Lelaki yang menghuni kosan nomer 8 itu meninggalkan beberapa jejak bagi Pak Mus untuk mencarinya. Yang mengherankan kemudian adalah Pak Mus menemukan hubungan antara angka 8 itu dengan pertemuan tak sengajanya dengan lelaki itu tepat di bulan 8 tanggal 8 dan pukul 8 malam. Dan jika tak salah Pak Mus menghitung, hari itu adalah hari dimana mereka berkelahi 8 bulan yang lalu.

Bagian 1

Ira masih ragu. Ditatapnya sosok itu sekali lagi. Tepat di atas tangga, sosok gelap yang duduk dan terisak-isak. Suaranya terdengar perih. Sesekali sosok itu berdiri lalu duduk lagi. Gerak-gerik juga postur tubuhnya seolah Ira kenali. Juga rambut pendek dan baju lengan panjangnya, mengingatkannya pada seorang lelaki misterius (sebab belum sempat berkenalan) yang pernah meminjamkannya payung. Ira masih menyimpan payung itu. Ia selalu membawanya kemana-mana.

Bukan karena musim hujan, tetapi payung itu mesti kembali pada pemiliknya yang entah ada di mana. Lelaki itu menghilang, berlari ke dalam deras hujan setelah memberinya payung di sebuah halaman toko obat. Ira telah membeli obat untuk kekasihnya yang demam di kosan. Lelaki itu tiba-tiba datang, memberinya payung, dan pergi sambil hujan-hujanan. Aneh, tak sedikitpun bahasa keluar dari mulutnya hanya payung yang diserahkan kepadanya lalu lelaki itu pergi.

Payung itu tergeletak di hadapan Ira. Tak ada siapa-siapa di sana. Penjual obat pun sedang masuk ke dalam rumah. Ira melihat obat di tangannya yang mesti segera ia antarkan. Dengan ragu payung itu ia pakai. Ira memakainya sambil berlari dalam deras hujan. Perasaan sebagai pencuri dan peminjam payung berseliweran dalam dirinya. Setelah sampai kosan, ia harus mencari lelaki itu dan payung itu mesti dibawa kemanapun Ira pergi.

Apakah sosok gelap itu lelaki yang selama ini ia cari? Ira pun bersembunyi di balik dinding sebelah kiri tak jauh dari tangga itu untuk memastikan wajahnya. Tempatnya gelap, cahaya menyorot Ira dari sebelah kanan tangga, membuatnya berhadap-hadapan dengan cahaya. Sedikit saja ia menjulurkan leher, maka sosok itu mampu melihatnya tersorot terang lampu. Sementara wajah sosok itu semakin sulit dilihat sebab ia membelakangi cahaya.

Sosok itu menolehkan wajahnya ke arah kiri, ke arah Ira. Raut wajahnya semakin gelap. Ira hanya terdiam, mustahil mencari-cari bentuk wajah yang mungkin ia kenali. Perasaan lalu yang menempatkannya sebagai peminjam payung dan pencuri hadir lagi dalam dirinya. Kini ia merasa sebagai pencuri yang ingin mengembalikan barang curian dan pengintip orang yang belum ia kenali. Hingga tiba-tiba sosok itu menghadap ke arahnya, dua tangannya diulurkan seperti meminta Ira datang mendekat. Ira tersentak dan berpaling. “Sial! aku tertangkap.”

Ira pergi dengan pura-pura tak merasa melakukan sesuatu. Ia berjalan biasa saja, lalu jalannya jadi cepat dan ketakutan membuatnya benar-benar berlari. Ia tak sedikitpun menengok ke belakang, seolah sosok itu tengah mengejarnya. Padahal tak ada apapun selain angin dari gegas langkahnya yang menggebu. Dalam pelarian itu, ia sempat melihat layar hanphone di tangannya. Pukul 12, Kamis malam. Kliwon! Desisnya pada jalan kampus yang memang sangat sepi malam itu.

Akhirnya tiga menit kemudian dari pelarian itu, ia temukan keramaian. Gerbang keluar kampus dengan jalan raya, pedagang, dan lalu lalang kendaraan. Sejenak Ira bernafas lega ditengoknya ke belakang tak ada sosok itu mengikutinya. Ia menatap orang-orang yang menatapnya dengan wajah tegang, seperti pencuri yang berpura-pura tak melakukan kesalahan.

Hingga sampailah ia pada belokan yang dituju. Sebuah gang yang gelap menyambutnya. Kengerian menyergapnya kembali. Ia melangkah, mesti tetap berjalan, meski langkahnya menjadi cepat. Tepat di ujung gang itu kosan mungilnya menunggu.

*

Kosannya berada di lantai dua bangunan lama. Ia mesti mengelilingi sebuah tangga melingkar yang seminggu lalu memakan korban jiwa. Seorang mahasiswi cantik di subuh buta terjatuh dari tangga itu. Kepalanya menancap pada besi beton yang belum dicor tak jauh dari tangga. Saat itu warga kesulitan untuk mencabutnya. Petugas kepolisian yang sudah tak asing dengan tempat kosan itu akhirnya dengan wajah santai mencabut paksa kepala si cantik hingga tersisa sedikit daging dan bercak darah di karat besinya. Tadi pagi Ira kesal pada bercak yang menghantui malam-malamnya itu dan akhirnya menyemprotkan bensin pada besi beton dan membakarnya. Aroma sate seketika meruap ke udara dan ibu kos hanya menoleh keluar dari rumahnya lalu tersenyum pada Ira. Senyumannya selalu terlihat aneh di mata Ira.

Baru sebulan Ira tinggal di kosan itu. Kosan berbentuk rumah tahun 70-an yang pada bagian atapnya ditambahkan menjadi tingkat dua. Kata beberapa tetangga, lantai dua kosan itu selalu memakan korban jiwa. Berita itu ia ketahui setelah kematian si Cantik. Menyebalkan mengetahui berita itu, sebab sekarang ia adalah penghuni satu-satunya lantai dua itu. Tadinya sebelah kosannya masih ada si Cantik yang sebenarnya juga tak pernah sering menemaninya.

Ira masih ingat pertemuan pertama dengan si Cantik yang akhirnya ia tahu bernama Dina. Setelah sulit sekali bertemu dan berinteraksi dengan Dina, sebab Ira kuliah pagi dan pulang sore hari, sementara Dina yang juga sekampus dengannya, lebih sering pulang larut malam bahkan subuh.

Suatu ketika, saat Ira terbangun untuk menunaikan shalat malam, Ira mendengar seseorang mengetuk pintu kosannya. Tidak ada suara orang, hanya ketukan pintu terdengar beberapa kali dengan jeda yang cukup lama. Ketukan itu membuat Ira menghentikan aktifitasnya dan jantungnya berdegup tak biasa. Ia mencoba memberanikan diri untuk membukakan pintu. Ketika pintu dibuka tak ada siapa-siapa di depannya. Aneh. Ira menengok ke sekitar, dan  di ujung lantai dua itu, Dina tergeletak di depan kosannya sendiri. Dina terkulai lemas, matanya setengah terpejam. Ia nampak setengah  sadar, menggumam, aku le-lah, to-long, per-gi. Tidak begitu jelas suara dan maksud perkataannya.

Ira mencari kunci kamar  di saku dan tas Dina, namun ia tak juga menemukannya. Ia pun membopongnya masuk ke dalam kamar kosannya. Segera memberinya minum dan selimut hangat. Dina nampak ketakutan dan demam. Hingga cukup lama Ira merawatnya, akhirnya ia pun tertidur pulas. Pagi harinya barulah Dina sadar dan memperkenalkan dirinya.

Lama Ira berbincang dengannya. Dina hanya bercerita bahwa tadi malam ia mabuk berat. Lalu temannya tidak begitu kuat mengantarnya hingga ke kosan. Maka ia memaksakan diri untuk naik ke kosannya di lantai dua dan akhirnya ambruk sebelum sampai membukakan pintu. Yang terkenang bagi Ira dari perkenalan itu adalah Sebelum ia pulang, Dina sempat berpesan, “Kamu mesti hati-hati dengan si ibu (yang dimaksud ibu pemilik kosan). Ia banyak
memperhatikanmu akhir-akhir ini.” Ira tidak begitu paham, dan ketika ia bertanya tentang maksud Dina, Dina hanya pergi dengan tatapan serius dan gaya langkahnya yang khas: keras dan bebas.

*

Pertanyaan itu cukup menghantui Ira beberapa hari. Sempat beberapakali berpapasan dengan Dina, tapi nyalinya kecut untuk bertanya. Dina pun tak banyak bicara. Seperti biasa, ia hanya tersenyum dan berpaling pergi. Lama memerhatikan Dina, Ira sedikitnya mengerti sifat dan karakter perempuan berambut sebahu itu. Ia tak pernah memakai pakaian yang feminim. Selalu menggunakan kaos dan celana yang robek-robek. Tapi ia cukup cantik, harum, dan bersih. Hanya selera fashionnya saja yang mirip lelaki dan menyukai warna gelap. Yang sering membuat Ira iri dan jijik adalah Dina selalu membawa lelaki ke kamarnya, dan berganti-ganti, dan selalu mengeluarkan suara-suara cabul yang benar-benar tak terkontrol. Ira seperti tersengat petir mendengar desahan-desahan itu dan tidak jarang ia menemukan tiba-tiba celana dalamnya basah tanpa alasan.

Yang paling mengherankannya, kelakuan cabul liar itu dilakukan di siang hari, dengan pintu kosan yang sedikit terbuka. Ira saat itu akan berangkat kuliah siang. saat melewati tangga, sebelum turun, samar-samar terlihat di dalam kamar itu Dina digauli dua orang lelaki. Dina yang terkulai dengan kemaluan lelaki di mulutnya dan kepala rakus di dadanya. Is merintih dan matanya memergoki Ira yang terpaku di mulut tangga. Rintihannya semakin keras seperti mengusir kesadaran Ira yang takjub sekaligus ngeri melihat pemandangan itu. Ira terperanjat dan turun dengan tergesa.

Tak disangka di bawah tangga, rupanya ibu kos telah berdiri menatap lantai dua dengan tatapan yang tajam, lalu menatapnya sambil tersenyum mencurigakan. “Kuliah Neng?” Ira hanya mengangguk dan berlari seolah ia telah sangat terlambat. “Hati-hati di jalan!” Kata Ibu kos sedikit berteriak.

Saat sore hari, pulang dari kampus, Ira menemukan Dina berdiri di depan kosannya. Wajahnya tenang dan seperti biasa, khas: keras dan bebas. Ira terheran dan wajahnya memerah melihat Dina menatapnya tanpa suara. Kejadian tadi pagi pasti terkenang di pikiran keduanya. Tapi Dina tak sedikitpun terlihat malu dan canggung, justru Ira yang kikuk padahal langkah kakinya menuju tempatnya sendiri. Ira akhirnya hanya bisa tersenyum dan mendekati pintu. Dina bergeser dan masih menatap Ira dengan wajah yang nakal. Ira membukakan pintu kosannya.

“Boleh saya masuk?” Dina meminta dengan nada yang bersahabat. Ira dengan sangat disesalinya mengiyakan permintaan itu. Dina pun masuk dan melihat-lihat segala benda yang ada di kamar kosannya, bersiul, mengangguk-ngangguk, dan akhirnya Ira yang memulai pembicaraan diantara mereka.

“Aku minta maaf soal kejadian tadi pagi.”
“Ah, itu salahku tak menutup pintu.”
“Ibu kosan tahu.”
“Mestinya memang begitu. Haha”

Dina mendekati wajah Ira. “Kamu belum pernah melakukannya ya?” Senyuman Dina seperti petir yang menyambar pikiran Ira.
“Maaf? Apa?” Ira terdiam lama, lalu akhirnya membentak, “Itu privasi!” dengan nada yang canggung Ira pun melanjutkan bicaranya, “Pertanyaan itu tidak pantas dan tak membuktikan apapun tentang saya, paham?”
“Paham apa? Haha. Kamu memang kaku. Tentu saja, jawabannya belum.”

Ira terdiam. Mereka berdua terdiam lagi dengan aktifitas masing-masing. Ira terlihat membereskan kasur yang sebenarnya telah rapi. Dina memperhatikan deretan buku koleksi Ira dan mengambil salahsatunya yang berjudul Second Sex. Dina memperlihatkan pilihan bukunya pada Ira seperti meledek dan ia pun tertawa. Ira merasa kamarnya telah ganti pemilik, ia tidak mampu menguasai perempuan bebas ini di dalam kamarnya. Perasaan takut dan malu bercampur dalam dirinya. Ira pun mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kamu punya masalah dengan ibu kos?”
“Tidak. Ia yang bermasalah sejak lahir. Haha”
“Aku serius.”
“Aku juga serius!” Wajahnya menegang. Suasana jadi hening dan tidak bersahabat.
“Itu buku karya Simone de Beouvoir”
“Selera bagus. Kamu mesti hati-hati saja. Ia menyebalkan. Dan lebih dari itu, ia punya persoalan dengan kejiwaannya.”
“Ini bercanda, atau seperti apa? Obrolannya terkesan ngawur.”
“Susah aku menjelaskannya. Tapi besok pasti aku jelaskan. Sebenarnya aku kesini hanya untuk memastikan sesuatu.”
“Apa?”

Dina tiba-tiba mendesak dadaku ke dinding dan berkata, “Jangan pernah mengurusi urusan orang lain! Paham? Ibu kost itu berbahaya buatku termasuk buatmu! Sedikit saja dia tahu tentang kesalahan kita, dan punya alasan, kita bisa dalam bahaya. Paham?” Ira termangu. Ia tak bisa menjawab pernyataan dan pertanyaan itu. Semua seolah tak ada hubungannya dengan segala yang telah terjadi tadi pagi. Ia mengingat-ngingat lagi semua peristiwa. Yang terlintas kemudian adalah Ibu kos yang melihat tajam ke arah lantai dua dan tersenyum kepadanya. Yang terlintas adalah Ibu kos yang tersenyum kepadanya. Teeeettt! Suara klakson motor menyadarkan lamunan Ira. “Besok kuceritakan semuanya. Aku harus pergi, pacarku ngajak makan malam di Dago. Ya, kapan-kapan kubawakan kau satu yang cukup kuat. Kau mesti mencobanya. Dan sebagai jaminan janjiku, buku ini kupinjam” Dina pergi. Dan itu hari terakhir Dina yang hidup terekam dalam ingatan Ira.

Subuhnya Ira menemukan Dina yang mati terjatuh dari tangga. Ira adalah perempuan pertama yang merekam tubuh seksi dengan kepala tertancap di beton besi. Ira adalah perempuan pertama, yang seperti adzan subuh berteriak membangunkan orang-orang yang sama menyusul histeris melihat mayat mengenaskan itu. Sebab Ira yang pertama melihat mayat itu, ia pun mesti sedia ditanyai polisi berjam-jam lamanya sebagai saksi. Alih-alih jika kurang beruntung Ira mungkin dapat jadi tersangka. Tapi Polisi telah mengerti persoalan kosan itu sejak lama. Terlalu sering orang mati di sana. Kasusnya selalu sama. Perempuan tidak jelas, cantik, dan dikenal nakal. Pasti selalu mati dengan cara yang unik: gantung diri, over dosis, terjatuh, yang paling aneh adalah tersetrum. Cerita itu didengar Ira dari polisi muda brengsek yang mewawancarainya, yang di akhir wawancara ia berkata, “Mba juga cantik. Hati-hati aja ya. Hehe” Polisi itu beberapa kali membenarkan resleting celananya. “Nanti waktu Bu Haji Bayar perkaranya, aku mau tuker tambah aja sama kamu. Hihi.” Ira pergi dengan wajah yang kurang bersahabat, seolah tanpa diberitahu, ia menganggap introgasi polisi telah selesai.

Kasus selalu ditutup dengan tuduhan kecelakaan. Ibu kos kebetulan sedang pergi berlibur ke Singapura saat kejadian itu terjadi. Tetapi se[erti yang dituturkan polisi itu, kasus-kasus semacam ini Ibu Kos dengan membayar perkara. Seminggu berlalu. Kasus itu menjadi angin lalu. Dan Ibu kos pun telah nampak lagi batang hidungnya. Siang tadi ia sempat berpapasan dengan Ira sebelum ia berangkat kuliah siang. “Kuliah Neng?” pertanyaan itu tak pernah Ira jawab dengan bahasa. Hanya menganggukan kepala dan tersenyum. Ia tak berani lagi mengobrol panjang dengan ibu kos setelah segala yang diceritakan Dina padanya. “Hati-hati di jalan!” suara itu selalu terdengar setelah ia berjalan cukup jauh dari kosan.

*

Kepulangan Ibu kos tadi pagi mengingatkan Ira pada Dina dan kematiannya. Membuatnya yang sudah berkeringat sebab berlari-lari dari sosok seram di kampus tadi jadi terserang dingin berlebihan. Langkahnya dipercepat pada gang gelap yang ia mesti lalui untuk sampai ke pintu gerbang kosannya.  Di gang itu segalanya sangat sepi dan jadi nampak mencekam. Betapa ingatan selalu mampu membawa pemiliknya pada kengerian-kengerian yang menyebalkan.

Sampailah Ira di pintu gerbang, ia mencoba bersikap tenang saat membuka gerbang yang terkunci. Dicarinya kunci yang tepat, dicarinya lubang kunci, dicobanya beberapa kali kunci yang salah, dan setelah terbuka, ia mesti menutupnya lagi tanpa mengeluarkan suara. Kosan itu nampak sangat sepi dari biasanya. Para penghuni kos lantai satu sudah berada di dalam kosannya dengan lampu kamar dimatikan. Ada satu kamar masih menyalakan lampu, seingat Ira nama penghuninya Jaki. Sayup-sayup terdengar musik sendu dari dalam kamarnya. Ira sedikit tenang melihat itu, meski masih juga jantungnya berdegup tak karuan.

Terutama saat melihat rumah ibu kos yang untungnya lampu dalam rumahnya telah dimatikan. Hanya nampak pintu yang selalu digunakan Ibu Kos untuk keluar mengontrol kosannya begitu remang dan dingin. Ira selalu bergidik melihat pintu itu. Sampailah ia pada tangga. Di dekatnya beton besi yang hangus mencuri perhatiannya. Besi bekas celaka itu memang selalu membuatnya ngeri. Kini kengerian itu sedikit berkurang sebab bentuk besinya telah hangus dan bayangan darah dengan kepala yang melotot tertancap di atasnya pun sedikir-demi sedikit terlupakan. Bulu kuduk Ira berdiri membayangkan hal itu. Membuatnya melihat kembali rumah Ibu kos di ujung kosan, dan di sana Ibu kos sedang berdiri dan tersenyum kepadanya.

***

 

 

 

 

 

3 Comments
  1. Moeslim 3 tahun ago

    Nomor, Jul, bukan nomer. Aku baru baca sampai kata itu.

  2. Author
    Zulfa Nasrulloh 3 tahun ago

    Aduh maaf.. Lanjut mas, dah diganti.. thanks koreksi karenanya.. Lanjut baca lanjut kritik.. Hihi

  3. Dian Hartati 3 tahun ago

    Ditunggu lanjutannya.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© ASAS - 2018

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account